
Bacary Sagna memberikan penilaian menarik mengenai kiprah para pemain Inggris di Inter Milan. Mantan bek Arsenal dan Manchester City tersebut menyebut Inter Milan sebagai klub yang sangat ideal bagi John Stones, Djed Spence, dan Curtis Jones untuk berkembang di Serie A.
Menurut Sagna, Inter memiliki karakter permainan yang paling mendekati gaya sepak bola Inggris dibandingkan klub-klub Serie A lainnya.
Faktor tersebut diyakini dapat membuat para pemain Inggris lebih cepat beradaptasi dengan kehidupan dan kompetisi di Italia.
Sagna bahkan mengaku memiliki hubungan emosional dengan Inter. Mantan bek tim nasional Prancis itu mengungkapkan bahwa dirinya pernah sangat dekat untuk bergabung dengan Nerazzurri pada 2014.
Sagna Mengaku Sebagai Interista
Sagna tidak menyembunyikan kecintaannya kepada Inter Milan. Dalam wawancaranya bersama The Italian Football Podcast pada sebuah acara daring yang diselenggarakan TalkSPORT Bet Online Slots, ia mengungkapkan bahwa dirinya merupakan seorang Interista.
“Saya Interista. Saya mencintai klub ini. Saya sangat dekat untuk bergabung dengan Inter pada 2014,” ujarnya.
Sagna bahkan masih mengingat pertemuannya dengan Piero Ausilio, mantan direktur olahraga Inter yang baru saja meninggalkan klub setelah 28 tahun mengabdi.
Bagi Sagna, kegagalan bergabung dengan Inter menjadi salah satu pertanyaan terbesar dalam perjalanan kariernya.
Ia mengaku terkadang masih berpikir mengenai apa yang mungkin terjadi apabila transfer tersebut benar-benar terwujud.
“Saya bertemu Piero Ausilio dan mungkin itu menjadi pertanyaan yang akan saya bawa sepanjang hidup saya: bagaimana jika saya bergabung dengan Inter?” sambungnya.
Meski akhirnya tidak pernah mengenakan seragam Nerazzurri, kecintaan Sagna terhadap Inter tetap bertahan hingga sekarang.
Ia bahkan mengaku senang melihat klub tersebut semakin sukses.
“Karena masih mencintai klub ini hingga sekarang, saya senang melihat mereka meraih kesuksesan,”
Mengapa Inter Dinilai Cocok untuk Pemain Inggris?
Sagna memiliki alasan kuat ketika menyebut Inter sebagai klub yang sempurna bagi para pemain Inggris.
Menurutnya, karakter permainan Inter memiliki sejumlah kesamaan dengan sepak bola Premier League. Hal tersebut dapat membantu pemain seperti Stones, Spence dan Curtis Jones beradaptasi dengan Serie A.
“Saya senang melihat mereka merekrut mantan rekan setim dan pemain Premier League. Saya pikir mereka akan memberikan dampak langsung kepada liga melalui cara bermain mereka dan bagaimana mereka dibesarkan dalam sepak bola Inggris,” kata Sagna.
Perbedaan karakter antara sepak bola Italia dan Inggris juga menjadi perhatian Sagna.
Ia menilai sepak bola Italia secara umum memiliki intensitas yang berbeda dibandingkan Premier League. Karena itu, pemain Inggris yang mempunyai kemampuan teknik serta pemahaman permainan yang baik dapat menemukan situasi yang lebih nyaman di Serie A.
“Sepak bola Italia berbeda dengan Inggris. Intensitasnya lebih rendah, jadi saya pikir mereka akan merasa lebih nyaman. Mereka adalah pemain pintar dan bagus dalam menguasai bola,”
“Kalau saya harus memilih klub dengan identitas terbaik dan yang paling mirip dengan klub bergaya Inggris, saya akan mengatakan Inter,”
Inter Dianggap Memiliki Proyek yang Sangat Menarik
Sagna juga menyoroti perkembangan Inter dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, Nerazzurri telah menunjukkan konsistensi luar biasa, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.
Ia secara khusus memuji Piero Ausilio yang menurutnya telah melakukan pekerjaan luar biasa selama berada di Inter.
“Inter itu pintar. Piero Ausilio adalah orang yang cerdas dan dia telah melakukan pekerjaan luar biasa di klub,”
Kepergian Ausilio tidak luput dari perhatian Sagna. Namun, ia tetap melihat Inter sebagai salah satu klub dengan pengelolaan dan performa paling konsisten di Italia.
Dalam beberapa musim terakhir, Inter memang berhasil membangun reputasi sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Italia. Selain bersaing untuk gelar domestik, Nerazzurri juga dua kali mencapai final Liga Champions dalam periode lima tahun.
Menurut Sagna, pencapaian tersebut turut membuat Inter semakin menarik bagi pemain-pemain berkualitas dari luar Italia.
