
Statistik Inter Milan pada awal musim ini (2026-27) menampilkan potret yang cukup mengkhawatirkan di sektor pertahanan.
Nerazzurri tercatat tertinggal lebih dulu dalam 57% pertandingan mereka sejauh ini, serta menghabiskan 26% total menit bermain dalam posisi mengejar angka yang lebih dari Dua kali lipat dibandingkan tim-tim peraih gelar Scudetto dalam beberapa musim terakhir.
Lebih buruknya lagi, 55% gol yang bersarang di gawang Inter terjadi pada 30 menit pertama pertandingan.
Menanggapi data statistik yang mencemaskan ini, legenda sekaligus pengamat senior Sky Sport, Beppe Bergomi, memberikan analisis taktis mendalam mengenai perubahan filosofi di bawah pelatih Cristian Chivu serta masalah regenerasi lini belakang.
Perubahan Filosofi Taktis: Dari Kontrol Menjadi Perjudian Garis Tinggi
Menurut sosok yang akrab disapa Lo Zio (Paman Bergomi) tersebut, Inter Milan pada dasarnya bukanlah tim yang didesain untuk high pressing atau re-agresi instan.
Perubahan pola permainan yang diusung Chivu memaksa para pemain keluar dari zona nyaman mereka.
“Saya selalu berpikir bahwa Inter bukanlah tim yang cocok untuk re-agresi dan pressing tinggi. Formasi 3-5-2 cukup kesulitan untuk mengisi ruang dengan rapat saat menekan ke depan,” jelas Bergomi.
Ia menambahkan bagaimana keputusan taktis Chivu membebankan risiko besar pada tiga bek tengah di belakang:
“Cristian (Chivu) mendorong mereka maju dengan sangat agresif, sehingga tiga pemain belakang harus menerima situasi duel satu lawan satu di area terbuka, terutama di awal pertandingan,”
“Inter dulunya adalah tim yang lebih mengandalkan kontrol permainan. Sekarang ini adalah sepak bola yang sama sekali berbeda: lebih ofensif dengan garis pertahanan sangat tinggi,”
Bergomi juga menyoroti hilangnya kombinasi alur serangan mulus (trame di gioco) yang dulunya menjadi ciri khas Inter, khususnya di sektor sayap kiri.
Problem Lini Belakang: Acerbi dan De Vrij Belum Tergantikan
Selain faktor skema taktis, Bergomi menggarisbawahi masalah mendasar pada komposisi skuad. Kehilangan sosok bek murni yang piawai dalam duel bertahan satu lawan satu menjadi celah terbesar Inter saat ini.
“Inter kehilangan dua bek krusial yang belum benar-benar tergantikan. Francesco Acerbi dan Stefan de Vrij adalah tipe penjaga/pengawal dalam duel satu lawan satu yang kini dirindukan Inter,” jelasnya.
Meski Inter memiliki materi bek berkualitas lain, Bergomi menilai profil mereka memiliki karakteristik yang sangat berbeda:
“Mereka memang memiliki pemain-pemain bagus lainnya seperti Akanji, Bisseck, Bastoni, dan Carlos Augusto yang saat ini merupakan yang terbaik, tetapi mereka harus bertahan di area yang sangat terbuka dan terutama ketika menggunakan blok pertahanan rendah, mereka justru lebih kesulitan.”
Kritik dan analisis Beppe Bergomi menjadi alarm bagi Cristian Chivu. Mengadopsi sepak bola modern yang ofensif dengan garis pertahanan tinggi memerlukan profil pemain yang tepat.
Tanpa kehadiran sosok pemotong bola sekelas Acerbi atau De Vrij di jantung pertahanan, Inter Milan harus segera menemukan kompromi taktis agar tidak terus-menerus menjadi korban kebobolan di menit-menit awal.

Leave a Reply