
Hakan Calhanoglu menjadi sosok utama dalam Matchday Programme Inter vs Napoli, pertandingan yang menjadi big match pertama Nerazzurri pada musim Serie A 2026/27.
Gelandang asal Turki tersebut berbicara panjang mengenai perjalanan kariernya, mulai dari masa kecil di Jerman, langkah pertamanya sebagai pesepak bola profesional, hingga berbagai pengalaman yang membentuk dirinya menjadi salah satu pemain penting Inter Milan.
Namun, dari sekian banyak kenangan yang dimilikinya, ada satu momen yang menurut Calhanoglu tidak mungkin terlupakan, yakni ketika Inter memastikan bintang Kedua (Scudetto ke-20) setelah mengalahkan AC Milan dalam Derby della Madonnina pada musim 2023-24.
Calhanoglu Memulai Perjalanan di Jerman
Calhanoglu lahir di Mannheim, Jerman. Di kota tersebut, ia mulai mengenal sepak bola dan mengambil langkah pertamanya untuk mengejar impian menjadi pemain profesional.
Ia bergabung dengan Waldhof Mannheim ketika masih berusia sangat muda. Bahkan, di klub tersebut Calhanoglu mencetak gol pertamanya saat baru berusia tujuh tahun.
Perjalanan tersebut menjadi fondasi dari karier panjang yang kemudian membawanya ke sejumlah klub besar Eropa.
“Di sanalah saya mengambil langkah pertama di dunia sepak bola,” kenang Calhanoglu mengenai masa kecilnya.
Dari lingkungan sepak bola lokal di Mannheim, kariernya kemudian berkembang secara bertahap hingga mendapatkan kesempatan bermain di level profesional.
Karlsruher hingga Leverkusen Membentuk Karakternya
Salah satu momen penting dalam perjalanan Calhanoglu adalah ketika dirinya melakukan debut bersama Karlsruher.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu titik yang sangat berkesan dalam kariernya.
Namun, keyakinan bahwa dirinya benar-benar bisa menjadi pesepak bola profesional muncul ketika ia bergabung dengan Hamburg.
Dari sana, Calhanoglu kemudian melanjutkan perjalanan ke Bayer Leverkusen. Di klub Bundesliga tersebut, ia merasa mengalami perkembangan besar sebagai pemain.
Salah satu sosok yang memberikan pengaruh penting adalah pelatih Roger Schmidt.
Bersama Schmidt, Calhanoglu mendapatkan pengalaman yang menjadi langkah penting dalam perkembangan kariernya. Ia juga sempat bermain bersama salah satu pemain yang kemudian menjadi bintang dunia, Son Heung-min.
Calhanoglu menyebut Son sebagai salah satu rekan setim terbaik yang pernah dimilikinya.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang, pemain Turki tersebut mengaku bangga karena berhasil mewujudkan impian masa kecilnya.
“Ada banyak momen penting dalam perjalanan karier saya. Debut bersama Karlsruher menjadi salah satu momen yang sangat indah. Kemudian, saya mulai menyadari bahwa saya benar-benar bisa menjadi seorang pesepak bola ketika bergabung dengan Hamburg. Setelah itu, di Leverkusen saya mengambil langkah yang sangat menentukan, juga berkat pelatih Roger Schmidt. Saat itu ada Son Heung-min, salah satu rekan setim terbaik yang pernah saya miliki. Hari ini, saya bangga karena berhasil mewujudkan impian saya,” ungkap sang gelandang.
Ronaldinho dan Sneijder Jadi Inspirasi
Menariknya, pemain yang dikagumi Calhanoglu sejak kecil bukanlah gelandang dengan gaya permainan yang identik dengannya.
Saat masih kecil, Calhanoglu sangat menyukai Ronaldinho.
Baginya, mantan bintang Barcelona dan Brasil tersebut memiliki kemampuan istimewa untuk menghadirkan kebahagiaan bagi para penonton.
Namun, ketika ditanya mengenai pemain dalam sejarah Inter yang paling ia sukai, jawabannya adalah Wesley Sneijder.
Calhanoglu merasa memiliki sejumlah kesamaan dengan legenda asal Belanda tersebut.
Menurutnya, keduanya memiliki karakter permainan yang mengandalkan teknik, kemampuan melepaskan tembakan dari jarak jauh, serta akurasi.
Pilihan tersebut terasa sangat relevan mengingat Calhanoglu juga dikenal sebagai salah satu gelandang dengan kemampuan tendangan jarak jauh dan bola mati yang berbahaya.
“Ketika masih kecil, saya sangat menyukai Ronaldinho. Ia mampu memberikan kebahagiaan kepada semua orang. Di antara para pemain dalam sejarah Inter, favorit saya adalah Wesley Sneijder. Saya rasa gaya bermain kami cukup mirip: mengandalkan teknik, tembakan dari jarak jauh, dan akurasi,”
Sejak Debut, Calhanoglu Merasa Dicintai Fans Inter
Calhanoglu juga berbicara mengenai hubungannya dengan para pendukung Inter.
Sejak pertandingan pertamanya bersama Nerazzurri, ia mengaku langsung merasakan sambutan hangat dari para suporter.
Bukan hanya diterima, Calhanoglu bahkan mendapatkan sebuah lagu khusus dari para penggemar Inter.
