Iddrissou Ungkap Sosok yang Jadi Inspirasi dan Bek Inter yang Sulit Ditaklukkan

Jamal Iddrissou menjadi salah satu nama muda yang menarik perhatian di lingkungan Inter Milan. Penyerang kelahiran Brescia tersebut kini tengah berusaha menegaskan dirinya bersama Inter U-23 setelah melewati perjalanan panjang di akademi Nerazzurri.

Lahir pada 22 September 2007, Iddrissou sudah mengenal sepak bola sejak usia sangat dini.

Ia memulai langkahnya di Sant’Andrea, klub amatir di Concesio, wilayah tempat dirinya tumbuh. Pada usia enam tahun, Iddrissou mulai bermain secara rutin dan perlahan membangun mimpi untuk menjadikan sepak bola sebagai kehidupannya.

Mimpi tersebut semakin nyata ketika ia bergabung dengan akademi Inter pada 2017. Menariknya, Iddrissou kemudian melewati hampir seluruh jenjang pembinaan Nerazzurri, mulai dari level Pulcini hingga akhirnya mendapatkan kesempatan bermain di Serie C bersama Inter U-23.

Catatan Gol yang Menjanjikan

Perkembangan Iddrissou terlihat jelas dalam beberapa musim terakhir. Pada musim sebelumnya, sang penyerang mencatatkan 21 penampilan bersama Primavera dan berhasil mencetak 12 gol.

Enam gol di antaranya lahir di UEFA Youth League. Salah satu pertandingan yang paling membekas baginya adalah ketika Inter meraih kemenangan tandang atas FC Köln di hadapan sekitar 50 ribu penonton.

Iddrissou juga tampil menonjol saat menghadapi Real Betis pada babak berikutnya. Ia mencetak hat-trick yang menjadi salah satu penampilan terbaiknya di kompetisi Eropa level junior.

Namun, perjalanan Iddrissou tidak berhenti di Primavera. Ia juga mendapatkan pengalaman di level profesional setelah mencatatkan 14 penampilan bersama Inter U-23.

Debut profesionalnya terjadi pada musim lalu ketika ia masuk pada menit-menit akhir pertandingan melawan Cittadella.

“Pertandingannya sulit, tetapi saya menikmatinya,” ujar Iddrissou ketika mengenang debutnya bersama tim U-23.

Dari Lapangan Oratorio Menuju Inter

Kecintaan Iddrissou terhadap sepak bola sudah terlihat sejak kecil. Bahkan, ia masih mengingat gol pertamanya ketika bermain bersama anak-anak yang usianya lebih tua.

“Saya bermain di lapangan oratorio di Concesio, dekat Brescia, bersama teman-teman. Saya juga ingat gol pertama saya. Saat itu saya berusia empat tahun dan bermain bersama anak-anak yang lebih besar. Itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan,” kenangnya.

Menurut Iddrissou, titik penting dalam perjalanan kariernya terjadi ketika ia masuk akademi Inter.

Saat itu, ia mulai menyadari bahwa sepak bola mungkin benar-benar bisa menjadi masa depannya. Kesempatan berlatih bersama tim utama bahkan menjadi pengalaman yang sangat spesial bagi pemain muda tersebut.

“Bisa berlatih bersama tim utama adalah sebuah keistimewaan. Bagi saya, itu adalah mimpi,” katanya.

Menariknya, Iddrissou juga menyimpan kenangan khusus mengenai idolanya. Jersey pertama yang ia miliki adalah milik Diego Milito pada 2010, periode ketika penyerang asal Argentina tersebut menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Inter.

“Jersey pertama yang saya miliki adalah jersey Milito tahun 2010,”

Benny Carbone Mengubah Perannya

Dalam perkembangannya sebagai pemain, Iddrissou mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari Benny Carbone.

Mantan pemain sekaligus pelatih tersebut disebut memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan permainannya, terutama karena membantu mengubah posisi Iddrissou di lapangan.

“Saya belajar banyak dari Mister Benny Carbone. Dia mengubah posisi saya dan sangat membantu saya,” ungkapnya.

Perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan Iddrissou sebagai penyerang yang memiliki teknik dan kualitas individu.

Kini, ia mendapatkan kesempatan untuk terus berkembang di Inter U-23 sembari mengincar kesempatan lebih besar di level tim utama.

Belajar dari Pio Esposito, dan Menghadapi Bastoni

Berada di lingkungan tim utama membuat Iddrissou bisa berinteraksi dan berlatih bersama pemain-pemain senior Inter. Situasi tersebut dimanfaatkannya untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu.

Salah satu pemain yang menjadi inspirasinya adalah Pio Esposito.

Iddrissou melihat adanya kemiripan perjalanan antara dirinya dan Esposito sebagai pemain muda yang berkembang melalui sistem pembinaan Inter.

“Di tim utama saya mencoba mengambil contoh dari Pio Esposito karena dia memiliki cerita yang mirip dengan saya,” jelasnya.

Namun, ada satu pemain yang menurut Iddrissou menjadi lawan paling sulit ketika latihan: Alessandro Bastoni.

“Yang paling sulit dihadapi dalam latihan tentu Alessandro Bastoni. Dia adalah bek yang sangat kuat,” tuturnya.

Pengalaman menghadapi Bastoni secara rutin tentu menjadi modal berharga bagi Iddrissou. Duel melawan salah satu bek terbaik Inter tersebut bisa menjadi ujian sekaligus proses pembelajaran bagi penyerang muda itu.

Andalan di Timnas Italia Kelompok Umur

Selain berkembang bersama Inter, Iddrissou juga menjadi bagian penting dari tim nasional Italia kelompok umur.

Ia bahkan dipercaya memperkuat Italia di Piala Dunia U-20 2025 di Chile. Dalam turnamen tersebut, Iddrissou berhasil mencetak satu gol.

Konsistensinya bersama tim nasional junior menunjukkan bahwa perkembangan Iddrissou tidak hanya mendapatkan perhatian di level klub, tetapi juga dalam struktur sepak bola Italia.

Dengan usia yang masih sangat muda, pengalaman di kompetisi internasional tersebut menjadi bagian penting dari proses pendewasaannya sebagai pemain.

Kepribadian Positif Jadi Senjata

Ketika ditanya mengenai kualitas yang paling membantunya dalam perjalanan karier, Iddrissou tidak langsung berbicara mengenai kemampuan teknis atau kecepatan.

Ia justru menyebut kepribadiannya yang ceria sebagai salah satu kekuatan.

“Saya pikir saya adalah orang yang ceria. Saya bisa bergaul dan bersenang-senang dengan semua orang. Saya selalu berusaha menularkan energi positif,” ujarnya.

Sikap tersebut bisa menjadi modal penting bagi seorang pemain muda yang sedang berusaha menembus level profesional.

Iddrissou kini berada dalam fase penting kariernya. Setelah melewati seluruh jenjang akademi Inter dan mencicipi sepak bola profesional bersama U23, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan panggung yang lebih besar.

Inter memiliki sejarah panjang dalam melahirkan talenta dari akademinya. Bagi Iddrissou, kesempatan berada dekat dengan tim utama sekaligus belajar dari pemain seperti Pio Esposito dan Bastoni menjadi bagian dari perjalanan menuju target tersebut.

Mimpi yang dimulai dari lapangan kecil di Concesio kini perlahan membawa Jamal Iddrissou semakin dekat dengan level tertinggi sepak bola Italia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*