
Menjelang pertandingan besar (big match) melawan sang juara bertahan Serie A, Inter Milan pada pekan ke-11 Serie A 2026-27, pelatih Como, Cesc Fabregas, memberikan pandangannya secara terbuka.
Dalam konferensi pers terbarunya, mantan gelandang Arsenal dan Barcelona ini mengakui kekuatan absolut Nerazzurri, namun tetap menyimpan ambisi untuk menciptakan kejutan di San Siro.
Datang dengan modal positif setelah mencetak sejarah kemenangan atas Lens, Como kini dihadapkan pada ujian sesungguhnya. Fabregas menyadari bahwa laga tandang ke markas Inter Milan akan menjadi tolak ukur sejauh mana tim asuhannya bisa bersaing di level tertinggi.
Ujian Kematangan di San Siro: Menghadapi Tim Terkuat Italia
Ketika ditanya apakah laga di San Siro merupakan ujian kematangan bagi Como, Fabregas memberikan jawaban yang membumi. Ia menekankan bahwa setiap pekan di Serie A adalah ujian bagi timnya.
“Tampaknya setiap minggu adalah ujian kematangan berdasarkan apa yang selalu Anda (jurnalis) tanyakan. Memang benar, kami tahu musim ini akan sangat spesial bagi kami,” ujar Fabregas.
Ia menambahkan,
“Ini adalah pertandingan penting. Kami datang dengan dinamika yang baik, tetapi ini adalah ujian untuk melihat sejauh mana kami bisa melangkah. Inter adalah tim terkuat di Italia; setelah laga ini, kita akan melihat di mana level kami sebenarnya,”
Como memiliki catatan kurang menguntungkan saat bertemu Inter, di mana mereka nyaris menang dalam tiga kesempatan namun selalu gagal saat Inter menaikkan tempo permainan. Fabregas menginstruksikan anak asuhnya untuk fokus pada filosofi permainan sendiri tanpa beban tekanan.
Ancaman Lini Depan: Mewaspadai Marcus Thuram
Tanpa kehadiran Lautaro Martinez, lini serang Inter Milan tetap sangat menakutkan, terutama berkat performa impresif Marcus Thuram. Fabregas menyoroti kualitas penyerang asal Prancis tersebut sebagai ancaman utama.
“Thuram sangat menentukan karena ia adalah pemain yang fantastis. Ia bergerak dengan kuat dan cepat, menyerang ruang, turun menjemput bola, dan bahkan bertahan dengan baik,” puji Fabregas.
“Bagaimana cara menghentikan pemain seperti Thuram atau Lewandowski? Saya tidak tahu pastinya, yang jelas butuh performa hebat dan saling membantu. Mereka adalah penyerang top yang selalu menemukan celah, membuat bek harus berpikir ekstra keras. Kami benar-benar membutuhkan pertandingan yang sempurna,” tambahnya.
Kunci Menutup Celah Kualitas: Efisiensi Peluang
Fabregas menyadari bahwa perbedaan kualitas antara timnya dengan peraih gelar Scudetto, Coppa Italia, dan finalis Liga Champions itu sangat lebar. Kunci untuk menutupi jurang tersebut adalah efisiensi di depan gawang.
Ia mengingatkan bahwa Inter bisa menghukum lawan hanya dengan satu atau dua peluang. Oleh karena itu, Como dituntut untuk memiliki tingkat efisiensi minimal 60% seperti saat mereka menaklukkan Lens.
“Mencetak gol akan sangat membantu. Jika kita hanya memikirkan kehebatan mereka (Inter), segalanya akan menjadi mustahil. Kami harus tetap tenang dan memainkan pertandingan kami sendiri,” tegas pelatih asal Spanyol tersebut.
Kondisi Skuad: Keputusan Chalobah dan Kebanggaan Pemain Muda
Terkait kondisi skuad, Fabregas memberikan update mengenai Trevoh Chalobah dan Diao. Sang pelatih memilih langkah hati-hati dan enggan mengambil risiko.
“Kami terus memantaunya hingga hari ini. Jika dipaksakan, ia (Chalobah) mungkin bisa bermain 5-6 menit, tapi saya tidak mau mengambil risiko. Lebih baik mempersiapkannya selama dua pekan ke depan untuk laga melawan Cagliari. Masih ada 38-40 pertandingan tersisa. Diao? Ia juga belum bisa tampil,” jelasnya.
Di sisi lain, Fabregas mengungkapkan kebanggaannya atas pemanggilan para pemain muda ke tim nasional. Ia menyoroti pemanggilan Liberali, Cassano (yang menunjukkan fokus Mancini pada pemain muda), serta Ramon yang dipanggil ke Timnas Spanyol.
Fabregas menegaskan bahwa Como adalah klub yang sangat percaya pada potensi pemain muda sebagai pondasi masa depan sepak bola.

Leave a Reply