“Sindrom Remontada” Inter Milan: Mengapa Skuad Chivu Sering Tertinggal dan Bagaimana Solusinya?

Jika ada satu kata yang paling sering menggambarkan perjalanan Inter Milan musim ini (2026-27), kata itu adalah Remontada (kembali bangkit).

Di kompetisi Serie A, kemampuan Nerazzurri dalam membalikkan keadaan menjadi bukti ketangguhan mental mereka. Namun, tren selalu kebobolan lebih dulu ini menyimpan ancaman taktis serius yang berdampak kontras saat berlaga di panggung Eropa.

Mengapa anak asuh Cristian Chivu kerap membiarkan lawan mencetak gol lebih awal, dan bagaimana staf pelatih bekerja untuk menghentikan “sindrom tertinggal” ini?

Kontras Tajam: Tangguh di Serie A, Tumbang di Liga Champions

Di pentas domestik, Inter terbukti memiliki daya juang luar biasa. Sebanyak Empat kali Nerazzurri tertinggal lebih dulu dari lawan di Serie A, namun mereka berhasil mengamankan total 10 poin dari situasi sulit tersebut (3 kemenangan dan 1 hasil imbang). Kemenangan comeback 3-1 di markas Bologna menjadi bukti teranyar.

Namun, seperti yang disoroti oleh La Gazzetta dello Sport, cerita di Liga Champions sangat berbeda. Ketika berhadapan dengan klub-klub Eropa yang bermain dengan intensitas dan konsistensi lebih tinggi, penyakit tertinggal ini terbayar mahal:

  • Real Madrid dan Club Brugge: Dua laga di mana Inter kebobolan lebih awal dan akhirnya harus pulang dengan “tangan hampa” tanpa mengamankan poin.

Bedah Penyebab: Bukan Sekadar Garis Pertahanan Tinggi

Staf kepelatihan Cristian Chivu menyadari betul bahwa Enam kali situasi tertinggal musim ini tidak lahir dari satu masalah tunggal. Ini bukan hanya karena garis pertahanan yang terlalu tinggi atau start pertandingan yang loyo (avvio molle).

Beberapa pemicu utama di balik kerapuhan awal laga Inter meliputi:

  1. Kesalahan Saat Build-up: Keretakan alur bola dari lini belakang saat menghadapi pressing ketat lawan.
  2. Kerapuhan Kolektif saat Pressing Gagal: Jarang mengawal pergerakan pemain lawan dari lini kedua (inserimenti), serta merenggangnya jarak antarlini ketika pressing pertama berhasil dilewati musuh.
  3. Blunder Individual: Kesalahan fatal perorangan yang merusak skenario pertandingan, seperti yang dilakukan Luis Henrique saat kehilangan bola di awal laga melawan Bologna.

Prinsip Chivu: Ogah Ubah Taktik, Tapi Butuh “Keseimbangan”

Meskipun menghadapi kritik terkait risiko gaya bermainnya, Cristian Chivu tidak akan mengubah pendekatan dasar tim. Pelatih asal Rumania ini tetap menerima risiko bermain dengan garis pertahanan tinggi dan agresif.

Bagi Chivu, kunci perbaikannya bukanlah bertransformasi menjadi tim yang bertahan pasif, melainkan menemukan kembali keseimbangan (equilibrio):

  • Kedisiplinan Jarak Antarlini: Menjaga tim tetap rapat saat melakukan tekanan agar tidak mudah ditembus lewat serangan balik cepat.
  • Efisiensi dan Konsentrasi: Meminimalisir kesalahan perorangan di area krusial.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*