
Inter Milan memasuki musim Liga Champions 2026/27 dengan target yang semakin tinggi, yakni menembus Delapan besar.
Undian fase liga akan menjadi langkah pertama dalam perjalanan panjang tersebut. Dengan format baru yang melibatkan 36 klub, persaingan untuk lolos ke babak berikutnya tidak lagi sekadar ditentukan oleh grup tradisional.
Undian fase liga dijadwalkan berlangsung di Monaco pada Jumat, 28 Agustus pukul 00.00 WIB.
Inter berada di pot pertama bersama sejumlah raksasa Eropa. PSG, Bayern Munchen, Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Arsenal, Manchester City, dan Liverpool menjadi delapan tim unggulan lainnya.
Komposisi tersebut memperlihatkan satu hal: Inter kini benar-benar dianggap sebagai salah satu kekuatan elite Eropa.
Inter Berada di Antara Raksasa Eropa
Dalam format Liga Champions yang baru, status pot pertama memang tidak otomatis memberikan lawan mudah. Setiap tim tetap akan menghadapi klub dari berbagai pot dalam fase liga.
Namun, berada di antara sembilan unggulan teratas tetap memiliki nilai simbolis dan kompetitif yang besar.
Inter masuk ke jajaran tersebut berkat performa luar biasa dalam beberapa musim terakhir. Nerazzurri merupakan finalis Liga Champions pada 2023 dan 2025, sekaligus menunjukkan konsistensi di level tertinggi Eropa.
Kegagalan menghadapi Bodø/Glimt di babak playoff sebelumnya memang menjadi noda yang tidak boleh dilupakan. Kekalahan tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada pertandingan yang bisa dianggap mudah.
Kini, Inter datang dengan wajah berbeda.
Chivu Punya Skuad yang Lebih Dalam
Salah satu alasan utama optimisme Inter adalah perubahan besar pada kedalaman skuad.
Cristian Chivu kini memiliki komposisi pemain yang memungkinkan rotasi dilakukan tanpa menurunkan kualitas secara drastis. Bursa transfer musim panas memberikan sejumlah tambahan penting di hampir semua lini.
Kehadiran pemain seperti John Stones, Curtis Jones, dan Djed Spence membuat persaingan internal semakin ketat.
Kondisi tersebut memberikan keuntungan besar ketika Inter harus menjalani pertandingan Serie A dan Liga Champions dalam periode yang berdekatan.
Jika musim lalu rotasi terkadang menjadi persoalan, kini Chivu memiliki lebih banyak pilihan.
Inter Seolah Memiliki Dua Skuad
Inilah salah satu poin yang paling menarik dari analisis La Gazzetta dello Sport.
Inter saat ini memiliki kedalaman skuad yang sedemikian kuat sehingga tim lapis kedua pun dinilai mampu bersaing untuk memperebutkan tiket Liga Champions.
Ini bukan sekadar pujian terhadap kuantitas pemain.
Kualitas pemain cadangan juga mengalami peningkatan. Ketika sejumlah pemain utama harus diistirahatkan, Chivu tidak lagi harus memilih antara menjaga kebugaran skuad atau mempertahankan kualitas permainan.
Contohnya bisa terlihat dari kemungkinan rotasi dengan pemain seperti Pio Esposito, Petar Sucic dan John Stones.
Memiliki opsi seperti itu merupakan kemewahan bagi pelatih yang harus menghadapi jadwal padat.
Jadwal Padat Liga Champions Tak Lagi Menakutkan
Salah satu tantangan terbesar bagi klub yang ingin melangkah jauh di Liga Champions adalah menjaga performa domestik.
Inter harus membagi energi antara Serie A, Liga Champions, Coppa Italia, dan kemungkinan pertandingan lainnya. Setiap pertandingan membutuhkan konsentrasi dan intensitas tinggi.
Dengan kedalaman skuad saat ini, Chivu memiliki kesempatan untuk mengatur beban kerja pemain secara lebih efektif.
Pemain yang tampil penuh di Liga Champions dapat diistirahatkan pada pertandingan Serie A, sementara pemain lain mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kualitasnya.
Strategi tersebut dapat menjadi pembeda ketika memasuki fase akhir musim.
Tim yang memiliki skuad paling sehat dan segar biasanya memiliki keuntungan besar ketika kompetisi memasuki fase knockout.
Targetnya Bukan Sekadar Lolos
Inter tentu tidak ingin sekadar melewati fase liga.
Setelah mencapai final Liga Champions pada 2023 dan 2025, ambisi Nerazzurri seharusnya lebih tinggi.
Delapan besar menjadi target yang realistis sekaligus simbolis.
Inter ingin kembali berada di antara klub-klub terbaik Eropa. Untuk mewujudkannya, mereka harus menghadapi klub-klub dengan anggaran, kedalaman skuad, dan pengalaman luar biasa.
Namun, persaingan musim ini juga memberikan peluang.
Sejumlah raksasa Eropa tidak datang dalam kondisi sempurna. Beberapa klub Inggris dan Spanyol mulai menunjukkan tanda-tanda kerentanan, sehingga Inter memiliki alasan untuk percaya diri.
Raksasa Eropa Tidak Selalu Berada di Level Terbaik
Secara historis, klub-klub Inggris dan Spanyol memiliki pengalaman lebih besar di Liga Champions.
Real Madrid memiliki tradisi luar biasa di kompetisi ini. Barcelona, Atletico Madrid, Manchester City, Arsenal dan Liverpool juga memiliki kualitas yang tidak perlu diragukan.
Namun, sepak bola Eropa selalu berubah.
Kondisi tim, cedera, pergantian pelatih, jadwal pertandingan dan performa individu dapat mengubah peta kekuatan dengan cepat.
Inter bisa memanfaatkan celah tersebut.
Nerazzurri tidak harus menjadi favorit utama untuk bisa melangkah jauh. Mereka hanya perlu berada dalam kondisi terbaik ketika menghadapi lawan-lawan besar.
Misi Inter: Menyerbu G8 Eropa
Dengan segala faktor tersebut, Inter memiliki alasan kuat untuk memasang target tinggi.
Assalto al G8, atau serangan menuju delapan besar Liga Champions bukan lagi sekadar slogan.
Kualitas skuad mendukungnya. Pengalaman mendukungnya. Kedalaman tim juga mendukungnya.
Tentu saja, perjalanan menuju delapan besar tidak akan mudah. Format baru membuat setiap pertandingan memiliki bobot penting dan mempertemukan Inter dengan berbagai gaya permainan.
Namun, jika Chivu mampu memaksimalkan rotasi dan menjaga keseimbangan antara Serie A serta Liga Champions, Inter memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu protagonis utama Eropa.

Leave a Reply