
Kemenangan telak 3-0 atas Sassuolo pada pekan ke-11 Serie A 2026-27 membawa AS Roma melesat ke peringkat kedua klasemen sementara, menggeser Inter Milan dan kini menempel ketat Lazio di puncak.
Usai pertandingan, sang pelatih, Gian Piero Gasperini, memberikan wawancara menarik kepada Sky Sport terkait performa tim, jadwal padat, hingga persaingan panas perebutan Scudetto.
Gasperini tampak sangat puas dengan evolusi taktik dan mentalitas anak asuhnya, namun ia juga mengirimkan psywar halus kepada para pesaing di papan atas Liga Italia.
Pujian untuk Hermoso, Soulé, dan Pembelaan bagi Balerdi
Mengomentari jalannya pertandingan, Gasperini memberikan sorotan khusus kepada Mario Hermoso yang mencetak gol pembuka. Menurutnya, gol tersebut dicetak dengan insting layaknya seorang penyerang murni.
“Gol Hermoso adalah gol yang luar biasa dilihat dari cara ia menguasai bola dan melepaskan tembakan untuk memecah kebuntuan. Kami bermain dengan penuh kesabaran dan kualitas tinggi,” puji Gasperini.
Ia juga tak lupa memuji penampilan memukau Matias Soulé serta memberikan pembelaan kepada Balerdi, yang sempat melakukan blunder saat melawan Manchester United di Old Trafford beberapa waktu lalu.
“Balerdi sebenarnya menampilkan performa hebat di Old Trafford sebelum kesalahan itu terjadi. Apalagi kita harus ingat ada penalti absurd yang diberikan di Manchester ditambah insiden ia terpeleset,” belanya.
Evolusi Lini Serang Roma: Semakin Tajam dan Beragam
Salah satu poin penting yang digarisbawahi Gasperini musim ini adalah peningkatan signifikan dalam produktivitas gol AS Roma.
“Musim ini kami meningkatkan kemampuan mencetak gol secara drastis. Kami melakukannya dengan berbagai cara dan melalui pemain yang berbeda-beda. Tim ini telah mencapai level kejernihan berpikir dan kepercayaan diri yang tinggi. Tim ini tidak perlu lagi memberikan jawaban, mereka hanya terus memberikan pembuktian,” tegas mantan pelatih Atalanta tersebut.
Sakit Hati di Eropa, Bangkit di Domestik
Gasperini tidak menampik bahwa timnya baru saja melewati periode “neraka” dengan memainkan 9 pertandingan dalam waktu kurang dari satu bulan. Dalam periode tersebut, mereka bermain imbang melawan Como dan Napoli, serta menelan kekalahan dari raksasa Eropa, Real Madrid dan Manchester United.
“Kekalahan itu sangat menyakitkan karena terjadi di menit-menit akhir setelah kami bermain di level tertinggi melawan tim-tim bernilai absolut. Tetapi, kami belajar bahwa selalu ada hal positif bahkan dalam kekalahan,” jelasnya.
Menolak Finis Kedua dan Menunggu Inter Milan Terpeleset
Saat ditanya oleh jurnalis apakah ia merasa puas jika Roma mengakhiri musim di posisi kedua, Gasperini menjawab dengan tegas sambil tertawa.
“Tentu saja saya katakan tidak! (tertawa). Sangat indah bisa bersaing di kejuaraan ini. Kita tidak boleh terlalu berkhayal, namun juga jangan mudah kecewa. Saya tidak tahu sejauh mana kami bisa melangkah, tapi seperti kata banyak orang, Inter Milan adalah tim yang paling difavoritkan, dan itu wajar,”
Meski mengakui Inter sebagai pemegang pole position untuk Scudetto, Gasperini memastikan Roma dan tim lain seperti Lazio (yang meraih 9 kemenangan dari 10 laga) siap menerkam.
Menjelang laga Inter Milan kontra Como, Gasperini menutup wawancara dengan candaan khas sepak bola Italia:
“Inter vs Como besok jam 18:00? Kami semua akan bertengger di dahan seperti burung hantu (gufi) besok.”
(Catatan: Di Italia, istilah ‘gufare’ atau menjadi burung hantu berarti menonton pertandingan lawan dengan harapan mereka bernasib sial atau kehilangan poin).

Leave a Reply