
Hasil imbang 2-2 Inter Milan melawan Roma pada pekan ke-5 Serie A 2026-27 di Olimpico kembali memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai konsistensi pertahanan Nerazzurri.
Mantan pemain dan analis Paolo Di Canio menilai Inter Milan masih terlalu mudah memberikan ruang kepada lawan, bahkan ketika pertandingan sebenarnya berada dalam kendali mereka.
Inter Dinilai Terlalu Mudah Kebobolan
Menurut Di Canio, persoalan besar Inter adalah kecenderungan mereka memberikan peluang kepada lawan dalam situasi ketika Nerazzurri sebenarnya sedang mengontrol pertandingan.
“Inter banyak kebobolan, bahkan dalam situasi ketika mereka sedang mendominasi jalannya laga,”
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena Inter dikenal sebagai tim yang mampu menguasai permainan melalui sirkulasi bola dan struktur yang terorganisasi.
Di Canio kemudian secara khusus membedah proses terciptanya gol pertama Roma.
Menurutnya, Inter tidak memberikan tekanan yang cukup ketika Roma mengembangkan serangan dari sisi lapangan.
“Pada gol pertama Roma, tidak ada tekanan agresif. Mereka membiarkan lawan kembali untuk melakukan perpindahan arah permainan, lalu Koné masuk ke ruang kosong dan sendirian. Langkah mereka seperti sedang berjalan santai, tidak ada agresivitas,”
Kritik Di Canio menarik karena Inter sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengontrol pertandingan melalui penguasaan bola.
Masalahnya, kontrol tersebut tidak selalu diterjemahkan menjadi kontrol defensif.
Sebuah tim dapat menguasai bola dalam waktu lama, tetapi tetap rentan ketika kehilangan bola atau ketika lawan berhasil melakukan pergantian arah permainan dengan cepat.
Situasi seperti inilah yang menjadi perhatian Di Canio.
Inter perlu memastikan bahwa para pemain yang berada di sekitar bola tidak hanya siap menerima umpan berikutnya, tetapi juga memiliki kesadaran untuk segera menutup ruang apabila serangan berubah arah.
Dalam sistem dengan tiga bek dan dua wing-back, koordinasi antarlini menjadi sangat penting. Ketika salah satu pemain terlambat bergerak, ruang di antara lini dapat terbuka dan dimanfaatkan pemain lawan.
Di Canio: Zielinski Saya Suka, tetapi…
Di Canio mengaku sangat menyukai kualitas yang dimiliki Zielinski. Namun, menurutnya, ketika gelandang asal Polandia tersebut dimainkan dalam peran tertentu, kontribusinya tanpa bola menjadi sangat penting.
“Saya sangat menyukai Zielinski, tetapi dalam peran tersebut dia menjadi sangat penting ketika tidak menguasai bola, terutama dalam situasi perebutan bola. Dia harus memberikan keseimbangan, dan sejauh ini dia tampil sangat baik dalam mengatur permainan,”
Namun, persoalannya muncul ketika Inter harus bertahan dalam situasi-situasi tertentu.
Di Canio menilai Zielinski beberapa kali tidak hadir pada momen terakhir ketika lawan berhasil menciptakan peluang berbahaya.
“Namun, pada gol kedua Udinese, gol Hojlund saat melawan Napoli, dan gol pertama Manu Kone, dalam situasi-situasi seperti itu, dia yang tidak hadir pada momen terakhir,”
Analisis tersebut bukan berarti Di Canio menganggap Zielinski sebagai satu-satunya penyebab masalah pertahanan Inter.
Sebaliknya, ia menyoroti kebutuhan Inter untuk menjaga keseimbangan ketika kehilangan bola dan ketika lawan mulai membangun serangan.
Kualitas teknis seorang pemain tentu sangat membantu saat menguasai bola. Namun, dalam skema permainan yang menuntut intensitas tinggi, kontribusi tanpa bola juga menjadi bagian penting.

Leave a Reply