
Cristian Chivu berbicara terbuka mengenai masa depannya sebagai pelatih dan bagaimana ia memandang dunia sepak bola yang penuh tekanan.
Pelatih Inter Milan itu mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjalani profesi kepelatihan sepanjang hidup.
Dalam wawancara bersama Cronache di Spogliatoio, Chivu menjelaskan bahwa pekerjaan sebagai pelatih memiliki sisi yang dapat mengubah cara seseorang memandang berbagai hal. Ia juga tidak ingin kehilangan jati dirinya hanya demi bertahan lebih lama di dunia sepak bola.
Chivu Tak Akan Jadi Pelatih Sepanjang Hidup
Chivu tidak ingin membuat rencana karier dalam jangka waktu terlalu panjang.
“Apakah saya akan menghabiskan seluruh hidup saya dalam profesi ini? Tidak, saya tidak memiliki persepsi seperti itu,” ujar Chivu.
Bagi mantan pemain Inter tersebut, profesi pelatih bukan sesuatu yang ingin ia jalani tanpa batas waktu.
Chivu memilih untuk menikmati dan menjalani apa yang sedang dikerjakannya saat ini, sembari mempersiapkan masa depan sebaik mungkin.
“Saya menjalani siapa diri saya hari ini untuk mempersiapkan hari esok sebaik mungkin,” katanya.
Namun, ia tidak pernah menetapkan target seperti harus menjadi pelatih selama lima, 10, atau bahkan 20 tahun.
“Tetapi saya tidak menetapkan target lima, sepuluh, atau dua puluh tahun,”
Dunia Kepelatihan Bisa Mengubah Seseorang
Salah satu alasan Chivu tidak ingin menentukan berapa lama ia akan bertahan sebagai pelatih adalah tekanan yang melekat pada profesi tersebut.
Menurutnya, dunia sepak bola bisa mengambil banyak hal dari seseorang, terutama dalam cara mereka memandang dan merasakan berbagai situasi.
“Saya tahu ini adalah dunia yang bisa mengambil banyak hal dari Anda, terutama dari cara Anda merasakan dan memandang hal-hal tertentu,” jelasnya.
Tekanan pekerjaan dapat membuat seseorang mengambil sikap yang sebenarnya tidak sesuai dengan karakter aslinya.
Chivu menyebut risiko tersebut sebagai salah satu sisi dunia sepak bola yang tidak ia sukai.
Chivu Tak Ingin Memakai “Topeng”
Dalam pernyataannya, Chivu menggunakan istilah “topeng” untuk menggambarkan perubahan sikap yang mungkin terjadi ketika seseorang terlalu lama berada dalam lingkungan sepak bola profesional.
Menurutnya, ada fase ketika seseorang merasa harus mengenakan topeng demi menghadapi situasi tertentu.
“Risiko mengenakan topeng pada saat-saat tertentu adalah sesuatu yang tidak saya sukai,” ujar Chivu.
Bagi Chivu, menjadi pelatih bukan hanya tentang taktik, hasil pertandingan, atau trofi. Ada pula persoalan bagaimana seseorang menjaga identitas dan prinsip pribadinya ketika berada di bawah tekanan.
Karena itu, ia ingin sebisa mungkin menghindari kondisi yang membuat dirinya harus berpura-pura menjadi orang lain.
Saat Dunia Ini Mengubah Saya, Saya Akan Berhenti
Chivu bahkan sudah memiliki batas yang cukup jelas dalam pikirannya.
Ia mengatakan bahwa jika suatu hari dirinya benar-benar terseret ke dalam sisi dunia sepak bola yang tidak ia sukai, maka ia tidak akan ragu untuk mengakhiri karier kepelatihannya.
“Pada hari ketika saya tersedot ke dalam bagian dunia ini yang tidak saya sukai, saya rasa saya akan mengatakan cukup,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Chivu menempatkan prinsip pribadi di atas ambisi untuk mempertahankan karier selama mungkin.
Ia tidak ingin kesuksesan sebagai pelatih membuat dirinya kehilangan nilai-nilai yang selama ini ia pegang.
Tetap Menjadi Diri Sendiri Jadi Prinsip Chivu
Chivu menyadari bahwa cepat atau lambat seseorang bisa masuk ke fase ketika tekanan membuatnya harus mengenakan “topeng”.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi karena berbagai alasan dalam dunia sepak bola.
“Menurut saya, cepat atau lambat seseorang akan terjebak dalam fase ketika topeng itu harus dipakai karena berbagai alasan. Saya akan berusaha untuk tidak melakukannya,” katanya.
Sikap tersebut menjadi gambaran bagaimana Chivu melihat profesinya sebagai pelatih.
Ia tentu ingin meraih prestasi bersama Inter dan membangun karier yang sukses. Namun, semua itu tidak ingin dibayar dengan kehilangan jati diri.

Leave a Reply