Fabregas: “Inter Pantas Menang, Mereka Tim Terkuat di Eropa dalam Hal Transisi”

Pelatih Como, Cesc Fabregas, dengan lapang dada mengakui bahwa Inter Milan tampil jauh lebih superior setelah tim asuhannya menelan kekalahan 2-0 di San Siro dalam laga pekan ke-11 Serie A 2026-27, Senin (9/11/26) dini hari WIB.

Dua gol kilat dari Pio Esposito dan Marcus Thuram dalam 20 menit pertama menjadi mimpi buruk bagi skuad Fabregas.

Keunggulan ganda tersebut sukses dipertahankan Nerazzurri hingga peluit panjang berbunyi. Usai pertandingan, Fabregas tidak mencari-cari alasan dan justru memberikan pujian setinggi langit untuk efisiensi taktik sang lawan.

Awal Laga yang Buruk dan Pujian Sportif untuk Tuan Rumah

Fabregas menyadari betul bahwa timnya tidak berada di level yang sama dengan Inter pada malam itu. Mantan maestro lini tengah Arsenal dan Barcelona tersebut menyoroti rapuhnya mentalitas Como di menit-menit awal pertandingan.

“Kami tidak memulai laga dengan baik, kami melakukan beberapa kesalahan dan bermain kurang percaya diri,” ujar Fabregas kepada DAZN saat mengevaluasi performa timnya.

Meski menelan kekalahan, Fabregas tetap mengapresiasi kerja keras skuadnya yang harus beradaptasi dengan jadwal padat.

“Kami harus mengucapkan selamat kepada Inter, mereka bermain jauh lebih baik daripada kami. Kami sedang berada dalam perjalanan yang berbeda dari biasanya, bermain setiap tiga hari sekali. Namun, saya berterima kasih kepada anak-anak atas apa yang telah mereka berikan sejauh ini,”

“Inter pantas meraih kemenangan ini. Kami harus menjabat tangan mereka dan move on. Tuntutan akan selalu meningkat dan kami harus terus melangkah. Saya tidak mencari alasan, begitulah sepak bola, dan seorang pelatih harus beradaptasi. Tanggung jawab saya adalah mencari solusi,” tambahnya.

Inter Terkuat di Eropa dalam Transisi

Salah satu faktor utama kekalahan Como, menurut Fabregas, adalah kesalahan elementer dalam memberikan bola kepada lawan. Kesalahan ini berakibat fatal karena Inter memiliki senjata mematikan dalam hal serangan balik (counter-attack).

Krisis pemain tengah juga memaksa Fabregas melakukan penyesuaian taktik.

“Kami hanya memiliki dua pemain sentral, jadi saya mencoba membantu dengan memasukkan Smolcic. Cara kami kalah hari ini sangat menyakitkan, terutama karena bola-bola yang kami berikan ke lawan dengan terlalu mudah,”

“Hal itu membuat Anda kehilangan kepercayaan diri karena Inter sangat kuat dalam transisi. Bagi saya, mereka adalah yang terkuat di Eropa dalam hal transisi,” puji Fabregas.

Pengalaman dan “Pelanggaran Taktis” yang Cerdas

Lebih lanjut, Fabregas membedah bagaimana Inter Milan menggunakan pengalaman mereka untuk mematikan ritme permainan Como. Selain mematikan di skema transisi dan bola mati (set-pieces), kecerdasan pemain Inter dalam melakukan tactical foul (pelanggaran taktis) menjadi sorotan khusus sang pelatih.

“Inter adalah salah satu tim terbaik di luar sana dalam hal serangan balik dan set-pieces. Mereka melakukan 13 pelanggaran hari ini, dan melakukannya dengan sangat baik karena mereka tidak mendapat satu pun kartu peringatan,” urai pelatih asal Spanyol tersebut.

Fabregas menekankan bahwa dalam pertandingan besar tingkat tinggi, sekadar merusak ritme lawan sudah cukup untuk berdampak besar pada hasil akhir.

“Detail-detail seperti inilah yang menunjukkan seberapa besar pengalaman yang mereka (Inter) miliki, dan itulah yang saat ini masih belum kami miliki.” Pungkasnya.

Pernyataan jujur dari Cesc Fabregas ini menegaskan status Inter Milan bukan hanya sebagai raksasa Italia, tetapi juga sebagai kekuatan taktis yang sangat ditakuti di level elit Eropa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*