
Radja Nainggolan kembali mengenang perjalanan kariernya bersama Roma dan Inter menjelang pertemuan kedua klub di pekan ke-5 Serie A 2026-27.
Mantan gelandang asal Belgia tersebut menilai duel di antara dua mantan klubnya bakal berlangsung sengit, tetapi ia tetap memberikan keunggulan kepada Nerazzurri dari sisi kualitas skuad.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Nainggolan juga berbicara mengenai masa-masa terbaiknya di Roma, kepindahannya ke Inter pada 2018, hingga hubungan dengan Luciano Spalletti dan Antonio Conte.
Nainggolan Klaim Masih Bisa Bermain di Roma dan Inter
Nainggolan ditanya apakah versi terbaik dirinya masih mampu mendapatkan tempat di skuad Roma dan Inter saat ini.
Jawabannya cukup tegas. Ia percaya dirinya masih memiliki kualitas untuk bermain bagi kedua klub, terutama sebagai trequartista atau mezzala.
“Menurut saya iya, sejujurnya. Saya rasa saya akan menemukan tempat, sebagai trequartista atau mezzala,” ujar Nainggolan kepada La Gazzetta dello Sport.
Pernyataan tersebut menggambarkan kepercayaan diri Nainggolan terhadap kemampuan yang dimilikinya pada masa terbaik kariernya.
Saat berada di puncak performa, Nainggolan memang dikenal sebagai gelandang yang memiliki kemampuan menyerang, agresivitas, stamina, serta kemampuan mencetak gol dari lini kedua.
Inter Dinilai Lebih Kuat dari Roma
Mengenai pertandingan Roma vs Inter, Nainggolan memperkirakan duel tersebut bakal menjadi pertandingan yang menarik sekaligus keras.
Kedua tim dinilainya memiliki pendekatan sepak bola yang proaktif.
“Pertandingan yang bagus, keras, antara dua tim yang menyukai sepak bola proaktif,” lanjut Nainggolan.
Namun, untuk urusan kualitas skuad, ia memberikan penilaian lebih tinggi kepada Inter.
“Inter tetap lebih kuat, tidak memiliki rival dalam hal skuad di Italia, tetapi Roma telah mencapai stabilitas dan identitasnya sendiri bersama Gasperini,”
Penilaian tersebut sekaligus menunjukkan adanya perbedaan antara kualitas materi pemain dan perkembangan permainan Roma di bawah Gian Piero Gasperini.
Menurut Nainggolan, Roma kini memiliki identitas yang lebih jelas. Karena itu, ia tidak menutup kemungkinan terjadinya hasil berbeda dari prediksi berdasarkan kualitas skuad.
Nainggolan Berharap Roma Menang
Meski pernah memperkuat Inter, Nainggolan mengakui bahwa dukungannya dalam pertandingan kali ini akan diberikan kepada Roma.
Alasannya sederhana: hubungan emosionalnya dengan ibu kota Italia masih sangat kuat.
“Saya berharap begitu karena saya mendukung Roma. Itu normal,” ujarnya.
Nainggolan bahkan menegaskan bahwa Roma merupakan klub tempat dirinya merasa mampu menunjukkan kemampuan terbaik.
“Di Roma saya meninggalkan hati, dengan segala hormat kepada Inter: Roma adalah tempat saya bisa mengekspresikan diri secara maksimal. Saya tidak akan pernah pergi,” tuturnya.
Nainggolan memperkuat Roma dari 2014 hingga 2018 setelah sebelumnya bermain untuk Cagliari. Bersama Giallorossi, ia berkembang menjadi salah satu gelandang penting di Serie A dan memainkan peran besar dalam perjalanan Roma hingga semifinal Liga Champions 2017/18.
Kisah Transfer ke Inter pada 2018
Salah satu bagian paling menarik dari wawancara tersebut adalah ketika Nainggolan kembali membicarakan transfernya dari Roma ke Inter pada musim panas 2018.
Menurut sang pemain, keputusan tersebut merupakan bagian dari rencana direktur olahraga Roma saat itu, Monchi.
Nainggolan mengklaim bahwa dirinya sempat dimintai masukan mengenai aktivitas transfer Roma, sementara pada saat yang sama negosiasi mengenai kepindahannya ke Inter sudah berlangsung.
Nainggolan menyebut situasi tersebut sebagai tindakan “main dua kaki”.
Meski demikian, ia mengaku memahami alasan di balik keputusan tersebut.
“Itu merupakan keputusan Monchi, direktur olahraga, yang bermain dua kaki. Dia meminta saran kepada saya mengenai bagaimana melakukan pergerakan di bursa transfer, sementara di saat yang sama dia bernegosiasi untuk menjual saya,”
“Di satu sisi, saya memahami logikanya: dia ingin membongkar kelompok yang dibangun Walter Sabatini dan membentuk tim sesuai dengan visinya sendiri. Dia menggunakan sistem yang sama terhadap Dzeko, yang dia coba jual ke Chelsea,”
“Namun, saat itu kami baru saja mencapai semifinal Liga Champions melawan Liverpool. Kami adalah tim hebat dan merasa masih bisa berkembang. Tetapi ternyata…”
Spalletti Membawa Nainggolan ke Inter
Setelah meninggalkan Roma, Nainggolan kemudian bergabung dengan Inter.
Kepindahan tersebut tidak terlepas dari keberadaan Luciano Spalletti, pelatih yang sebelumnya pernah bekerja dengannya di Roma.
Nainggolan justru memberikan apresiasi besar kepada Spalletti.
“Saya harus berterima kasih kepadanya, karena bersamanya saya menulis halaman paling menarik dalam karier saya,” ungkapnya.
Namun, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Setelah musim pertamanya di Inter, situasi Nainggolan berubah.
Spalletti kemudian meninggalkan klub dan digantikan Antonio Conte.
Conte Langsung Tegas kepada Nainggolan
Nainggolan mengakui bahwa pergantian pelatih memberikan dampak besar terhadap posisinya di Inter.
Ia menyebut dirinya mungkin datang ke Milan dalam kondisi yang tidak sepenuhnya ideal secara fisik, tetapi menurutnya persoalan utamanya adalah perubahan rencana dari Spalletti ke Conte.
“Conte langsung mengatakan kepada saya bahwa saya bukan bagian dari proyek,” kata Nainggolan.
Menariknya, meski keputusan tersebut tidak menyenangkan baginya, Nainggolan tetap menghargai cara Conte menyampaikannya.
“Berbeda dengan Monchi, Antonio langsung kepada saya dan saya menghormati penilaiannya,”
Pernyataan tersebut memperlihatkan perbedaan pengalaman Nainggolan dengan dua sosok penting dalam perjalanan kariernya di Roma dan Inter.

Leave a Reply