Gazzetta Kritik Lini Tengah Inter pada Babak Pertama Lawan Roma: Jones Kehilangan Arah

Inter Milan memang berhasil bangkit dan mencuri Satu poin dari markas AS Roma pada pekan ke-5 Serie A 2026-27, tetapi penampilan mereka pada babak pertama mendapat sorotan tajam.

Nerazzurri tertinggal 0-2 sebelum akhirnya Lautaro Martinez mencetak dua gol untuk mengamankan hasil imbang 2-2 di Olimpico.

Bagi La Gazzetta dello Sport, babak pertama Inter merupakan periode yang sebaiknya segera dilupakan. Berbeda dengan respons pada babak kedua yang menunjukkan karakter tim besar, Inter justru kesulitan mengembangkan permainan selama 45 menit pertama.

Sorotan utama diarahkan kepada lini tengah Nerazzurri yang dianggap tidak mampu mengimbangi intensitas Roma.

Gazzetta Kritik Lini Tengah Inter

Dalam analisisnya, Gazzetta dello Sport menggambarkan Inter yang kesulitan menemukan bentuk permainan pada babak pertama.

“Inter tidak bermain maksimal. Lini tengah seperti gurun,” tulis Gazzetta.

Roma mampu menguasai area tengah dan membuat Inter kesulitan membangun serangan.

Para pemain Giallorossi juga berulang kali menemukan celah di antara lini, sementara tekanan tinggi yang diberikan membuat Nerazzurri tidak leluasa mengembangkan permainan.

Kondisi tersebut membuat Inter lebih sering mengejar bola daripada mengontrol pertandingan.

Roma kemudian memanfaatkan situasi tersebut dengan pergerakan cepat dan sirkulasi bola yang membuat lini tengah Inter terlihat kesulitan mengimbangi permainan tuan rumah.

Curtis Jones Jadi Sorotan

Salah satu pemain yang mendapat sorotan khusus adalah Curtis Jones.

Gazzetta menggambarkan gelandang asal Inggris tersebut seolah-olah “berkelana” di lapangan tanpa menemukan posisi yang tepat.

Kritik tersebut menggambarkan bagaimana Jones kesulitan memberikan pengaruh terhadap permainan Inter pada babak pertama. Ia tidak mampu membantu Nerazzurri mendapatkan kendali di lini tengah ketika Roma meningkatkan tekanan.

Bersama Jones, Andy Diouf dan Piotr Zielinski juga disebut kesulitan mengikuti ritme pertandingan.

Ketiganya tidak mendapatkan ruang dan waktu yang cukup untuk mengembangkan permainan karena Roma tampil agresif dalam menekan.

“Jones tampak kebingungan seolah-olah kehilangan kunci rumah di atas rumput. Diouf dan Zielinski kesulitan bergerak,” lanjut analisis Gazzetta.

Roma Menang dalam Intensitas

Masalah Inter bukan hanya soal penguasaan bola, tetapi juga bagaimana kedua tim merespons situasi ketika kehilangan bola.

Roma tampil agresif dan terus menekan. Para pemain Giallorossi mampu bergerak di antara lini sehingga struktur pertahanan Inter beberapa kali terbuka.

Gazzetta menilai Roma “berlari, sementara Inter mengejar”, sebuah gambaran yang menunjukkan perbedaan intensitas kedua tim pada babak pertama.

“Roma berlari, sementara Inter hanya mengejar karena para pemain Giallorossi terus menemukan celah di antara lini dan melakukan pressing dengan sangat agresif,”

Bagi Inter, kondisi tersebut menjadi masalah besar karena mereka tidak bisa mengontrol tempo pertandingan.

Roma bahkan mampu menciptakan sejumlah situasi berbahaya sebelum pertandingan memasuki setengah jam pertama.

Inter Mulai Bangkit Menjelang Jeda

Inter baru mulai menunjukkan perbaikan ketika Roma mulai mengurangi intensitas dan mengambil napas setelah hampir setengah jam pertandingan.

Pada periode tersebut, Nerazzurri perlahan mampu naik lebih tinggi dan mulai memberikan ancaman ke pertahanan tuan rumah.

“Sandrino pasti setuju: ‘Sang Penyihir pernah mengatakan: taca la bala.’ Baru ketika mendekati menit ke-30, saat Roma mulai mengambil napas, Nerazzurri sedikit demi sedikit mulai bangkit,”

Beberapa peluang kemudian tercipta.

Yann Bisseck mendapatkan kesempatan untuk mencetak gol, sementara Lautaro juga memiliki peluang setelah menerima dukungan dari Federico Dimarco.

Bastoni bahkan hampir mencetak gol ketika tendangannya hanya mengenai bagian luar tiang gawang.

“Bisseck dan Lautaro, yang mendapat umpan dari Dimarco, gagal memanfaatkan peluang; Bastoni bahkan membuat bola membentur sisi luar tiang gawang,”

Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama.

Roma Kembali Menghukum Inter

Ketika Inter mulai menemukan permainan, Roma kembali memberikan tekanan.

Pada menit ke-37, tuan rumah mencetak gol kedua melalui Manu Koné.

“Hal itu cukup untuk kembali mendorong Roma ke depan hingga mereka mencetak gol kedua pada menit ke-37,”

Proses gol tersebut kembali memperlihatkan persoalan pertahanan Inter. Koné mendapatkan ruang dan kembali berada dalam posisi yang menguntungkan setelah rangkaian permainan yang melibatkan Paulo Dybala.

Gol sempat dianulir karena hakim garis mengangkat bendera offside. Namun, setelah pemeriksaan VAR, posisi Koné dinyatakan tidak offside sehingga gol tersebut tetap disahkan.

Roma pun memasuki ruang ganti dengan keunggulan 2-0.

Babak Kedua Menunjukkan Wajah Berbeda

Meski Gazzetta memberikan kritik keras terhadap babak pertama Inter, pertandingan kemudian memperlihatkan perubahan besar setelah jeda.

Inter meningkatkan intensitas, memperbaiki sikap bermain, dan mulai memberikan tekanan kepada Roma.

Lautaro Martinez kemudian menjadi bintang utama dalam kebangkitan tersebut. Kapten Inter itu mencetak Dua gol pada babak kedua untuk menghapus defisit Dua gol.

Perubahan itu juga sejalan dengan pengakuan Cristian Chivu dan para pemain Inter setelah pertandingan bahwa mereka harus memperbaiki pendekatan dan sikap setelah babak pertama yang buruk.

Masalah Babak Pertama Jadi Pekerjaan Rumah Inter

Hasil 2-2 membuat Inter tetap mendapatkan poin dari pertandingan sulit di Olimpico. Namun, performa 45 menit pertama menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

Inter terlalu sering kehilangan kendali di lini tengah dan memberikan Roma kesempatan untuk memainkan bola di antara lini.

Di sisi lain, respons pada babak kedua memperlihatkan bahwa Inter memiliki kemampuan untuk mengubah jalannya pertandingan ketika mampu meningkatkan intensitas dan kualitas permainan.

Tantangannya kini adalah memastikan reaksi seperti itu tidak selalu harus muncul setelah tertinggal dua gol.

Comeback melawan Roma menunjukkan karakter Inter, tetapi sorotan Gazzetta terhadap babak pertama menjadi pengingat bahwa Nerazzurri harus menemukan konsistensi sejak menit awal.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*