Federico Dimarco tengah menjalani musim terbaik dalam kariernya bersama Inter Milan.
Performa luar biasa sang wing-back kiri kembali terlihat saat Nerazzurri menghancurkan Sassuolo dengan skor telak 5-0 di Mapei Stadium dalam laga pekan ke-24 Serie A 2025-26, Senin (9/2/2026) dini hari WIB.
Tiga assist yang dicatatkan Dimarco membuat namanya kembali dielu-elukan sebagai salah satu pemain sayap terbaik di dunia.
Namun di tengah pujian dan label “terbaik di dunia” yang mulai disematkan kepadanya, Dimarco justru memilih merendah.
Tiga Assist, Rekor Baru Serie A
Dalam kemenangan dominan Inter atas Sassuolo, Dimarco menjadi aktor utama di balik pesta gol Nerazzurri.
Ia menyumbangkan tiga assist untuk gol-gol yang dicetak Yann Bisseck, Marcus Thuram, Lautaro Martinez, Manuel Akanji, dan Luis Henrique.
Catatan tersebut sekaligus menorehkan sejarah. Dimarco kini telah mengoleksi 11 assist di Serie A, sebuah rekor baru bagi pemain bertahan setelah 24 pertandingan dalam satu musim, melampaui rekor sebelumnya yang hanya mencapai delapan assist.
Statistik ini menegaskan betapa vitalnya peran Dimarco dalam sistem permainan Inter, terutama di bawah arahan Cristian Chivu yang memberi kebebasan besar di sektor sayap.
Menolak Label “Terbaik di Dunia”
Meski performanya terus menanjak dan kontribusinya sangat menentukan, Dimarco menolak klaim bahwa dirinya adalah wing-back terbaik di dunia saat ini.
“Saya tidak merasa jadi apa-apa,” ujar Dimarco kepada DAZN seusai pertandingan.
“Ketika kamu bermain bagus, kamu disebut fenomenal. Kalau tidak, kamu dianggap biasa saja. Begitulah sepak bola,”
Pernyataan tersebut mencerminkan mentalitas Dimarco yang tetap membumi di tengah sorotan besar. Ia sadar bahwa konsistensi dan kerja tim jauh lebih penting dibanding pengakuan individu.
Fokus ke Target Kolektif Inter
Dalam wawancara lanjutan bersama Sky Sport Italia, Dimarco kembali menegaskan bahwa prioritasnya bukanlah statistik pribadi.
“Saya pernah punya momen-momen bagus sebelumnya. Mungkin ini periode di mana saya paling menentukan dari segi angka, tapi yang paling penting adalah tim dan bagaimana kami bisa sampai bulan Mei tetap berada di puncak klasemen,” tegasnya.
Ucapan Dimarco sejalan dengan ambisi besar Inter musim ini: menjaga konsistensi, menghindari euforia berlebihan, dan menuntaskan musim dengan trofi.

Leave a Reply