
Cristian Chivu menuntut perubahan dari Inter Milan. Setelah menjalani total Empat pertandingan pada awal musim, pelatih Nerazzurri menilai masih ada pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan, terutama terkait konsentrasi dan organisasi pertahanan.
Inter memang mengawali perjalanan di Serie A dengan ambisi mempertahankan Scudetto. Namun, performa lini belakang belum sepenuhnya meyakinkan. Dalam empat pertandingan awal (3 Laga Serie A dan 1 Liga Champions), Nerazzurri sudah kebobolan Lima gol dan hanya sekali mencatatkan clean sheet.
Situasi tersebut menjadi perhatian Chivu sebelum Inter kembali berlaga di Serie A menghadapi Udinese di San Siro.
Menurut Corriere dello Sport, pertandingan melawan Udinese merupakan laga yang harus dihadapi dengan kewaspadaan tinggi.
Lima Gol Kebobolan Jadi Alarm untuk Chivu
Target Inter tetap jelas: mempertahankan rekor sempurna dan terus berada di puncak klasemen Serie A. Namun, untuk mewujudkannya, Chivu membutuhkan peningkatan signifikan dalam fase bertahan.
Lima gol yang bersarang di gawang Inter Dalam Empat pertandingan bukan hanya persoalan jumlah. Cara gol-gol tersebut terjadi juga menjadi perhatian.
Beberapa di antaranya lahir setelah kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari, baik karena kurang cepat bereaksi maupun karena pengambilan keputusan yang kurang tepat ketika menghadapi tekanan lawan.
Satu-satunya clean sheet Inter sejauh ini terjadi ketika menghadapi Cagliari. Artinya, dalam tiga pertandingan lainnya, pertahanan Nerazzurri selalu memberikan celah kepada lawan.
Bagi tim yang memiliki target tinggi di Serie A dan Liga Champions, statistik tersebut jelas belum ideal.
Masalah Sudah Terlihat Sejak Laga Kontra Monza
Alarm sebenarnya sudah berbunyi sejak pertandingan pertama musim ini.
Ketika menghadapi Monza, Inter Milan sempat memberikan kesempatan kepada tuan rumah untuk mencetak gol penyama kedudukan.
Dalam situasi tersebut, Akanji menjadi salah satu pemain yang mendapat sorotan karena kesalahan yang berujung pada gol lawan.
Masalah serupa kemudian muncul ketika Inter menghadapi Napoli.
Gol pembuka yang dicetak Matteo Politano tidak lahir semata-mata karena kesalahan satu pemain. Ada rangkaian kesalahan pemain Inter di sekitar area pertahanan yang membuat Napoli mampu memanfaatkan situasi tersebut.
Kemudian datang pertandingan melawan Real Madrid di Liga Champions.
Dua gol yang bersarang ke gawang Inter di Santiago Bernabeu kembali menunjukkan bahwa tim masih memiliki persoalan dalam mengantisipasi tekanan.
Bagi Chivu, rangkaian kejadian tersebut menjadi sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Bukan Hanya Bek yang Harus Bertanggung Jawab
Menariknya, persoalan pertahanan Inter tidak bisa dibebankan hanya kepada para pemain belakang.
Corriere dello Sport menyoroti bahwa masalah tersebut berkaitan dengan fase bertahan secara keseluruhan, termasuk kontribusi lini tengah.
Ketika struktur tim tidak berjalan dengan baik, para bek dapat dengan mudah berada dalam situasi sulit. Kesalahan dalam memberikan perlindungan kepada lini belakang maupun kehilangan bola di area berbahaya bisa membuat lawan mendapatkan ruang sebelum pertahanan sempat melakukan reorganisasi.
Contohnya terlihat dari kesalahan Curtis Jones ketika menghadapi Real Madrid dan situasi yang melibatkan Nicolo Barella saat melawan Napoli.
Karena itu, Chivu menuntut perhatian lebih besar dari seluruh tim.
Pelatih asal Rumania tersebut ingin para pemain lebih tenang dan cerdas sejak fase awal permainan, terutama ketika Inter sedang membangun serangan sekaligus menghadapi tekanan dari lawan.
