
Gabriel Barbosa, atau yang lebih akrab disapa Gabigol, akhirnya kembali buka suara mengenai masa lalunya bersama Inter Milan.
Dalam sebuah wawancara panjang dan mendalam bersama media Brasil, ge, striker haus gol ini menceritakan perjalanan kariernya dengan sangat transparan, termasuk masa-masa sulitnya saat mencoba peruntungan di sepak bola Eropa.
Didatangkan ke San Siro dengan ekspektasi setinggi langit, karier Gabigol di Nerazzurri nyatanya tidak berjalan mulus. Mengapa hal itu bisa terjadi? Berikut adalah rangkuman pengakuan sang pemain.
Tawaran Inter Milan yang Mustahil Ditolak
Gabigol tiba di Inter Milan pada tahun 2016 sebagai salah satu prospek paling bersinar dari Amerika Selatan. Keputusannya meninggalkan Brasil saat itu ternyata sangat dipengaruhi oleh dukungan keluarga dan godaan finansial serta proyek olahraga yang fantastis.
“Orang tua saya memiliki pengaruh besar, tetapi Inter Milan datang dengan tawaran yang mustahil untuk ditolak. Selain itu, saya memang memiliki keinginan yang kuat untuk bermain di Eropa,” ungkap Gabigol.
Ekspektasi Tak Sesuai Realita: Dari Milan ke Portugal
Meski datang dengan status bintang muda, Gabigol kesulitan beradaptasi dengan taktik sepak bola Italia. Minimnya menit bermain membuatnya mengambil keputusan untuk dipinjamkan ke klub raksasa Portugal, Benfica.
“Kemudian segalanya tidak berjalan dengan baik (di Inter). Pada titik itu, kami memutuskan pindah ke Benfica karena saya pikir saya akan mendapatkan lebih banyak peluang di sana,” jelasnya.
“Itu adalah liga Portugal, bahasanya sama dan tidak akan menjadi masalah. Itu adalah keputusan bersama. Ayah saya sangat menyukai masa-masa kami di Benfica, tetapi secara pribadi, saya tidak terlalu menyukai Portugal,”
Cinta Sejati Hanya untuk Santos dan Flamengo
Gagal bersinar di Eropa, Gabigol akhirnya pulang kampung ke Brasil. Ia kembali ke Santos pada 2018, keputusan yang diakuinya sangat dipengaruhi oleh sang ayah. Namun, titik balik sesungguhnya terjadi ketika tawaran dari Flamengo datang.
Di sinilah Gabigol menunjukkan determinasi penuh atas jalan kariernya. Ia menegaskan bahwa Flamengo adalah tujuan utamanya, bahkan jika klub raksasa Eropa datang memanggil.
“Sejak Flamengo datang, saya mulai memutuskan semuanya sendiri. Saya berkata: ‘Saya harus bermain untuk Flamengo’. Saya selalu mendambakannya. Jika Real Madrid atau Barcelona datang sekalipun saat itu, saya akan tetap pergi ke Flamengo,” tegasnya.
Gabigol juga mengungkapkan bahwa ia tidak pernah merasakan “koneksi batin” di Eropa seperti yang ia rasakan di Brasil.
“Jika Anda bertanya tentang Inter atau Benfica, perasaannya benar-benar berbeda. Begitu juga dengan Cruzeiro. Tapi Santos dan Flamengo adalah tim saya yang sesungguhnya. Koneksi seperti itu tidak bisa dipaksakan; di Inter dan Benfica, hal itu tidak pernah tercipta,”
Bawa Fisioterapis Pribadi Sejak di Milan
Ada fakta menarik yang diungkapkan Gabigol mengenai profesionalismenya dalam menjaga kondisi fisik. Ternyata, sejak usia delapan tahun, ia sudah didampingi oleh fisioterapis pribadi berkat perhatian besar dari ayahnya.
Hal ini tetap ia pertahankan saat merantau ke Eropa.
“Bahkan ketika saya pergi ke Inter Milan, Thiago Lobo—yang hari ini bekerja bersama Vinicius Junior—ikut bersama saya ke Milan,” kenangnya.
Berada di Puncak Karier dan Masih Haus Rekor
Kini, menginjak usia yang semakin matang, Gabigol merasa berada di fase terbaik dalam kehidupan profesionalnya. Pengalaman pahit di Eropa justru menempanya menjadi striker yang lebih tangguh dan haus gelar.
“Saya merasa berada di puncak karier. Saya memiliki banyak pengalaman dan telah melewati berbagai situasi di sepak bola. Saya rasa saya sudah menghadapi semuanya,” ujarnya penuh percaya diri.
“Saya ingin menjadi yang terbaik, saya ingin terus berkembang, memecahkan rekor, dan mencetak gol di setiap pertandingan.”
Pernyataan ini menunjukkan transformasi luar biasa dari seorang pemuda yang dulu kesulitan di San Siro, menjadi ikon sepak bola Amerika Selatan.
Gabigol mungkin gagal menaklukkan Eropa bersama Inter Milan, tetapi ia berhasil menemukan rumah dan panggung kebesarannya sendiri di tanah kelahirannya.

Leave a Reply