Kiper ketiga Inter Milan, Raffaele Di Gennaro, membagikan kisah emosional tentang perjalanan hidup dan kariernya bersama Nerazzurri.
Dalam wawancara untuk Matchday Programme jelang laga melawan Hellas Verona, Di Gennaro berbicara tentang masa kecilnya, idolanya, hingga arti Inter dalam hidupnya.
Awal Mula Jadi Kiper karena Keluarga
Di Gennaro mengungkapkan bahwa kecintaannya pada sepak bola berasal dari keluarga. Ayah dan kakaknya sama-sama bermain sepak bola sebagai penyerang.
Namun sejak kecil, ia justru lebih senang menangkap bola dengan tangan setiap kali bermain bersama mereka. Dari situlah perjalanan sebagai penjaga gawang dimulai.
Ia memulai karier di oratorio kecil di Saronno sebelum akhirnya bergabung dengan akademi Inter Milan saat berusia 9 tahun.
Julion Cesar Jadi Idola Masa Kecil
Saat berbicara tentang sosok panutan, Di Gennaro langsung menyebut Julio Cesar sebagai idolanya.
Bahkan, ia mengenakan nomor punggung 12 sebagai bentuk penghormatan kepada legenda asal Brasil tersebut.
Tak hanya itu, Di Gennaro juga mengaku pernah merasakan momen luar biasa saat mendapat kesempatan berlatih bersama Julio Cesar ketika masih bermain di level Primavera Inter.
“Julio Cesar adalah idola saya, saya memakai nomor 12 untuk menghormatinya. Saat masih bermain di tim Primavera, saya juga mendapat kehormatan untuk berlatih bersamanya, dan itu luar biasa,” ujarnya.
Selain Julio Cesar, ia juga sangat mengagumi Samir Handanović.
“Saya juga sangat mengagumi Samir Handanovic. Ketika bersama Cittadella saya menghadapi Inter di Coppa Italia tahun 2013, saya langsung ingin bertukar jersey dengannya,”
Pelajaran Terbesar: Jangan Pernah Menyerah
Perjalanan karier Di Gennaro tidak selalu mudah. Ia sempat melewati berbagai masa sulit, termasuk perjalanan panjang di klub-klub lain sebelum kembali ke Inter.
Namun, pengalaman itu justru memberinya satu pelajaran penting: arti pengorbanan dan mental pantang menyerah.
Menurutnya, setiap pelatih dan rekan setim di akademi Inter membantu membentuk karakter dan mentalitasnya hingga menjadi pemain profesional.
“Di akademi muda, setiap tahun kamu belajar sesuatu: setiap pelatih dan setiap rekan setim membantu kamu berkembang, sampai akhirnya memiliki bekal pengalaman pribadi yang sangat penting,”
“Namun, hal terpenting yang saya pelajari adalah nilai pengorbanan dan keinginan untuk tidak pernah menyerah serta selalu memberikan segalanya,”
“Saya pernah melewati masa-masa sulit dalam karier, tetapi setiap tahun saya selalu bangkit kembali dengan tekad yang kuat,”
Inter Milan Bukan Sekadar Klub
Bagian paling emosional dari wawancara tersebut muncul ketika Di Gennaro berbicara tentang Inter Milan.
Ia menegaskan bahwa Inter bukan hanya tempat bekerja atau klub sepak bola biasa, melainkan keluarga dan rumah bagi dirinya.
Sebagai penggemar Inter sejak kecil yang kemudian tumbuh di akademi Nerazzurri, hubungan emosionalnya dengan klub sangat mendalam.
“Bagi saya, Inter seperti keluarga, di sini saya merasa seperti di rumah. Sejak kecil saya mendukung Inter, lalu saya masuk ke akademi muda Nerazzurri dan tumbuh di sini. Sulit dijelaskan seberapa penting Inter dalam hidup saya.”
Perjalanan Loyalitas yang Jarang Terlihat
Di era sepak bola modern yang penuh perpindahan pemain, kisah Di Gennaro menjadi contoh loyalitas yang semakin langka.
Meski lebih sering berstatus pelapis, ia tetap menunjukkan kecintaan besar kepada klub dan menerima perannya dengan profesionalisme tinggi.

Leave a Reply