
Christian Chivu membuka sisi emosional perjalanan hidupnya. Pelatih Inter Milan itu mengenang sang ayah, Mircea, yang meninggal ketika dirinya baru berusia 17 tahun. Sehari setelah kehilangan tersebut, Chivu tetap turun ke lapangan dan merasa harus memikul tanggung jawab besar terhadap keluarganya.
Di balik sosok Christian Chivu sebagai pelatih Inter Milan saat ini, terdapat perjalanan hidup yang penuh dengan ujian, disiplin, dan tanggung jawab.
Dalam wawancara bersama FUTNET, Chivu menceritakan sejumlah bagian penting dalam hidupnya, mulai dari masa kecil di Reșița, kehilangan sang ayah ketika masih remaja, perjalanan menuju Ajax, hingga pengalaman menjadi kapten klub asal Amsterdam tersebut di usia yang sangat muda.
Salah satu kisah yang paling membekas terjadi pada 1998.
Saat itu Chivu baru berusia 17 tahun ketika kehilangan ayahnya, Mircea. Namun, hanya sehari setelah sang ayah meninggal dunia, ia kembali turun ke lapangan.
Bagi Chivu, keputusan tersebut bukan sekadar kewajiban sebagai pesepak bola. Ada janji yang ingin ia tepati.
“Itu adalah janji yang saya buat kepada ayah saya, sekaligus janji yang saya buat kepada diri saya sendiri,” ungkap Chivu.
“Saya merasakan beban karena menjadi satu-satunya laki-laki dalam keluarga. Saya merasakan tanggung jawab untuk menjaga saudara perempuan dan ibu saya. Saya berusaha melakukan segala sesuatu agar tidak mengecewakan harapan yang diberikan kepada saya, tetapi yang paling penting adalah memenuhi harapan yang saya tetapkan untuk diri saya sendiri,”
Didikan Keras Sang Ayah
Ketika masih kecil, ayah Chivu melatihnya dengan cara yang lebih keras dibandingkan anak-anak lainnya.
Bahkan, sang ayah terkadang menyuruhnya pulang menggunakan trem meskipun sebenarnya memiliki mobil.
“Itu adalah caranya mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada saya. Saya belajar untuk bisa mengandalkan diri sendiri,” tutur Chivu.
“Pada usia tertentu, hal seperti itu memberi Anda dorongan, suntikan kepercayaan diri dan rasa percaya pada diri sendiri yang membantu Anda menyelesaikan proses pendewasaan yang harus dilalui seorang remaja,”
Menjadi Kapten Termuda dalam Sejarah Ajax
Perjalanan Chivu kemudian berlanjut ke Ajax. Di klub Belanda tersebut, ia masih berusia sangat muda ketika dipercaya menjadi kapten termuda dalam sejarah klub.
“Menjadi kapten Ajax adalah sebuah kehormatan, berapa pun usia Anda. Kepercayaan diri berubah, banyak hal juga berubah,” kata Chivu.
“Anda bukan sekadar orang yang mengenakan ban kapten. Jika Anda memiliki sedikit kecerdasan emosional, tingkat kepercayaan diri Anda akan meningkat cukup besar.”

Leave a Reply