Zaniolo Ungkap Faktor di Balik Kepergiannya dari Inter Milan

Gelandang serang Nicolò Zaniolo akhirnya buka suara soal salah satu momen paling menentukan dalam perjalanan kariernya: kepindahan dari Inter Milan ke AS Roma pada tahun 2018.

Dalam wawancara bersama Sportweek, mingguan milik La Gazzetta dello Sport, pemain yang kini membela Udinese tersebut mengakui bahwa dirinya memang belum siap bermain untuk klub besar seperti Inter saat masih berusia 18 tahun.

Pernyataan itu menjadi refleksi jujur dari seorang pemain yang pernah digadang-gadang sebagai salah satu talenta terbesar sepak bola Italia.

Transfer yang Mengubah Segalanya

Nama Zaniolo mulai dikenal publik ketika ia menjadi bagian dari kesepakatan transfer Radja Nainggolan ke Inter Milan. Dalam pertukaran tersebut, Zaniolo justru meninggalkan Nerazzurri menuju Roma.

Kala itu banyak pihak mempertanyakan keputusan Inter melepas pemain muda berbakat tersebut. Namun Zaniolo kini mengakui bahwa dirinya memang membutuhkan proses berkembang secara bertahap.

“Saya berusia 18 tahun dan seharusnya menjalani tahap transisi terlebih dahulu, mungkin di klub Serie B atau tim kecil Serie A, karena saya belum siap untuk klub besar seperti Inter atau Roma,” ujar Zaniolo.

Ia juga mengaku terkejut saat transfer itu benar-benar terjadi.

“Ketika pertukaran itu terjadi, saya sangat tidak percaya,”

Inter Bisa Jadi Terlalu Cepat untuk Zaniolo

Pernyataan Zaniolo menunjukkan bahwa tekanan bermain di klub sebesar Inter Milan tidak mudah untuk pemain muda.

Meski memiliki bakat besar, ia merasa mental dan pengalamannya saat itu belum cukup matang untuk langsung bersaing di level tertinggi.

Menariknya, meski akhirnya bersinar bersama Roma, perjalanan karier Zaniolo juga diwarnai pasang surut, termasuk cedera panjang yang sempat menghambat perkembangannya.

Kini bersama Udinese dan Tim Nasional Italia, Zaniolo tampak lebih dewasa dalam memandang perjalanan kariernya.

Zaniolo Puji Mourinho: “Dia Seorang Maestro”

Dalam wawancara tersebut, Zaniolo juga membahas beberapa pelatih penting yang pernah menanganinya di Roma, termasuk Eusebio Di Francesco, Claudio Ranieri, dan José Mourinho.

Untuk Di Francesco, Zaniolo menggunakan kata “visioner” karena berani memberinya debut di UEFA Champions League melawan Real Madrid saat masih sangat muda.

Ia juga memuji Roberto Mancini yang memanggilnya ke tim nasional bahkan sebelum debut di Serie A.

Sementara untuk Ranieri, Zaniolo menyebutnya sebagai legenda bagi kota Roma dan klub Roma.

Namun sosok yang paling membekas baginya adalah Mourinho.

“Mourinho adalah maestro. Sampai sekarang saya masih berhubungan dengannya.”

Zaniolo menyebut pelatih berjuluk “The Special One” itu memiliki kemampuan luar biasa membaca pertandingan bahkan sebelum laga dimulai.

“Dia seakan tahu apa yang akan terjadi sebelum pertandingan berlangsung, dan sering kali prediksinya benar.”

Masa Depan Zaniolo Masih Menarik Dinantikan

Meski kariernya sempat mengalami penurunan akibat cedera dan inkonsistensi performa, Zaniolo masih dianggap memiliki potensi besar untuk bangkit.

Di usia yang masih relatif muda (26 tahun), ia punya kesempatan untuk kembali menemukan performa terbaiknya di Serie A maupun level internasional.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*