
Petar Sucic menjadi sorotan setelah legenda sepak bola Kroasia, Zvonimir “Zvone” Boban, memberikan komentar cukup tegas mengenai situasi sang gelandang di Inter Milan.
Boban menilai tidak masuk akal jika Sucic bertahan di Giuseppe Meazza apabila dirinya tidak mendapatkan menit bermain yang cukup.
Pernyataan tersebut tentu menarik perhatian, terlebih Boban bukan sosok yang dikenal berhati-hati dalam menyampaikan pendapat.
Mantan bintang AC Milan itu selalu dikenal berani berbicara secara langsung, baik ketika masih berada di lapangan maupun setelah pensiun.
Namun, jika melihat situasi Sucic di Inter secara lebih objektif, apakah penilaian Boban benar-benar sesuai dengan kenyataan?
Boban: Sucic Tidak Seharusnya Bertahan di Inter
Boban secara terang-terangan mempertanyakan keputusan Sucic untuk tetap memperkuat Inter Milan.
Menurutnya, Sucic terlalu bagus untuk hanya mendapatkan peran terbatas di skuad Nerazzurri. Bahkan, Boban menyebut Sucic sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia.
Komentar tersebut memperlihatkan besarnya keyakinan Boban terhadap kemampuan kompatriotnya. Sucic memang memiliki kualitas yang membuatnya menarik perhatian sejak masih bermain bersama Dinamo Zagreb.
Gelandang berusia 22 tahun itu mempunyai kemampuan teknis yang mumpuni, mobilitas tinggi, serta karakter permainan yang cocok dengan sepak bola modern. Ia juga masih memiliki ruang perkembangan yang sangat besar.
Namun, menyebut Sucic sebagai salah satu pemain terbaik di dunia saat ini tampaknya masih terlalu dini.
Data Menunjukkan Sucic Bukan Pemain Pelapis Biasa
Jika persoalannya adalah menit bermain, data justru memberikan gambaran berbeda dari apa yang disampaikan Boban.
Pada musim lalu (2025/26), Sucic menjadi salah satu gelandang dengan menit bermain terbanyak di Inter. Ia berada di posisi ketiga untuk jumlah menit bermain di lini tengah, hanya berada di belakang Piotr Zielinski dan Nicolo Barella.
Angka tersebut tentu perlu dilihat dalam konteks komposisi lini tengah Inter.
Dalam sistem permainan tiga gelandang, seorang pemain yang berada di posisi ketiga dalam urutan menit bermain praktis masih memiliki peran yang sangat penting. Artinya, Sucic bukan sekadar pemain yang hanya masuk ketika Inter membutuhkan tambahan tenaga.
Memang benar, jumlah penampilannya turut terbantu oleh berbagai masalah kebugaran yang dialami Hakan Calhanoglu. Namun, hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa Sucic mendapatkan kepercayaan cukup besar dari tim pelatih.
Dengan kata lain, narasi bahwa Sucic tidak mendapatkan kesempatan bermain di Inter tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.
Sucic Memang Bisa Mendapat Menit Bermain Lebih Banyak
Meski demikian, bukan berarti kritik terhadap situasi Sucic sepenuhnya tidak berdasar.
Sebagai pemain muda dengan potensi besar, sangat wajar apabila muncul anggapan bahwa Sucic seharusnya mendapatkan menit bermain lebih banyak.
Persaingan di lini tengah Inter memang sangat ketat. Chivu memiliki sejumlah pemain berkualitas yang bisa menjadi pilihan utama, termasuk Barella dan Zielinski. Karena itu, Sucic harus bersaing dengan pemain yang sudah memiliki pengalaman dan status penting di dalam skuad.
Situasinya menjadi sedikit paradoks.
Sucic memang bukan pilihan utama yang selalu bermain sejak menit pertama, tetapi ia juga bukan pemain yang terpinggirkan. Ia berada di posisi yang bisa disebut sebagai pemain pelapis penting atau comprimario.
Dan menjadi pelapis Barella maupun Zielinski tentu bukan sesuatu yang memalukan.
