
Pelatih Como, Cesc Fabregas mengungkap bahwa Inter Milan era Simone Inzaghi menjadi salah satu sumber inspirasinya dalam merancang strategi untuk menghadapi AS Roma asuhan Gian Piero Gasperini.
Menuru Fabregas, pendekatan permainan Nerazzurri di bawah Inzaghi memberikan sejumlah pelajaran berharga tentang cara mengeksploitasi kelemahan tim yang dilatih Gasperini.
Pernyataan itu muncul setelah Como bermain imbang 0-0 melawan Roma dalam laga pekan ke-6 Serie A 2026-27 di Stadion Sinigaglia. Hasil tersebut terbilang mengejutkan karena kedua tim dikenal memiliki pendekatan menyerang dan biasanya berusaha menciptakan banyak peluang.
Fabregas bahkan menilai penampilan Como ketika pertandingan masih berlangsung dengan 11 pemain di masing-masing tim sebagai salah satu performa terbaik dalam karier kepelatihannya saat menghadapi Roma.
Meski puas dengan kualitas permainan yang ditunjukkan, ia tetap menyayangkan kegagalan timnya memaksimalkan peluang untuk meraih kemenangan.
Yang menarik, ketika membicarakan pendekatan taktik untuk menghadapi Gasperini, Fabregas justru menyebut nama mantan pelatih Inter, Simone Inzaghi sebagai referensi penting.
Fabregas: Inter Era Inzaghi Paling Bisa Menyakiti Gasperini
Dalam wawancara bersama DAZN Italia, Fabregas secara terbuka menjelaskan tim yang menurutnya paling berhasil merepotkan Roma ketika masih ditangani Gasperini.
“Menurut pandangan saya, tim yang paling menyulitkan Gasperini adalah Inter-nya Simone Inzaghi. Dari situlah saya mulai mempelajari beberapa aspek dan mendapatkan sejumlah ide,” ujar Fabregas.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Fabregas tidak hanya mengandalkan intuisi dalam menyusun strategi. Ia juga mempelajari pendekatan tim lain untuk memahami cara menghadapi lawan dengan karakteristik tertentu.
Inter asuhan Inzaghi dikenal dengan sistem tiga bek dan formasi dasar 3-5-2. Permainan mereka mengandalkan pergerakan kolektif, kombinasi cepat, pergantian sisi serangan, serta kemampuan pemain tengah dan wing-back untuk menciptakan keunggulan di berbagai area lapangan.
Karakteristik tersebut menjadi referensi menarik ketika menghadapi tim Gasperini, yang juga mengutamakan intensitas, organisasi agresif, dan tekanan terhadap lawan.
Meski Fabregas tidak merinci aspek taktik apa saja yang secara spesifik ia tiru, pengakuannya memperlihatkan bahwa pengalaman Inter menghadapi tim Gasperini memberikan pelajaran yang ingin diterapkan Como.
Como Tampil Berani Menghadapi Roma
Hasil akhir 0-0 tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan Como melawan Roma. Kedua tim tetap memiliki kesempatan untuk mencetak gol, tetapi penyelesaian akhir dan penampilan para penjaga gawang membuat skor tidak berubah hingga pertandingan selesai.
Lorenzo Pellegrini sempat mengancam dengan tembakan yang membentur tiang gawang. Di sisi lain, Pierluigi Gollini melakukan sejumlah penyelamatan penting untuk menggagalkan peluang Nico Paz.
Fabregas menilai keberanian menjadi faktor utama ketika menghadapi Roma. Menurutnya, tim tidak akan mendapatkan hasil maksimal apabila hanya memikirkan aspek taktik tanpa memiliki keberanian untuk menguasai bola dan memainkan sepak bola yang diinginkan.
“Untuk menghadapi Roma, dibutuhkan karakter yang kuat. Jika sejak awal hanya berfokus pada taktik tanpa keberanian memainkan bola, Anda tidak akan mendapatkan poin,” jelas Fabregas.
Ia juga mengaku puas dengan performa Como ketika pertandingan masih berlangsung dengan jumlah pemain yang sama.
“Ketika kedua tim masih bermain dengan 11 pemain, menurut saya itu adalah salah satu penampilan terbaik dalam karier saya saat menghadapi Roma. Ada penyesalan terhadap hasil akhirnya, tetapi performanya sudah terlihat,” tambahnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa bagi Fabregas, kualitas penampilan tim tidak selalu bisa diukur hanya dari hasil akhir. Como mampu menjalankan pendekatan permainan yang diinginkannya, meskipun belum berhasil mengubah dominasi dan peluang menjadi kemenangan.
Kartu Merah Malen Mengubah Jalannya Pertandingan
Pertandingan tersebut juga diwarnai sejumlah keputusan penting wasit. Menjelang turun minum, Como meminta Wesley mendapat kartu merah atau setidaknya pelanggaran diberikan setelah pemain Roma itu dianggap menginjak bagian belakang kaki Assane Diao.
Insiden lain terjadi pada menit ke-53 ketika Donyell Malen menerima kartu merah langsung akibat tekel yang mengenai pergelangan kaki Bruno Kaiki.
Bermain dengan 10 pemain membuat Roma harus menyesuaikan pendekatan mereka. Tim tamu kemudian berusaha mempertahankan hasil imbang hingga peluit akhir, meskipun Como memiliki keunggulan jumlah pemain.
Bagi Fabregas, situasi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan dengan lebih baik oleh timnya. Ia menilai Como kurang efektif ketika menguasai bola dan tidak cukup sabar dalam membangun serangan.
“Kami tidak memaksimalkan keunggulan jumlah pemain, termasuk ketika menguasai bola. Seharusnya kami lebih sabar dan mengalirkan bola dengan lebih cepat,” ungkapnya.
Fabregas tetap menemukan sisi positif dari penampilan anak asuhnya. Meski masih berusia relatif muda sebagai sebuah tim, Como mampu menghindari situasi serangan balik yang berbahaya.
“Tim ini masih muda, tetapi kami berhasil menghindari situasi serangan balik. Dalam hal itu, ada hal positif yang bisa diambil,” lanjutnya.
Hasil imbang tersebut memang menyisakan penyesalan, tetapi juga memberikan bahan evaluasi penting bagi Como untuk meningkatkan efektivitas permainan.

Leave a Reply