
Lini pertahanan Inter Milan kini resmi menjadi sorotan utama menyusul tren negatif yang melanda skuad asuhan Cristian Chivu.
Tiga gol yang bersarang di gawang Inter saat takluk dalam Derby della Madonnina melawan AC Milan memperpanjang catatan buruk kebobolan Nerazzurri musim ini (2026-27).
Secara keseluruhan, Inter telah kebobolan 13 gol dari 10 pertandingan Serie A, ditambah 6 gol lainnya dalam dua laga di ajang Liga Champions.
Meskipun lini serang tampil produktif dengan mengemas 31 gol dari 13 pertandingan, performa lini belakang justru mengalami transformasi drastis, menjadi jauh lebih rapuh dan mudah ditembus dibandingkan musim lalu.
Masalah Utama: Faktor Psikologis dan Kurangnya “Rasa Lapar”
Berdasarkan analisis mendalam dari La Gazzetta dello Sport, krisis pertahanan Inter bukan sekadar masalah teknis atau formasi taktik semata, melainkan kombinasi dari berbagai faktor krusial:
- Masalah Psikologis: Formasi, strategi, dan para pemain bertahan sebagian besar masih sama seperti musim lalu. Namun, masalah utamanya bersifat psikologis. Tim dinilai terlalu percaya diri, kerap meremehkan situasi, dan mulai “bercermin pada masa lalu” atau kejayaan yang telah diraih.
- Kehilangan Rasa Lapar: Pelatih Cristian Chivu secara terbuka menyoroti hilangnya determinasi dan kegigihan di atas lapangan. Pendekatan awal pertandingan yang terlalu soft membuat Inter sering kali harus berada dalam posisi tertinggal dan terpaksa mengejar defisit gol.
Perbandingan Statistik: Trio Tuntutan Utama vs Pemain Pelapis
Data statistik menunjukkan sebuah anomali yang mengejutkan di lini belakang Inter. Trio bek utama yang diisi oleh Bisseck, Manuel Akanji, dan Alessandro Bastoni justru mencatatkan angka pertahanan yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan saat Inter menurunkan pemain pelapis.
Trio Utama (Bisseck – Akanji – Bastoni):
- Rata-rata kebobolan gol mencapai 2 gol per pertandingan dalam total 7 laga.
- Expected goals (xG) lawan berada di angka 1,64.
- Memberikan rata-rata 3 peluang besar per pertandingan bagi lawan.
- Menghadapi 12 tembakan per laga dari tim lawan.
Pemain Pelapis / Rotasi (Carlos Augusto, Stones, Pavard, dll):
- Rata-rata kebobolan gol turun drastis menjadi 0,83 gol per pertandingan.
- Expected goals (xG) lawan menurun menjadi 1,13.
- Memberikan peluang besar kepada lawan sekitar 2,33 per laga.
- Tembakan yang diterima lawan berkurang menjadi 10,8 per pertandingan.
Paradoks ini menunjukkan bahwa lini pertahanan Inter justru tampil lebih solid dan terorganisir ketika rotasi dilakukan dengan melibatkan pemain seperti Carlos Augusto.
Dampak Badai Cedera dan Kepergian Pemain Senior
Faktor lain yang memperparah situasi lini belakang adalah minimnya kontribusi dari lini kedua akibat badai cedera serta perubahan komposisi skuad di bursa transfer:
- Cedera Pemain Kunci: Pemain seperti John Stones dan Benjamin Pavard harus menepi karena cedera panjang, dengan total catatan menit bermain yang sangat minim (hanya 397 menit gabungan di awal musim).
- Kehilangan Figur Senior: Kepergian Francesco Acerbi dan Stefan de Vrij pada bursa transfer musim panas lalu menghilangkan kedalaman pengalaman serta ketenangan di ruang ganti.
- Kondisi Manuel Akanji: Performa Akanji musim ini juga dipengaruhi oleh kelelahan fisik usai tampil habis-habisan membela Timnas Swiss di ajang Piala Dunia.
Bagi Chivu dan staf kepelatihan, pekerjaan rumah terbesar saat ini adalah segera memulihkan mentalitas spartan, meningkatkan konsentrasi bertahan, dan mengembalikan “rasa lapar” agar benteng pertahanan Inter kembali kokoh seperti sedia kala.

Leave a Reply