
Federico Dimarco kembali menjadi salah satu pusat perhatian Inter Milan menjelang dimulainya musim baru Serie A 2026-26.
Sebagai peraih penghargaan MVP atau pemain terbaik Serie A musim lalu, bek sayap asal Italia itu sebenarnya memiliki banyak alasan untuk merasa puas dengan pencapaiannya.
Namun, bagi Dimarco, semuanya kini kembali ke titik awal.
Dalam wawancara bersama kanal resmi Inter menjelang pertandingan menghadapi Monza di pekan Pertama, Dimarco menegaskan bahwa penghargaan individu yang diraihnya musim lalu sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang penting.
Musim baru berarti tantangan baru, target baru, dan tuntutan untuk kembali membuktikan diri.
“Memenangkan penghargaan MVP musim lalu sudah tidak berarti lagi. Kami memulai dari nol. Musim ini juga kami harus memberikan yang terbaik, dengan menyadari bahwa kami selalu bisa berkembang,” ujar Dimarco.
Pernyataan tersebut menggambarkan mentalitas Dimarco yang ingin terus berkembang bersama Nerazzurri.
Dari Lapangan Calvairate hingga San Siro
Perjalanan Dimarco sebagai pesepak bola dimulai dari tempat yang jauh dari gemerlap stadion besar.
Ia mengenang lapangan Calvairate sebagai tempat pertama dirinya bermain sepak bola sekaligus mencetak gol-gol pertamanya.
Sejak kecil, Dimarco sudah memiliki sosok idola yang sangat jelas. Bukan pemain bertahan atau seorang wing-back, melainkan salah satu striker paling ikonik dalam sejarah sepak bola Brasil.
“Lapangan pertama tempat saya bermain adalah lapangan Calvairate. Di sana saya juga mencetak gol-gol pertama saya,”
Ronaldo Nazário, sang Fenomeno, adalah idolanya.
Bagi seorang anak yang bermimpi menjadi pesepak bola profesional, mengidolakan Ronaldo tentu bukan sesuatu yang mengejutkan. Kecepatan, teknik, kekuatan, dan kemampuan mencetak gol sang legenda Brasil menjadi inspirasi bagi banyak generasi.
“Saya ingin menjadi seperti Ronaldo, karena Il Fenomeno adalah idola saya,” lanjutnya.
Kini, Dimarco justru menjadi salah satu pemain penting yang membawa nama Inter di level tertinggi.
Debut Profesional yang Tak Terlupakan
Salah satu kenangan yang paling membekas bagi Dimarco adalah pertandingan debut profesionalnya bersama Ascoli.
Atmosfer pertandingan tersebut masih diingatnya dengan jelas.
Bagi pemain muda yang baru mendapatkan kesempatan merasakan sepak bola profesional, momen tersebut menjadi kebahagiaan yang luar biasa.
Dimarco mengaku menikmati setiap detiknya karena ia sadar bahwa dirinya sedang menjalani sesuatu yang selama ini hanya menjadi impian.
Ketika akhirnya mendapatkan kesempatan bermain secara reguler di Serie A, keyakinannya semakin kuat.
Saat itulah Dimarco mulai menyadari bahwa mimpi menjadi pemain sepak bola profesional bukan lagi sekadar angan-angan.
“Dari pertandingan-pertandingan pertama saya sebagai pemain profesional, yang paling saya ingat adalah debut di Ascoli. Atmosfernya luar biasa. Bagi saya, itu merupakan kebahagiaan yang sangat besar dan saya benar-benar menikmatinya. Ketika kemudian saya mulai bermain secara reguler di Serie A, saya menyadari bahwa saya benar-benar bisa mewujudkan impian saya,”
Mimpi itu benar-benar bisa diwujudkan.
Rodrigo Palacio, Mentor Penting dalam Karier Dimarco
Dalam perjalanan panjangnya di Inter, Dimarco juga bertemu sejumlah pemain senior yang memberikan pengaruh besar.
Salah satu nama yang secara khusus ia sebut adalah Rodrigo Palacio.
Ketika Palacio masih menjadi bagian dari Inter, Dimarco merupakan pemain muda Primavera yang sesekali mendapat kesempatan bergabung dengan tim utama.
Dari Palacio, Dimarco mengaku belajar banyak hal.
Pengalaman tersebut menjadi sangat berharga karena seorang pemain muda tidak hanya membutuhkan kesempatan bermain, tetapi juga membutuhkan contoh dari pemain senior mengenai profesionalisme, sikap di ruang ganti, hingga cara menghadapi tekanan.
