Tuttosport: 3 Faktor Kunci Inter untuk Bangkit Lawan Bodo/Glimt

Inter Milan menghadapi misi berat: membalikkan keadaan melawan Bodo/Glimt demi mengamankan tiket ke babak 16 besar UEFA Champions League 2025-26.

Tanpa kapten sekaligus mesin gol utama, Lautaro Martinez, Nerazzurri butuh laga nyaris sempurna.

Namun seperti dilaporkan Tuttosport, ada Tiga faktor kuat yang membuat publik Inter tetap optimistis: San Siro, Chivu, dan Dimarco.

1. San Siro: Benteng Sejarah yang Sarat Remontada

Atmosfer Stadion San Siro alias atau Giuseppe Meazza bukan sekadar stadion. Ia adalah saksi berbagai remontada bersejarah Inter di kompetisi Eropa.

Beberapa di antaranya:

  • Comeback melawan Aston Villa di ajang UEFA Cup 1990/91
  • Kebangkitan kontra RC Strasbourg di Piala UEFA 1997/98
  • Kemenangan 3-0 atas Liverpool pada musim 1964/65 di European Cup

Sejarah menunjukkan bahwa Inter kerap menemukan energi ekstra saat bermain di depan tifosi sendiri. Tekanan, dukungan, dan aura magis Meazza bisa menjadi senjata utama untuk membalikkan defisit.

2. Faktor Chivu: DNA Eropa dan Mentalitas Juara

Nama Cristian Chivu menjadi faktor kedua yang disebut krusial. Chivu bukan sekadar pelatih; ia adalah bagian dari sejarah emas Inter.

Ia berada di lapangan saat Inter meraih gelar Liga Champions terakhir pada 2010. Lebih dari itu, Chivu juga terlibat dalam salah satu “eurorimonta” paling dramatis Inter pada 2011 melawan Bayern Munich.

Kala itu, Inter kalah 0-1 di Meazza, namun membalikkan situasi menjadi 3-2 di Jerman lewat gol penentu Goran Pandev di menit akhir.

Pengalaman tersebut menjadi modal psikologis penting. Chivu tahu bagaimana membangun mentalitas tim dalam situasi tertekan.

3. Federico Dimarco: Momentum Emas yang Harus Dimaksimalkan

Faktor terakhir adalah Federico Dimarco. Bek sayap kiri ini tidak bermain saat laga di Norwegia. Namun untuk leg kedua, ia siap tampil sejak menit pertama.

Statistiknya berbicara lantang: 1 gol dan 8 assist dalam 5 pertandingan terakhir Serie A.

Dimarco sedang berada dalam magic moment. Crossing akurat, tembakan jarak jauh, serta kemampuannya membaca ruang bisa menjadi kunci membongkar pertahanan rapat Bodo/Glimt.

Tanpa Lautaro: Inter Andalkan Kolektivitas Tim

Absennya Lautaro tentu menjadi kehilangan besar. Namun situasi ini bisa memicu kolektivitas tim. Inter harus mengandalkan kontribusi lini kedua dan efektivitas set-piece.

Pertanyaannya kini bukan hanya soal taktik, tetapi soal mentalitas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*