Ketika Inter Milan sukses mencuri tiga poin penting kontra Lecce di Via del Mare, sorotan justru mengarah kepada satu nama: Marcus Thuram.
Di tengah absennya sang kapten Lautaro Martinez akibat cedera, publik Nerazzurri berharap lebih dari penyerang Prancis tersebut. Namun, dalam laga kontra Lecce, Thuram dinilai belum tampil dalam versi terbaiknya.
Padahal, dalam momen krusial seperti ini, Inter sangat membutuhkan sosok “Tikus” yang mampu menjadi pembeda.
Statistik Selaras, Dampak Belum Maksimal
Secara angka, produktivitas Thuram musim ini sebenarnya tidak mengecewakan. Jumlah golnya masih berada di jalur yang relatif sama dibanding dua musim sebelumnya. Artinya, secara kuantitas, ia tetap memberikan kontribusi.
Namun ada satu detail penting yang tak bisa diabaikan: minimnya gol yang benar-benar menentukan hasil akhir pertandingan.
Dalam laga terakhir, Pio Esposito tampil penuh energi, bekerja keras membuka ruang dan menahan bola. Sementara Thuram terlihat kesulitan menemukan ritme terbaiknya. Bukan kali pertama performanya dinilai kurang tajam dalam momen penting.
Tanpa Lautaro, Saatnya Thuram Naik Level
Absennya Lautaro selama beberapa pekan membuat tanggung jawab lini depan otomatis bertumpu pada bahu Thuram. Inter kini menghadapi periode krusial di Serie A dan Liga Champions, termasuk laga penentuan kontra Bodø/Glimt.
Di kompetisi Eropa, Thuram bahkan belum mencetak gol sejak pertandingan pembuka melawan Ajax, laga di mana ia mencetak dua gol lewat situasi bola mati. Fakta ini kembali menyoroti detail yang sama: efektivitasnya sering muncul dalam skema tertentu, terutama dari sepak pojok.
Inter butuh lebih dari itu.
Mereka membutuhkan Thuram yang agresif, berani mengambil risiko, dan mampu menciptakan momen individual ketika permainan buntu.
Tanpa Lautaro sebagai tandem utama, peran kepemimpinan di lini serang juga harus mulai ia ambil.
Masalah Momentum, Bukan Kualitas
Tidak ada keraguan soal kualitas Marcus Thuram. Kecepatan, kekuatan fisik, dan kemampuan duel udara masih menjadi senjata utama. Namun sepak bola level tertinggi menuntut konsistensi mental dan keberanian mengambil tanggung jawab dalam momen genting.
Di fase musim seperti sekarang, Inter tak hanya memerlukan penyerang yang mencetak gol, mereka membutuhkan pemain yang menentukan pertandingan.
Laga kontra Bodø di leg 2 play-off akan menjadi ujian besar. Jika Inter ingin membalikkan keadaan dan menjaga momentum di semua kompetisi, “Thuram yang asli” harus kembali muncul.

Leave a Reply