“Salah satu rekan setim yang mengajari saya banyak hal adalah Rodrigo Palacio di Inter, ketika saya masih menjadi pemain muda Primavera yang sesekali bergabung dengan tim utama,”
Selain Palacio, Dimarco juga memiliki kekaguman besar terhadap sosok Diego Milito.
Jika Palacio menjadi rekan setim yang memberikan pelajaran langsung, Milito merupakan pemain yang ia kagumi dari kejauhan karena kontribusinya yang luar biasa bagi Inter.
“Sementara dari kejauhan, saya sangat mengagumi Diego Milito atas segala sesuatu yang telah ia lakukan untuk Inter,”
Scudetto Seconda Stella Jadi Trofi Paling Berarti
Ketika ditanya mengenai kemenangan paling signifikan dalam kariernya, Dimarco tidak membutuhkan waktu lama untuk memberikan jawaban.
“Kemenangan paling berarti? Scudetto Seconda Stella, tanpa keraguan,”
Gelar tersebut memiliki tempat khusus dalam perjalanan Dimarco bersama Inter.
Lamine Yamal, Lawan Terkuat yang Pernah Dihadapi
Sepak bola modern telah menghadirkan banyak pemain luar biasa. Dimarco sendiri sudah menghadapi sejumlah penyerang dan pemain kelas dunia sepanjang kariernya.
Namun, ketika ditanya siapa lawan terkuat yang pernah ia hadapi, jawabannya cukup menarik:
“Jika harus memikirkan lawan terkuat yang pernah saya hadapi, saya akan menyebut Lamine Yamal,”
Bintang muda Barcelona dan Spanyol tersebut memang telah berkembang menjadi salah satu pemain paling berbahaya di sepak bola dunia meskipun usianya masih sangat muda.
Kemampuan menggiring bola, perubahan arah, kecepatan, dan kreativitas Yamal membuatnya menjadi lawan yang sangat sulit dihentikan.
Bagi Dimarco, pengalaman menghadapi pemain seperti Yamal juga menjadi bagian penting dari proses perkembangan seorang pemain.
Rekor Assist yang Tidak Direncanakan
Musim lalu menjadi periode luar biasa bagi Dimarco.
Selain membantu Inter meraih kesuksesan, kontribusinya dalam menciptakan peluang juga meningkat secara signifikan.
Dimarco bahkan berhasil mencatat rekor assist baru dalam satu musim Serie A.
Menariknya, pencapaian tersebut awalnya bukan sesuatu yang secara khusus ia targetkan.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan bisa memecahkan rekor assist dalam satu musim. Namun, seiring berjalannya kompetisi dan jumlah assist terus bertambah, target tersebut mulai terasa semakin nyata.
Pada akhirnya, Dimarco berhasil mengubah sesuatu yang awalnya tidak direncanakan menjadi sebuah pencapaian personal yang istimewa.
“Saya tidak menyangka bisa menciptakan rekor baru assist dalam satu musim Serie A. Namun, seiring berjalannya kompetisi musim lalu, hal itu perlahan menjadi sebuah target yang nyata,”
Inter Bukan Sekadar Tim, Melainkan Keluarga
Ada satu kata yang menurut Dimarco paling tepat untuk menggambarkan skuad Inter.
“Jika harus memilih satu kata untuk menggambarkan kelompok ini, saya akan mengatakan Keluarga,”
Pilihan kata tersebut cukup menggambarkan kedekatan yang dirasakan Dimarco terhadap rekan-rekannya.
Inter memiliki kombinasi pemain senior, pemain muda, produk akademi, serta rekrutan baru. Meski karakter setiap pemain berbeda, keberhasilan sebuah tim sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk bersatu.
Bagi Dimarco, rasa kebersamaan tersebut menjadi salah satu kekuatan penting Nerazzurri.
Ada Satu Keinginan yang Dirahasiakan
Bagian paling menarik dari wawancara Dimarco muncul ketika ia ditanya mengenai satu keinginan yang masih ingin diwujudkannya.
Jawabannya singkat:
“Ada, tetapi ia memilih menyimpannya untuk dirinya sendiri,”
Dimarco tidak membocorkan apa yang sebenarnya menjadi ambisinya.
Jawaban tersebut justru membuat rasa penasaran semakin besar.
Apakah berkaitan dengan trofi? Rekor individu? Target bersama Inter? Atau sebuah pencapaian yang memiliki makna pribadi?
Untuk saat ini, hanya Dimarco yang mengetahui jawabannya.
Yang jelas, satu hal sudah pasti: sang MVP musim lalu belum merasa puas.

Leave a Reply