Inter di Tengah Badai Kritik, Chivu: “Fokus Kami Bodo/Glimt”

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, angkat suara soal badai kontroversi yang mengikuti kemenangan tipis 3-2 atas Juventus dalam Derby d’Italia di San Siro.

Kemenangan tersebut menjadi hasil besar pertama Chivu di laga berprofil tinggi Serie A. Namun alih-alih membahas taktik atau performa, sorotan publik justru tertuju pada insiden antara Alessandro Bastoni dan Pierre Kalulu yang berujung kartu merah.

Chivu pun tak tinggal diam. Ia membalas kritik media dengan pernyataan tajam: “Cukup dengan moralisme.”

Namun, Chivu kini memilih mengalihkan seluruh fokusnya ke laga krusial menghadapi Bodo/Glimt pada leg pertama babak play-off Liga Champions 2025/26 yang akan digelar Kamis (19/2/2026) pukul 03.00 WIB, sebuah duel penting yang bisa menentukan arah perjalanan Inter di kompetisi elit Eropa musim ini.

Kontroversi yang Mengubah Arah Pertandingan

Insiden terjadi di babak pertama ketika Alessandro Bastoni terjatuh dalam duel dengan Kalulu, yang sudah mengantongi kartu kuning. Wasit Federico La Penna menganggapnya pelanggaran dan langsung mengusir bek Juventus tersebut.

Keputusan itu mengubah dinamika laga. Inter yang sebelumnya kesulitan, kini menghadapi 10 pemain. Meski demikian, Nerazzurri baru memastikan kemenangan lewat gol dramatis Piotr Zielinski di menit akhir.

Publik dan media pun ramai mengkritik Bastoni, bahkan menyebutnya melakukan diving.

Namun bagi Chivu, reaksi tersebut berlebihan.

Fokus ke Liga Champions: Bodo/Glimt Menanti

Di tengah polemik domestik, Inter tak punya banyak waktu untuk larut dalam kontroversi.

Mereka akan menghadapi Bodo/Glimt dalam leg pertama play-off fase gugur Liga Champions di Norwegia.

Chivu menyadari tantangan berat yang menanti.

“Mari kita fokus pada kekuatan Bodo, kami tahu ini tidak akan mudah. Ada banyak pemain hebat di sana, kami harus siap,”  ujar Chivu.

“Ini kompetisi berbeda. Kita semua tahu pentingnya pertandingan ini,”

“Sejauh ini di Liga Champions, kami telah bermain cukup baik,”

“Namun, sayangnya, kami harus melalui babak play-off melawan tim tangguh yang telah menyulitkan Man City dan Atletico,”

“Mereka adalah tim tangguh, dengan klub yang sedang berkembang, seperti sepak bola Norwegia secara keseluruhan,”

Ia juga menyoroti tantangan bermain di lapangan sintetis serta jadwal padat.

“Tidak ada jaminan keajaiban. Tapi secara mental kami siap untuk 180 menit. Mereka tak punya apa-apa untuk kehilangan, dan itu bisa membuat mereka berbahaya,”

Soal Bastoni: Perspektif Berbeda

Ketika ditanya soal aksi Bastoni, Chivu memilih pendekatan filosofis.

“Mengapa sepak bola menjadi olahraga paling dicintai? Karena kita menyukai kontroversi dan kritik,”

Ia tak secara eksplisit membenarkan diving, tetapi menekankan bahwa sepak bola selalu diwarnai perdebatan.

Chivu: “Tim Puncak Klasemen Selalu Dibenci”

Dalam konferensi pers, Chivu menyindir keras narasi yang berkembang.

“Anda harus menerima kritik dan memahami bahwa tim di puncak klasemen selalu paling dibenci dan paling dikritik. Sepak bola selalu seperti ini,” tegas Chivu.

Ia menegaskan bahwa insiden kontroversial adalah bagian dari permainan.

“Ada momen yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Tapi kita harus berhenti mengeluh dan berhenti dengan moralisme. Hal-hal seperti ini terjadi setiap Minggu, sejak Maradona mencetak gol dengan tangannya,”

Referensi Chivu jelas mengarah pada momen legendaris Diego Maradona di Piala Dunia 1986, simbol bahwa kontroversi bukan hal baru dalam sepak bola.

Sindiran untuk Media: “Saat Kami Dirugikan Napoli, Semua Diam”

Chivu juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap apa yang ia nilai sebagai standar ganda.

“Melawan Napoli, kami dirugikan. Saya katakan ini untuk pertama kalinya. Tapi tak satu pun dari kalian mengatakan apa-apa,”

Pernyataan ini mempertegas sikapnya bahwa sorotan terhadap Inter terasa tidak proporsional.

Menurutnya, reaksi keras yang muncul sekarang bisa jadi karena Inter sedang berada di puncak klasemen dan menjadi ancaman serius dalam perburuan gelar.

“Mari kita melangkah maju, menyadari bahwa musim masih panjang. Kami ingin terus bersaing, tanpa mendengar bagaimana kami didefinisikan di awal musim,”

“Reaksi ini muncul pada bulan Februari, dan mungkin seseorang tidak senang dengan posisi kami di puncak klasemen.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*