Salah Posisi atau Hilang Kualitas? Menelusuri Penurunan Performa Akanji di Inter Milan

Bek tangguh yang musim lalu berhasil menembus jajaran Team of the Year, Manuel Akanji, kini tampil seolah tak mengenali dirinya sendiri.

Bek internasional Swiss tersebut tampak kesulitan menjaga area pertahanannya, kerap terlambat menutup pergerakan lawan, hingga memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat sepak bola: Apakah Akanji lupa cara bertahan, atau ia dipaksa memainkan peran yang tidak sesuai dengan karakter alaminya?

Jawabannya sejatinya dapat terlihat di lapangan. Penurunan performa Akanji bukanlah tanpa sebab, dan melimpahkan seluruh kesalahan ke pundaknya tentu sebuah ketidakadilan.

Perubahan Posisi yang Merusak Potensi Utama

Pada awal kedatangannya, Akanji tampil luar biasa ketika ditempatkan di posisi aslinya, yakni sebagai bek tengah sisi kanan dalam pola tiga bek (right centre-back).

Namun, masalah mulai timbul ketika ia digeser ke posisi paling krusial: bek tengah sentral (central defender) untuk menggantikan peran veteran seperti Francesco Acerbi atau Stefan de Vrij.

Pergeseran ini terbukti mengekspos kelemahan Akanji saat diberi tanggung jawab sebagai komando utama pertahanan. Ketika dibebani tanggung jawab kepemimpinan dan pembacaan arah bola secara penuh, seperti yang juga terlihat dalam skema empat bek saat membela Timnas Swiss, performa Akanji cenderung menurun drastis akibat besarnya tekanan taktis.

Pelajaran dari Diego Simeone dan Cuti Romero

Situasi di Inter Milan sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Atletico Madrid.

Pelatih Los Colchoneros, Diego Simeone, secara eksplisit meminta bek berkarakter pemimpin seperti Cristian “Cuti” Romero untuk menutup celah konsentrasi di lini belakangnya.

“Cuti memiliki kepemimpinan, kekuatan, hierarki, komitmen, dan kualitas. Dia adalah potongan puzzle yang kami butuhkan untuk menaikkan level pertahanan,” puji Simeone saat menyambut kedatangan sang bek.

Simeone mengidentifikasi masalah, meminta solusi konkret, dan manajemen langsung mengabulkannya.

Sebaliknya, pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, harus ‘berdoa’ dan memutar otak untuk merawat kedalaman skuadnya. Bertahannya Benjamin Pavard memang menjaga kuantitas pemain di lini belakang, tetapi tidak menyelesaikan masalah utama: ketiadaan bek tengah sentral sejati yang tangguh dan fokus.

Masalah Cedera John Stones dan Pertahanan yang Bocor

Sebagian pihak berargumen bahwa Inter sudah berinvestasi dengan mengangkut John Stones dari Manchester City.

Namun, keputusan memboyong Stones sejak awal diiringi risiko besar mengingat rekam jejak cedera sang pemain, yang hanya mencatatkan belasan penampilan dalam dua musim terakhir.

Dampaknya kini terlihat nyata. Mantra “tidak apa-apa kebobolan karena kami bisa membalikkan keadaan” yang sempat berhasil saat melawan Napoli atau Roma, kini terbukti usang. Kekalahan dari Real Madrid dan Club Brugge menjadi bukti telanjang bahwa lini belakang Inter terlalu rapuh dan mudah ditembus.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*