
Kekalahan menyakitkan dalam laga Derby della Madonnina melawan AC Milan meninggalkan kekecewaan mendalam bagi Inter Milan dan para penggemarnya.
Para pemain sebenarnya mengharapkan jalannya pertandingan yang berbeda, namun kesalahan pendekatan sejak menit awal kembali menjadi biang kerok kegagalan. Kini, situasi di ruang ganti mulai dipertanyakan.
Laporan dari La Gazzetta dello Sport mengungkapkan bahwa ada sensasi berbahaya yang sedang menyelimuti pusat latihan Inter di Appiano Gentile, yang dipicu oleh menurunnya mentalitas bertanding dan terpecahnya fokus para pemain akibat urusan di luar lapangan.
“Sindrom Kemenangan” dan Tren Buruk di Lapangan
Masalah yang dihadapi Inter saat ini digambarkan sebagai “sakit kepala yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan parasetamol”. Di Appiano Gentile, situasi ini mulai disebut sebagai sindrom kemenangan, sebuah penyakit mental yang kerap menyerang tim berstatus juara bertahan Serie A dalam satu dekade terakhir.
Inter Milan tampaknya sedang menginkubasi virus yang sama, di mana mereka kesulitan mempertahankan level permainan setelah meraih Scudetto (seperti yang pernah terjadi di era Antonio Conte maupun Simone Inzaghi). Manajemen klub tidak hanya mengkhawatirkan rekor kekalahan Derby secara beruntun, melainkan kebiasaan buruk tim yang terus-menerus memberikan keuntungan bagi lawan.
Dalam 6 dari 10 pertandingan terakhir, Inter selalu berada dalam posisi tertinggal lebih dulu. Bahkan pada laga melawan Venezia sebelum Derby, mereka nyaris tertinggal dalam beberapa kesempatan dan hanya terselamatkan oleh dua gol bunuh diri di menit-menit akhir.
Teguran Keras Alessandro Bastoni
Di tengah situasi yang tidak menentu, bek andalan sekaligus salah satu figur pemimpin di ruang ganti, Alessandro Bastoni, melontarkan pernyataan yang memicu refleksi mendalam bagi seluruh tim.
“Saya tidak menyukai apa yang saya lihat, seragam Inter ini harus layak diperjuangkan setiap harinya,” tegas Bastoni.
Ketika ditanya kepada siapa pesan tersebut ditujukan, bek asal Italia itu menjawab lugas: “Untuk semua orang, termasuk saya sendiri.”
Pernyataan ini mengonfirmasi bahwa ada masalah kedisiplinan dan mentalitas juang yang menurun secara kolektif di dalam skuad Nerazzurri.
Fokus Terpecah: Kasus Pembaruan Kontrak Pemain Bintang
Teguran Bastoni sejalan dengan desas-desus bahwa banyak pemain Inter saat ini lebih memikirkan negosiasi kontrak baru ketimbang memberikan kemampuan maksimal saat latihan. Faktor eksternal ini dinilai sangat memengaruhi konsentrasi tim secara keseluruhan.
- Federico Dimarco: Sang bek sayap yang tampil di bawah standar musim lalu dan sempat dicadangkan saat derby, dikabarkan telah mengeluhkan lambannya proses perpanjangan kontraknya.
- Hakan Calhanoglu: Gelandang metronom asal Turki ini masa baktinya akan segera habis. Sejak tur pramusim di Perth musim panas lalu, ia secara terbuka menyatakan masih menunggu panggilan dari pihak klub untuk membahas kontrak baru.
Ketidakpastian masa depan ini memang bukan satu-satunya alasan menurunnya performa, tetapi hal tersebut jelas bertepatan dengan hilangnya konsentrasi umum skuad.
Masalah “pendekatan pertandingan” yang buruk ini harus dibayar mahal: Inter Milan untuk sementara waktu harus merelakan posisi puncak klasemen Serie A dan mendapati laju mereka di Liga Champions menjadi semakin rumit.
Manajemen dan pelatih harus segera menemukan solusi sebelum musim ini benar-benar keluar dari jalur.

Leave a Reply