Strategi Cerdas Marotta dan Ausilio, Inter Era Chivu Bisa Jadi yang Terkuat Sejak Treble

Bursa transfer musim panas 2026 memasuki fase paling menentukan bagi Inter Milan. Setelah melakukan sejumlah perubahan penting dalam skuad, manajemen Nerazzurri kini sedang mengerjakan beberapa kepingan terakhir yang berpotensi mengubah wajah tim secara signifikan.

Di balik pergerakan tersebut, terdapat sebuah strategi yang sejak awal ditekankan oleh jajaran manajemen Inter Milan, yakni tidak terburu-buru dan menunggu momentum yang tepat.

Seperti yang dilaporkan L’interista, pendekatan yang dijalankan Giuseppe Marotta, Piero Ausilio, dan Dario Baccin kini mulai menunjukkan hasil. Jika seluruh rencana berjalan sesuai harapan, Cristian Chivu bisa mendapatkan skuad yang jauh lebih lengkap dan kompetitif.

Bahkan, muncul optimisme bahwa Inter dapat memiliki salah satu tim terkuat mereka dalam beberapa tahun terakhir, bahkan berpotensi menjadi skuad terbaik sejak era Treble 2010.

Inter Memilih Sabar daripada Panik

Ada satu prinsip yang terus digaungkan manajemen Inter sepanjang bursa transfer musim panas ini, yakni kesabaran.

Setelah beberapa target gagal direalisasikan, Nerazzurri tidak langsung mengambil keputusan panik dengan mendatangkan pemain alternatif yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan taktik Chivu.

Piero Ausilio beberapa kali menjelaskan bahwa Inter lebih memilih menunggu kesempatan yang tepat daripada melakukan pembelian hanya demi mengisi posisi yang kosong.

Strategi tersebut terlihat jelas setelah transfer Anan Khalaili batal karena persoalan yang ditemukan dalam pemeriksaan medis CONI.

Alih-alih buru-buru mencari pengganti, Inter memilih menunggu.

Dan kini, keputusan tersebut mulai membuahkan hasil.

Djed Spence Jadi Bukti Strategi Inter

Nama yang menjadi bukti paling nyata dari pendekatan tersebut adalah Djed Spence.

Bek sayap Tottenham itu sejak lama menjadi salah satu pemain yang paling disukai manajemen Inter untuk mengisi sektor kanan setelah kepergian Denzel Dumfries.

Spence dianggap memiliki karakteristik yang cocok dengan kebutuhan Inter dan bisa memberikan dimensi berbeda dalam sistem permainan Chivu.

Karena itu, Inter memilih menunggu hingga kondisi negosiasi berubah.

Harga Spence Turun Drastis

Keputusan untuk tidak terburu-buru ternyata memberikan keuntungan besar.

Tottenham sebelumnya disebut meminta sekitar €45-50 juta untuk Spence. Angka tersebut jelas berada di luar batas yang ingin dikeluarkan Inter.

Namun, situasi berubah ketika bursa transfer memasuki fase akhir, dengan Spurs rela menurunkan tuntutannya secara signifikan.

Kesepakatan pun tercapai antarklub di kisaran €30 juta plus bonus. Inilah yang disebut sebagai kemenangan strategi negosiasi.

Marotta-Ausilio-Baccin Tidak Terburu-buru

Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana trio Marotta-Ausilio-Baccin bekerja di balik layar.

Mereka tidak hanya mengejar pemain, tetapi juga mengatur waktu.

Inter terlebih dahulu menentukan target, kemudian membuka komunikasi, memahami keinginan pemain, dan menunggu hingga kondisi pasar menguntungkan.

Strategi seperti ini membutuhkan kesabaran.

Jika Inter menyerah pada tekanan dan langsung memenuhi permintaan €45-50 juta dari Tottenham, mereka mungkin sudah menghabiskan anggaran lebih besar.

Dengan menunggu, Nerazzurri justru berpotensi mendapatkan pemain dengan harga jauh lebih rasional.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*