
Kemenangan yang diraih Inter Milan saat menghadapi Venezia pada pekan ke-9 Serie A 2026-27 terus memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola Italia.
Kali ini, jurnalis ternama Fabrizio Biasin memberikan analisis mendalam dan blak-blakan mengenai kondisi terkini Nerazzurri, performa pemain lapis kedua, hingga keputusan kontroversial terkait VAR dalam program olahraga populer, Pressing.
Inter Milan Kelelahan
Dalam analisisnya, Biasin menyoroti bahwa Venezia tampil luar biasa dan sama sekali tidak terlihat seperti tim juru kunci klasemen.
Di sisi lain, Inter terlihat mulai kehabisan tenaga dan butuh waktu untuk rifiatare (beristirahat/mengisi ulang energi).
Yang paling disorot oleh sang jurnalis adalah performa para pemain pelapis atau mereka yang jarang mendapat kesempatan.
Menurut Biasin, laga kontra Venezia seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi skuad cadangan untuk mengirim sinyal kuat kepada sang pelatih. Sayangnya, banyak dari mereka yang justru menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.
“Venezia bermain sangat bagus, tidak seperti tim juru kunci. Inter harus sedikit bernapas karena mereka kelelahan. Terutama bagi mereka yang jarang bermain dan seharusnya memberikan sinyal, banyak dari mereka yang melewatkan kesempatan itu,” ujar Biasin.
Ivan Provedel Layak Jadi Kiper Utama Nerazzurri
Beralih ke topik panas lainnya, Biasin juga membahas situasi di bawah mistar gawang. Penampilan gemilang Provedel disebutnya sebagai pemain terbaik di lapangan menyelamatkan Inter dari hasil imbang atau bahkan kekalahan di Stadio Penzo.
Biasin secara terbuka mendukung agar posisi kiper utama dipertahankan untuk laga-laga krusial selanjutnya, termasuk dalam Derby mendatang, atas dasar pendekatan pragmatis yang memang dibutuhkan tim dalam situasi tertekan.
“Provedel di laga derby? Dia layak mendapatkan tempat utama di susunan pemain, juga karena alasan pragmatis. Saya akan tetap mempertahankan Provedel di bawah mistar gawang,”
Kontroversi VAR
Poin paling tajam yang disampaikan Biasin dalam acara Pressing menyangkut insiden kontroversial di atas lapangan—salah satunya melibatkan duel Carlos Augusto dan Sohm—yang luput dari intervensi teknologi.
Dengan nada menyindir, Biasin menilai bahwa VAR seolah-olah sudah “dimatikan” karena para pengawas pertandingan kini terlalu takut untuk mengambil keputusan tegas atau mengintervensi laga-laga besar.
“Carlos Augusto-Sohm? Kita sepertinya sudah mematikan VAR, itu sudah cukup jelas. Mereka tidak lagi turun tangan karena ketakutan.” Tegasnya.

Leave a Reply