
Inter Milan kembali menunjukkan kekuatan lini serangnya saat menghancurkan Udinese 5-3 di San Siro dalam laga pekan ke-4 Serie A 2026-27.
Menariknya, kemenangan tersebut diraih tanpa kehadiran kapten sekaligus penyerang utama mereka, Lautaro Martinez.
Untuk pertama kalinya musim ini, Lautaro harus menyaksikan pertandingan selama 90 menit penuh dari bangku cadangan.
Cristian Chivu secara mengejutkan memilih mengistirahatkan sang kapten, tetapi keputusan tersebut justru memberikan satu kesimpulan penting: Inter ternyata tetap bisa hidup dan mencetak banyak gol tanpa Lautaro.
Namun, ada sisi lain yang mulai membuat situasi ini sedikit mengkhawatirkan.
Untuk Pertama Kalinya Lautaro Tak Bermain 90 Menit
Lautaro Martinez selalu menjadi figur sentral dalam lini depan Inter. Kehadirannya hampir selalu dianggap penting, terutama ketika Nerazzurri membutuhkan gol atau harus keluar dari situasi sulit.
Tetapi melawan Udinese, Chivu memutuskan mengambil risiko.
Lautaro tidak dimainkan sama sekali.
Keputusan tersebut sebenarnya sudah masuk akal mengingat Inter baru saja menghadapi Real Madrid di Liga Champions dan setelah pertandingan melawan Udinese harus menghadapi AS Roma. Chivu membutuhkan kondisi terbaik kaptennya untuk pertandingan penting berikutnya.
Yang menarik, tanpa Lautaro, lini depan Inter justru tetap produktif.
Marcus Thuram mencetak gol, Francesco Pio Esposito kembali menemukan sasaran, sementara Ange-Yoan Bonny juga ikut mencatatkan namanya di papan skor.
Seolah menjawab anggapan bahwa Inter akan kesulitan tanpa sang kapten.
Inter Tak Bergantung pada Lautaro untuk Cetak Gol
La Gazzetta dello Sport menyoroti bagaimana Lautaro akhirnya bisa melakukan sesuatu yang sangat jarang terjadi: hanya duduk di pinggir lapangan dan menyaksikan rekan-rekannya bermain. Selama ini, ada anggapan bahwa tanpa Lautaro, kehidupan di lini depan Inter akan jauh lebih sulit.
Pertandingan melawan Udinese memberikan jawaban berbeda.
Chivu memang kehilangan salah satu pemain terpentingnya, tetapi ia masih memiliki banyak senjata ofensif. Thuram, Pio Esposito, dan Bonny mampu memberikan kontribusi ketika kesempatan datang.
Bahkan, ketiganya menunjukkan karakter berbeda.
Thuram terus menemukan kembali ketajamannya setelah proses pemulihan kondisi fisik pasca-Piala Dunia Antarklub. Pio Esposito mulai mendapatkan kepercayaan sebagai penyerang utama, sementara Bonny membuktikan bahwa dirinya mampu memberikan dampak meski masuk dari bangku cadangan.
ThuLa Bukan Satu-Satunya Jawaban
Thuram mencetak gol keduanya secara beruntun di Serie A setelah sebelumnya menyelamatkan Inter dalam pertandingan melawan Napoli.
Kondisi tersebut menjadi kabar positif bagi Chivu.
Jika Thuram kembali ke performa terbaiknya, Inter memiliki penyerang yang mampu menciptakan ancaman besar bahkan ketika Lautaro tidak berada di lapangan.
Pio Esposito juga semakin menarik perhatian.
Striker muda tersebut kembali dipercaya menjadi starter setelah sebelumnya duduk di bangku cadangan ketika menghadapi Real Madrid. Dalam pertandingan melawan Napoli, ia bahkan ditarik keluar pada babak pertama.
Namun, respons Pio di San Siro sangat positif.
Ia mencetak gol dan kembali menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadi alternatif serius di lini depan Inter. Kemudian ada Bonny.
Penyerang asal Prancis itu turut mencetak gol dalam pesta lima gol Inter. Menariknya, situasi tersebut mengingatkan pada pertandingan Inter melawan Roma musim lalu.
Saat itu, bukan duet Lautaro-Thuram maupun Pio Esposito yang menjadi penentu kemenangan, melainkan Bonny.
Artinya, Chivu kini memiliki semakin banyak opsi untuk mengubah pertandingan.
Tapi Ada Kebiasaan Baru yang Mulai Mengkhawatirkan
Di balik produktivitas luar biasa tersebut, ada satu pola yang mulai terlihat.
Inter seperti membutuhkan situasi sulit terlebih dahulu sebelum benar-benar menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Melawan Udinese, Inter tertinggal 0-2.
Melawan Napoli sebelumnya, mereka juga sempat berada dalam situasi tertinggal Dua gol.
Namun dalam kedua pertandingan tersebut, Inter justru bangkit dengan respons luar biasa.
Bahkan, kemenangan atas Udinese menciptakan rekor bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Inter, mereka memenangkan dua pertandingan Serie A secara beruntun setelah tertinggal minimal Dua gol.
Catatan tersebut memang luar biasa. Tetapi pada saat yang sama, pola seperti ini tidak bisa terus dibiarkan.
Seolah Harus Terpojok untuk Bangkit
Ada kesan bahwa para pemain Chivu baru benar-benar mengeluarkan seluruh energi ketika mereka merasa berada di ambang kekalahan.
Ketika tertinggal dua gol, Inter bermain lebih agresif, lebih cepat, lebih berani dan lebih tajam.
Masalahnya, mengapa intensitas tersebut tidak muncul sejak menit pertama?
Melawan Udinese, Inter membutuhkan sekitar 20 menit untuk benar-benar masuk ke dalam pertandingan. Sebelum itu, mereka terlihat pasif dan kehilangan kendali.
Inilah yang harus menjadi perhatian Chivu.
Comeback memang memperlihatkan mentalitas juara. Namun, terlalu sering memberikan keuntungan kepada lawan juga bisa menjadi kebiasaan berbahaya.
Tidak setiap lawan akan membiarkan Inter bangkit.
Tidak setiap pertandingan akan memberikan waktu bagi Nerazzurri untuk memperbaiki kesalahan.
Chivu Mendapat Kabar Baik dari Lini Depan
Terlepas dari persoalan tersebut, ada hal positif yang bisa dibawa Chivu dari pertandingan melawan Udinese.
Yang paling penting adalah kedalaman lini serang.
Inter mampu mencetak lima gol meskipun Lautaro tidak bermain sama sekali. Thuram semakin tajam, Pio Esposito menunjukkan perkembangan, dan Bonny membuktikan dirinya bisa menjadi pembeda.
Ini adalah situasi ideal bagi Chivu.
Musim panjang membutuhkan lebih dari sekadar sebelas pemain utama. Cedera, kelelahan, rotasi, jadwal Liga Champions, hingga kebutuhan menjaga kondisi pemain akan membuat setiap anggota skuad memiliki peran.
Karena itu, keberhasilan Inter menang tanpa Lautaro merupakan sinyal yang sangat positif.

Leave a Reply