Nyanyian tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang identik dengan keberadaannya di San Siro.
Bagi seorang pemain, dukungan seperti itu memiliki arti besar. Terlebih Calhanoglu menjalani karier di klub yang memiliki basis suporter besar dan tuntutan tinggi.
“Bersama Inter, saya memiliki begitu banyak kenangan indah. Sejak debut, saya sudah merasa diterima dan dicintai oleh para tifosi Nerazzurri. Mereka bahkan mendedikasikan sebuah nyanyian untuk saya yang membuat seluruh San Siro ikut bernyanyi,”
Scudetto di Derby Milan Jadi Momen Terindah
Dari seluruh pengalaman bersama Inter, Calhanoglu tidak membutuhkan waktu lama untuk menentukan momen favoritnya.
Meraih Scudetto Seconda Stella setelah kemenangan dalam Derby della Madonnina melawan Milan menjadi kenangan terbaiknya.
Momen tersebut memiliki makna khusus karena gelar diraih melalui pertandingan melawan rival sekota.
Inter memastikan gelar liga setelah mengalahkan Milan dalam derby. Keberhasilan tersebut sekaligus membawa Nerazzurri meraih bintang kedua di atas logo klub.
Bagi Calhanoglu, kombinasi antara gelar Scudetto, rivalitas derby, dan atmosfer San Siro membuat momen tersebut berada di level yang berbeda dibandingkan pencapaian lainnya.
“Momen paling indah? Tidak diragukan lagi: kemenangan Scudetto Seconda Stella setelah Derby Milan,”
Sudah Mencetak 52 Gol untuk Inter
Selama memperkuat Inter, Calhanoglu juga berkembang menjadi gelandang yang memiliki kontribusi besar dalam urusan mencetak gol.
Ia telah mengoleksi 52 gol bersama Nerazzurri.
Dengan jumlah tersebut, Calhanoglu memiliki banyak gol yang bisa dikenang. Namun, ketika diminta memilih gol terbaik, ia mengakui tidak mudah menentukan satu di antaranya.
Pada akhirnya, ada satu gol yang menurutnya paling istimewa.
“Saya sudah mencetak 52 gol bersama Inter dan musim ini juga dimulai dengan sangat baik. Namun, sulit untuk memilih mana yang paling indah,”
Gol Jarak Jauh ke Gawang Verona Jadi Favorit
Calhanoglu memilih gol yang dicetaknya ketika Inter menghadapi Hellas Verona pada 2023 sebagai gol terbaiknya bersama klub.
Gol tersebut lahir melalui tembakan dari jarak yang sangat jauh.
Bukan hanya jaraknya yang membuat gol tersebut istimewa, tetapi juga lintasan bola. Tembakan Calhanoglu menghasilkan efek yang luar biasa sehingga sulit dijangkau oleh penjaga gawang Verona.
Gol seperti itu menggambarkan salah satu kekuatan terbesar Calhanoglu sebagai pemain.
Kemampuan menembak dari luar kotak penalti memang menjadi salah satu ciri khas gelandang Turki tersebut. Teknik, kekuatan, dan akurasinya membuatnya mampu menciptakan ancaman bahkan ketika tidak berada dekat dengan kotak penalti.
“Saya rasa gol terbaik adalah saat menghadapi Hellas Verona pada 2023: sebuah tembakan dari jarak yang sangat jauh, dengan bola yang mendapatkan efek luar biasa sehingga tidak mampu dijangkau oleh penjaga gawang.”
Perjalanan Calhanoglu di Inter menunjukkan transformasi seorang pemain yang awalnya lebih dikenal sebagai gelandang serang menjadi sosok yang semakin matang dalam mengatur permainan.
Ia bukan hanya memberikan kontribusi melalui gol dan assist, tetapi juga memiliki peran penting dalam mengendalikan tempo pertandingan dan membantu Inter membangun serangan.
Pengalaman yang dimilikinya membuat Calhanoglu menjadi salah satu pemain senior yang penting bagi skuad Nerazzurri.
Karena itu, kisah yang ia ceritakan dalam Matchday Programme Inter vs Napoli bukan sekadar nostalgia.
Ini adalah gambaran perjalanan seorang pemain yang memulai sepak bola sejak usia tujuh tahun di Mannheim, melewati Karlsruher, Hamburg, dan Leverkusen, hingga akhirnya menemukan tempat penting di Inter.
Dari Impian Masa Kecil hingga Menjadi Idola San Siro
Calhanoglu kini berada di titik yang jauh dari awal perjalanannya.
Dulu, ia hanyalah seorang anak berusia tujuh tahun yang mencetak gol pertamanya bersama Waldhof Mannheim. Kini, ia menjadi salah satu pemain senior Inter yang namanya dinyanyikan oleh ribuan suporter di San Siro.
Ia pernah mengagumi Ronaldinho dan menjadikan Sneijder sebagai pemain Inter favoritnya. Sekarang, Calhanoglu sendiri telah menciptakan bagian dari sejarahnya bersama Nerazzurri.
Dan dari semua kenangan tersebut, Scudetto Seconda Stella setelah Derby Milan tetap menjadi momen yang paling melekat di hati sang gelandang.
Dengan musim baru yang telah dimulai, Calhanoglu masih memiliki kesempatan untuk menambah koleksi gol, trofi, dan kenangan bersama Inter.

Leave a Reply