
Persaingan memperebutkan gelar pencetak gol terbanyak Serie A alias Capocannoniere musim ini (2026-27) berpotensi menghadirkan duel menarik antara penyerang AS Roma, Donyell Malen dan kapten Inter Milan, Lautaro Martinez.
Malen mengakui bahwa fokus utamanya adalah meningkatkan performa pribadi, meskipun ia juga memiliki pilihan ketika diminta menentukan siapa yang akan mencetak lebih banyak gol pada akhir musim.
Dalam wawancara dengan Corriere dello Sport, Malen mendapat pertanyaan mengenai persaingan mencetak gol dengan Lautaro. Alih-alih membuat prediksi tegas, pemain asal Belanda itu memilih untuk tidak terlalu memikirkan pencapaian rivalnya.
“Siapa yang akan mencetak lebih banyak gol pada akhir musim? Lebih baik saya berkonsentrasi pada diri sendiri,” ujar Malen.
Namun, ketika kembali diminta memilih antara dirinya dan Lautaro Martinez, Malen memberikan jawaban yang cukup menarik.
“Malen atau Lautaro? Saya memilih Malen,” katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan kepercayaan diri Malen. Ia tentu ingin mencetak sebanyak mungkin gol bersama Roma, tetapi memilih untuk menjaga perhatian pada performanya sendiri daripada terjebak dalam perbandingan dengan striker Inter.
Malen dan Lautaro Martinez, Persaingan di Balik Perebutan Scudetto
Persaingan antara Malen dan Lautaro menjadi salah satu duel individu yang menarik untuk diperhatikan dalam perjalanan Serie A.
Keduanya memiliki peran penting bagi tim masing-masing dan berpotensi ikut menentukan arah persaingan di papan atas klasemen.
Lautaro merupakan sosok sentral dalam lini serang Inter. Sebagai kapten, penyerang Argentina tersebut tidak hanya diharapkan menjadi sumber gol, tetapi juga memimpin rekan-rekannya dalam mengejar target klub.
Di kubu Roma, Malen memiliki ambisi untuk membantu timnya bersaing memperebutkan Scudetto. Persaingan melawan Inter bukan sekadar soal mengumpulkan poin, tetapi juga tentang kemampuan menjaga konsistensi ketika menghadapi lawan-lawan kuat sepanjang musim.
Bagi seorang penyerang, produktivitas gol bisa menjadi faktor pembeda dalam pertandingan penting. Karena itu, setiap gol yang dicetak Malen maupun Lautaro berpotensi memberikan dampak besar bagi perjalanan klub mereka.
Meski demikian, gelar capocannoniere tidak bisa ditentukan hanya melalui satu atau dua pertandingan. Konsistensi, kebugaran, serta kemampuan memanfaatkan peluang sepanjang musim akan menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang akhirnya berada di posisi teratas daftar pencetak gol.
Persaingan Top Skor: Malen Memimpin, Lautaro Terus Mengejar
Hingga pekan Kelima Serie A, Donyell Malen memimpin daftar pencetak gol terbanyak dengan koleksi Enam gol.
Sementara itu, kapten Inter Milan, Lautaro Martinez, terus membayangi dengan torehan Empat gol, terpaut Dua gol dari striker AS Roma tersebut.
Malen Ungkap Keistimewaan Gian Piero Gasperini
Selain berbicara mengenai persaingan dengan Lautaro, Malen juga memberikan pujian kepada pelatih Roma, Gian Piero Gasperini. Menurutnya, salah satu kelebihan Gasperini terletak pada cara sang pelatih mengelola pemain dan membangun hubungan yang terbuka dengan anggota tim.
“Hal istimewa darinya adalah cara dia mengelola para pemain. Kamu tahu bahwa dia tidak akan pernah berbohong kepadamu tentang apa pun,” ungkap Malen.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya komunikasi yang jelas antara pelatih dan pemain. Bagi Malen, mengetahui bahwa pelatih selalu berbicara secara jujur dapat membantu pemain memahami posisinya dalam tim serta mengetahui hal-hal yang perlu diperbaiki.
Namun, Malen juga mengakui bahwa metode latihan Gasperini sangat menuntut secara fisik.
“Latihannya sangat berat,” ujarnya.
Intensitas latihan yang tinggi merupakan salah satu karakteristik pendekatan Gasperini. Pemain dituntut menjaga kondisi fisik sekaligus memahami tuntutan taktik agar mampu menjalankan permainan dengan intensitas tinggi selama pertandingan.
Bagi Malen, menghadapi metode latihan seperti itu menjadi bagian dari proses untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi maksimal bagi Roma.
Kemenangan atas Parma Bikin Gasperini Sangat Bahagia
Malen juga menceritakan reaksi Gasperini setelah pertandingan melawan Parma. Menurut penuturannya, sang pelatih sangat bahagia sampai-sampai sebuah meja ikut terangkat atau terlempar dalam suasana perayaan tersebut.
“Setelah pertandingan melawan Parma, dia terlalu bahagia, bahkan sampai ada meja yang terbang,” tutur Malen.
Bagi pelatih dengan tuntutan tinggi seperti Gasperini, hasil positif bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga menjadi penghargaan atas kerja keras pemain selama latihan dan pertandingan.

Leave a Reply