“Mereka melihat sejarah klub dan mungkin itulah mengapa sekarang lebih mudah bagi Inter untuk menarik pemain,” ujarnya.
John Stones Punya Pengalaman Menghadapi Inter
Sagna juga melihat John Stones memiliki alasan tersendiri untuk memahami kualitas Inter.
Bek asal Inggris tersebut pernah menghadapi Nerazzurri di final Liga Champions saat membela City. Pengalaman tersebut menurut Sagna memungkinkan Stones melihat secara langsung kualitas permainan Inter sebelum akhirnya menjadi bagian dari klub tersebut.
“John Stones bermain melawan Inter di final. Dia mungkin melihat Inter dan menyaksikan kualitas mereka saat itu,”
Bagi Sagna, pengalaman menghadapi sebuah klub sebelum bergabung dapat membantu pemain memahami standar yang akan mereka hadapi setelah menjadi bagian dari tim tersebut.
Djed Spence Disebut Lebih Seimbang daripada Dumfries
Nama Djed Spence menjadi salah satu yang paling mendapat sorotan dari Sagna.
Mantan bek Arsenal itu memberikan penilaian sangat positif terhadap pemain Inggris tersebut. Bahkan, Sagna menilai Spence memiliki keseimbangan permainan yang lebih baik dibandingkan Denzel Dumfries.
“Saya pikir Djed Spence sangat seimbang. Dia sangat bagus ketika menyerang,” kata Sagna.
Ia juga mengingat performa Spence di level internasional dan menilai sang pemain memiliki kemampuan yang sangat menonjol ketika bermain untuk Inggris.
Menurut Sagna, kecepatan menjadi salah satu senjata utama Spence. Ia mampu membantu serangan, melakukan duel satu lawan satu, sekaligus cepat kembali ke posisi ketika kehilangan bola.
“Dia cepat. Dia bisa pulih dengan cepat dari sebuah situasi. Dia tidak pernah keluar dari posisi. Dia juga bagus dalam situasi satu lawan satu,”
Perbandingan dengan Dumfries pun tidak terhindarkan.
Sagna mengakui bahwa Dumfries merupakan pemain yang sangat berbahaya dalam membantu serangan, termasuk melalui kontribusinya dalam mencetak gol. Namun, ia melihat Spence menawarkan keseimbangan berbeda.
“Menurut saya dia adalah pemain yang lebih seimbang daripada Dumfries,”
“Spence sangat bagus saat membantu serangan. Saya tidak tahu apakah orang-orang menyaksikan pertandingan Inggris selama Piala Dunia, tapi dia mungkin salah satu pemain yang paling berpengaruh bagi Inggris,”
“Dia sering maju membantu serangan. Dia piawai menyerang dan punya kecepatan. Dia bisa cepat memulihkan posisi saat situasi berubah. Dia jarang kehilangan posisi. Kemampuan satu-lawan-satunya juga bagus. Jadi, menurut saya dia pemain yang lebih seimbang dibandingkan Dumfries,”
“Dumfries memang sangat bagus saat menyerang dan punya peran penting dalam penyerangan, bahkan mencetak gol. Tapi menurut saya, Inter tidak akan rugi dengan pergantian ini,”
“Spence adalah pemain top, dan dia akan membuktikan semua orang yang meragukannya salah,”
Salah satu hal menarik dari penjelasan Sagna adalah bagaimana ia melihat persaingan di sisi kanan Inter.
Kehadiran Spence memberikan pelatih Cristian Chivu opsi berbeda. Ketika Inter lebih banyak menguasai bola dan membutuhkan pemain dengan kemampuan menyerang, pemain lain seperti Andy Diouf dapat memberikan kontribusi berbeda.
Namun, ketika lawan mempunyai pemain sayap yang berbahaya, kemampuan bertahan Spence bisa menjadi sangat penting.
“Ketika menghadapi tim yang menyerang dengan winger- winger sulit, secara defensif Anda harus menutup sisi tersebut, dan mungkin Spence menjadi pilihan yang lebih baik,”
Inter Punya Kemewahan Memilih Sesuai Lawan
Bagi Sagna, kekuatan Inter bukan hanya terletak pada kualitas individu pemain, tetapi juga banyaknya pilihan yang tersedia untuk pelatih.
Spence dapat memberikan keseimbangan defensif, sedangkan pemain dengan karakter lebih menyerang dapat digunakan ketika pertandingan menuntut pendekatan berbeda.
“Ketika pertandingan terbuka dan Anda harus lebih banyak menyerang atau mengubah sesuatu secara taktis, Diouf juga bisa memberikan pengaruh,”
Menurut Sagna, memiliki dua pemain dengan karakter berbeda tetapi sama-sama berkualitas merupakan keuntungan besar bagi seorang pelatih.
“Memiliki pilihan sebagai pelatih itu luar biasa. Mungkin itulah alasan Chivu ingin membeli Spence.”

Leave a Reply