Chivu Ingin Inter Lebih Kompak
Perubahan yang diinginkan Chivu bukan sekadar mengganti pemain di lini belakang.
Inter membutuhkan kerja sama seluruh tim untuk memperbaiki masalah tersebut.
Garis pertahanan harus mendapatkan perlindungan lebih baik dari lini tengah. Para pemain depan juga dituntut memberikan tekanan yang tepat agar lawan tidak terlalu mudah membangun serangan.
Pada saat yang sama, Chivu harus membantu Josep Martinez melewati periode sulit setelah kesalahan yang dilakukan sang kiper di Bernabeu.
Dukungan dari rekan-rekannya akan sangat penting agar Martinez tidak kehilangan kepercayaan diri.
Ada faktor lain yang turut memengaruhi kondisi pertahanan Inter musim ini.
Nerazzurri tidak lagi memiliki beberapa pemain berpengalaman yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari struktur pertahanan tim, seperti Francesco Acerbi, Matteo Darmian, Yann Sommer, dan Stefan de Vrij.
Para pemain tersebut telah memainkan begitu banyak pertandingan bersama sehingga mekanisme bertahan sudah terbentuk secara otomatis.
Kini, Inter harus membangun kembali chemistry dengan kombinasi pemain lama dan pemain baru.
Kehadiran pemain-pemain anyar membuat proses adaptasi menjadi salah satu tantangan Chivu. Semakin cepat mereka memahami karakter dan pergerakan satu sama lain, semakin solid pula struktur permainan Inter.
Udinese Jadi Ujian Penting
Karena itu, pertandingan melawan Udinese memiliki arti lebih besar daripada sekadar tiga poin.
Inter membutuhkan kemenangan untuk menjaga momentum sekaligus membuktikan bahwa mereka mampu memperbaiki kelemahan yang terlihat dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Secara historis, perburuan Scudetto tidak hanya ditentukan oleh seberapa produktif sebuah tim mencetak gol. Konsistensi pertahanan juga menjadi salah satu fondasi utama dalam perjalanan menuju gelar juara.
Musim lalu menjadi contoh bagi Inter. Nerazzurri memang berhasil menjadi juara, tetapi mereka kebobolan 35 gol dalam 38 pertandingan, atau hampir satu gol per laga.
Catatan tersebut menjadi aspek yang harus diperbaiki jika Inter ingin tampil lebih meyakinkan musim ini.
Menuju Empat Kemenangan Beruntun Serie A
Kemenangan atas Udinese juga akan membawa Inter memulai Serie A dengan empat kemenangan beruntun.
Catatan tersebut terakhir kali berhasil diraih pada musim 2023/24, musim ketika Nerazzurri akhirnya mengamankan Scudetto dan meraih bintang kedua.
Namun, tantangan setelah Udinese akan semakin berat.
Pada pertandingan berikutnya, Inter akan menghadapi Roma. Giallorossi memiliki kualitas ofensif yang dapat menguji kembali kemampuan Nerazzurri dalam mengorganisasi pertahanan.
Karena itu, duel kontra Udinese dapat menjadi semacam tes awal bagi ambisi Inter.
Chivu membutuhkan respons nyata, bukan sekadar janji perbaikan.
Saatnya Inter Ganti Gigi
Pesan Chivu sebenarnya sederhana: Inter harus lebih perhatian, lebih tenang dan lebih kompak.
Kesalahan kecil mungkin masih bisa ditoleransi pada awal musim, tetapi jika terus berulang, dampaknya bisa sangat besar ketika menghadapi lawan dengan kualitas lebih tinggi.
Liga Champions juga menuntut standar berbeda. Setelah kekalahan dari Real Madrid pada laga pembuka, Inter membutuhkan peningkatan sebelum kembali menjalani pertandingan Eropa pada Oktober.
Karena itu, laga melawan Udinese menjadi kesempatan bagi Chivu untuk menunjukkan bahwa Inter benar-benar mampu berganti gaya dan meningkatkan level pertahanannya.
Serangan mungkin bisa memenangkan sebuah pertandingan, tetapi konsistensi pertahananlah yang sering kali menentukan siapa yang bertahan paling lama dalam perburuan Scudetto.
Bagi Inter, perubahan itu harus dimulai dari sekarang.

Leave a Reply