Keduanya merupakan pemain dengan pengalaman dan kualitas yang sudah terbukti di level tertinggi.
Apakah Sucic Salah Memilih Inter?
Di sinilah pernyataan Boban terasa cukup berlebihan.
Jika Sucic pindah ke klub lain demi mendapatkan status sebagai pemain utama, mungkin ia memang bisa memperoleh menit bermain lebih konsisten. Namun, bertahan di Inter juga memberikan keuntungan besar bagi perkembangan kariernya.
Di usia 22 tahun, Sucic masih berada dalam fase penting untuk berkembang. Berlatih setiap hari bersama pemain-pemain top dan bersaing mendapatkan tempat di salah satu klub terbesar Italia dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Terlebih lagi, Sucic bukan pemain yang sepenuhnya kehilangan kepercayaan pelatih.
Ia sudah mendapatkan kesempatan dan memiliki peran dalam skuad. Tantangannya sekarang adalah meningkatkan performa agar mampu menggeser pemain yang lebih senior dan mapan.
Boban Benar Soal Potensi, Tetapi Terlalu Cepat Menyebutnya Terbaik di Dunia
Ada satu hal yang mungkin sulit dibantah dari pernyataan Boban: Sucic memang memiliki potensi luar biasa.
Namun, potensi dan pencapaian adalah dua hal berbeda.
Sucic bisa saja suatu hari benar-benar menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia. Usianya masih 22 tahun dan perjalanan kariernya masih panjang.
Tetapi untuk saat ini, menempatkannya di level tersebut masih terlalu dini.
Label “salah satu yang terbaik di dunia” membutuhkan konsistensi performa dalam jangka panjang, pencapaian di level klub dan internasional, serta kemampuan mempertahankan standar tinggi ketika menghadapi tekanan terbesar.
Sucic belum sampai pada tahap tersebut.
Justru karena usianya masih muda, pendekatan yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai pemain dengan potensi besar yang masih harus berkembang.
Patriotisme Boban Bisa Dipahami, tetapi Inter Punya Pertimbangan Sendiri
Sebagai sesama pemain Kroasia, rasa bangga Boban terhadap perkembangan Sucic tentu bisa dipahami.
Boban sendiri merupakan salah satu figur terbesar dalam sejarah sepak bola Kroasia. Ia tentu memiliki perhatian khusus terhadap generasi baru pemain negaranya.
Namun, ketika membahas posisi Sucic di Inter, objektivitas tetap diperlukan.
Inter tidak mungkin memberikan tempat utama hanya karena seorang pemain memiliki potensi besar. Setiap posisi harus diperebutkan melalui performa, konsistensi, kebutuhan taktik, serta keputusan pelatih.
Dan sejauh ini, fakta menunjukkan bahwa Sucic masih mendapatkan kesempatan yang cukup besar.
Inter Justru Bisa Menjadi Tempat Ideal untuk Perkembangan Sucic
Daripada melihat situasinya sebagai masalah, posisi Sucic di Inter sebenarnya dapat menjadi bagian penting dari proses perkembangannya.
Ia bermain di tengah persaingan ketat, mendapatkan pengalaman di level tinggi, dan dituntut untuk meningkatkan kualitas setiap kali mendapat kesempatan.
Jika mampu terus berkembang, bukan tidak mungkin perannya di Inter akan semakin besar dalam beberapa musim mendatang.
Pada akhirnya, Boban mungkin benar ketika mengatakan bahwa Sucic adalah pemain dengan kualitas luar biasa. Namun, klaim bahwa sang gelandang tidak mendapatkan ruang yang cukup dan harus meninggalkan Inter tidak sepenuhnya didukung oleh fakta.
Sucic memang pantas mendapatkan kesempatan lebih banyak. Tetapi pada saat yang sama, ia juga masih harus membuktikan bahwa dirinya layak menjadi pilihan utama secara konsisten.
Dan mungkin justru itulah tantangan terbaik bagi seorang pemain berusia 22 tahun yang ingin mencapai level tertinggi.

Leave a Reply