Pelatih Como, Cesc Fàbregas memberikan pandangan jujur usai timnya kalah dramatis 2-3 dari Inter Milan di leg kedua semifinal Coppa Italia 2025-26.
Meski sempat unggul 2-0, Como kembali gagal mempertahankan keunggulan, sebuah pola yang juga terjadi saat kedua tim bertemu di Serie A beberapa waktu lalu.
Namun alih-alih kecewa berlebihan, Fabregas justru melihat kekalahan ini sebagai bagian penting dari proses perkembangan timnya.
Comeback Inter Ubah Segalanya
Como sempat berada di atas angin berkat gol dari Martin Baturina dan Lucas Da Cunha. Namun, pengalaman Inter berbicara di momen krusial.
Dua gol dari Hakan Çalhanoğlu dan satu gol Petar Sučić membalikkan keadaan menjadi 3-2 untuk Inter.
Fabregas mengakui momen kunci terjadi saat Inter mencetak gol pertama mereka.
“Pertandingan berubah setelah gol yang membuat skor menjadi 1-2. Sebelumnya kami punya peluang untuk unggul 3-1, dan itu bisa mengubah segalanya,” ujarnya, seperti dikutip oleh Football-Italia.
Perjalanan Panjang Como: Dari Bangkrut ke Semifinal
Kisah Como bukanlah kisah biasa. Klub ini:
- Bangkrut pada 2017
- Bermain di Serie C hingga 2021
- Kini mampu bersaing di level tinggi
Bahkan, semifinal Coppa Italia musim ini menjadi pencapaian terbaik mereka sejak 1986.
“Saya tahu dari mana kami memulai dua setengah tahun lalu. Sekarang kami hampir mencapai final dan bersaing melawan Inter,” kata Fabregas.
Como Belum Setara Inter, Tapi Sudah Mendekat
Fabregas secara terbuka mengakui perbedaan kualitas antara kedua tim.
“Apakah kami berada di level yang sama dengan Inter? Tidak. Tapi kami sudah dekat,”
“Mereka bermain di final Liga Champions musim lalu, mereka adalah tim pemenang. Kami harus terus melanjutkan perjalanan kami, dan penting bagi saya untuk melihat di mana posisi kami saat ini,”
Menurutnya, perbedaan utama terletak pada:
- Pengalaman pemain
- Mentalitas juara
- Efektivitas di kedua kotak penalti
“Hanya saja kami belum cukup kuat di kedua area kotak penalti,”
Filosofi Proses: Fabregas Tidak Marah
Meski kalah setelah unggul 2-0, Fabregas menolak untuk marah.
“Jelas saya tidak senang, tetapi pada saat yang sama, dua setengah tahun lalu saya bahkan membuka gerbang tempat latihan pukul 06.30 pagi. Sekarang kami sudah sampai di sini, jadi mungkin saya akan sedikit marah jika kami tampil buruk seperti saat melawan Sassuolo pada hari Jumat, tetapi untuk malam ini saya tidak bisa marah.”

Leave a Reply