Calhanoglu Puji Chivu: “Sebelum Dia Datang, Kami Seperti Sudah Tamat”

Hakan Calhanoglu buka suara mengenai perubahan yang dirasakan Inter Milan setelah pergantian pelatih dari Simone Inzaghi ke Cristian Chivu.

Dalam wawancara panjang bersama beIN Sports Australia, gelandang asal Turki tersebut membicarakan berbagai hal, termasuk karakter Chivu, hubungan dengan Inzaghi, hingga bagaimana skuad Nerazzurri bangkit setelah mengalami periode sulit.

Ada satu pernyataan Calhanoglu yang langsung menarik perhatian.

Menurutnya, banyak orang menganggap Inter sudah “mati” setelah apa yang terjadi pada musim sebelumnya. Namun, para pemain justru menunjukkan mentalitas kuat dan menjawab semua keraguan melalui performa di lapangan.

Dan di balik kebangkitan tersebut, Calhanoglu melihat sosok Chivu memiliki pendekatan yang sangat berbeda.

Sebelum Chivu, Kami Seperti Sudah Tamat

Calhanoglu mengakui bahwa situasi Inter sempat berada dalam kondisi sulit.

Setelah kegagalan besar yang dialami Nerazzurri pada musim sebelumnya (2024-25), banyak pihak mempertanyakan kemampuan tim untuk kembali bangkit.

Namun, para pemain Inter memilih memberikan respons melalui permainan di lapangan.

Calhanoglu mengatakan:

“Apakah Chivu istimewa? Tentu saja. Semua orang berpikir bahwa kami sudah tamat setelah apa yang terjadi tahun sebelumnya,” ujar Caalhanoglu.

Menurutnya, Inter tetap memiliki mentalitas yang kuat.

Memang sempat ada periode sulit, tetapi tim mampu merespons dengan cara yang tepat.

Bukan melalui pernyataan atau pembelaan diri, melainkan melalui pertandingan.

“Kami memiliki mentalitas yang kuat. Memang ada masa yang sulit, tetapi kami memberikan respons di atas lapangan,”

Mentalitas Kuat Jadi Kunci

Bagi Calhanoglu, salah satu kekuatan utama Inter adalah kemampuan para pemain untuk menghadapi tekanan.

Mereka mengetahui bahwa ekspektasi terhadap klub sangat tinggi.

Namun, pengalaman buruk tidak membuat skuad kehilangan kepercayaan diri.

Sebaliknya, para pemain menjadikannya sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa mereka masih mampu bersaing di level tertinggi.

Pergantian pelatih kemudian menjadi titik awal baru. Di sinilah Chivu mulai memainkan peran penting.

Calhanoglu Tak Lupakan Jasa Inzaghi

Meskipun memberikan pujian besar kepada Chivu, Calhanoglu tetap memberikan penghormatan kepada Simone Inzaghi.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki hal buruk untuk dikatakan mengenai mantan pelatih Inter tersebut.

Justru sebaliknya.

Calhanoglu mengakui bahwa Inzaghi merupakan sosok yang sangat menginginkannya ketika sang pelatih datang ke Inter.

Bersama Inzaghi, Calhanoglu berkembang bukan hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai pribadi.

“Saya tidak bisa mengatakan hal buruk apa pun tentang Inzaghi. Dia sangat menginginkan saya ketika datang ke Inter, dan saya berkembang bersamanya, baik sebagai pemain maupun sebagai pribadi,”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Calhanoglu dan Inzaghi tetap memiliki nilai penting dalam perjalanan kariernya di Inter.

Chivu Memiliki Pendekatan yang Berbeda

Namun, Calhanoglu melihat perbedaan mendasar antara Inzaghi dan Chivu.

Menurutnya, Chivu memiliki pendekatan yang lebih personal.

Bagi pelatih asal Rumania tersebut, pemain bukan sekadar bagian dari sistem taktik.

Chivu lebih dahulu melihat mereka sebagai manusia.

“Chivu berbeda, karena baginya kamu lebih penting sebagai pribadi. Bagi dia, sepak bola bukanlah satu-satunya hal yang paling penting, tetapi kamu sebagai manusia jauh lebih penting. Dia selalu siap mendengarkan, memberikan kepercayaan kepada kamu, dan membuatmu merasa nyaman,”

“Dia ingin kamu berlatih dengan baik. Dia seperti seorang saudara,”

Bagi Calhanoglu, pendekatan seperti itu memberikan dampak besar terhadap suasana di ruang ganti.

Kalau Ada Kesempatan, Tembak

Calhanoglu menjelaskan bahwa rekan-rekannya sudah mengetahui kualitas tendangan jarak jauhnya.

Bahkan sebelum pertandingan atau ketika jeda babak pertama, para pemain Inter kerap mengatakan kepadanya:

“Tidak ada rahasia, semua orang sudah mengenal saya. Bahkan rekan-rekan setim, sebelum pertandingan atau saat jeda babak pertama, selalu berkata kepada saya, ‘Kalau kamu punya kesempatan untuk menembak, tembak saja,’

“Saya sendiri juga menyadari kualitas yang saya miliki. Terkadang, ketika saya berada dalam posisi bebas, saya langsung melepaskan tembakan ke gawang dan sesekali hasilnya memang bagus.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*