Kritik Tajam Libero: Keputusan Taktik ‘Horor’ Chivu Hancurkan Jati Diri Inter Milan

Kekalahan menyakitkan dalam Derby della Madonnina pekan ke-10 Serie A 2026-27 melawan AC Milan berbuntut panjang bagi pelatih Inter Milan, Cristian Chivu.

Chivu kini resmi berada di bawah tekanan besar dan menghuni kursi pesakitan.

Harian ternama Italia, Libero, melancarkan kritik terbuka dan tajam terhadap keputusan-keputusan taktis yang diambil oleh Chivu.

Pendekatan eksperimental sang pelatih dinilai justru menjadi bumerang yang merusak fondasi permainan Inter.

Keputusan Taktik yang Dianggap “Horor” Tanpa Alasan Jelas

Sorotan utama dari kritik Libero tertuju pada keputusan Chivu mengubah formasi dasar tim menjadi 3-4-2-1.

Skema ini dinilai tidak memiliki dasar yang kuat, terutama karena skuad Inter saat ini tidak memiliki profil pemain yang cocok untuk mengisi peran tersebut, baik di lini tengah, area trequartista, maupun di lini depan.

“Bagaimana bisa Anda berpikir bahwa formasi 3-4-2-1 yang tidak pernah berhasil di Inter karena tidak ada pemain yang cocok, bisa tiba-tiba berfungsi dengan baik? Terlebih di laga derby yang tidak pernah Anda menangkan dalam 7 pertandingan sebelumnya, di tengah jadwal laga yang sangat berat?” tulis ulasan Libero.

Kritik ini bukan ditujukan pada unsur kejutan dalam sebuah pertandingan besar, melainkan pada eksekusi taktik itu sendiri.

Jika tujuannya adalah mengejutkan lawan, Libero menilai Chivu seharusnya bisa memainkan tiga penyerang sekaligus dalam formasi murni 3-4-3 (menempatkan Marcus Thuram dan Bonny di sisi Pio Esposito), alih-alih menggunakan skema setengah hati yang justru mematikan potensi para pemain kunci:

  • Mematikan Peran Pemain: Eksperimen ini menghilangkan keunggulan Franck Diouf yang lebih efektif dalam situasi isolasi di sisi luar ketimbang di ruang sempit lini tengah (mezzi spazi).
  • Celah Pertahanan: Keputusan ini justru membuka ruang lebar di depan para bek tengah ketiga dan mengisolasi pergerakan Marcus Thuram di lini depan.

Pesan Kehati-hatian yang Berubah Menjadi Kesombongan Taktis

Menurut analisis Libero, perubahan formasi drastis ini sejatinya merupakan cerminan pesan psikologis dari Chivu kepada para pemainnya: sebuah bentuk rasa hormat yang berlebihan dan ketakutan untuk meremehkan AC Milan. Chivu ingin menuntut pendekatan “pragmatis” demi mengantisipasi kekuatan lawan.

Akan tetapi, cara yang ditempuh justru dinilai presumtif (sombong secara taktis). Ketika seorang pelatih memutuskan untuk “mensnaturata” (merusak atau mengubah total) identitas sebuah tim seperti Inter yang telah mengakar kuat dalam mekanisme formasi 3-5-2 selama tujuh tahun terakhir, hasil yang didapat justru kontraproduktif.

Langkah ini dianggap mencederai narasi panjang klub tentang sepak bola menyerang yang proaktif.

Akibatnya, Inter harus menelan pil pahit kekalahan untuk keenam kalinya di musim kompetisi ini. Dalam laga derby level tinggi melawan AC Milan yang tampil dengan energi lebih melimpah, upaya comeback tentu bukan perkara mudah.

Poin Utama Analisis:

  • Eksperimen Gagal: Penggunaan formasi 3-4-2-1 dinilai tidak cocok dengan karakteristik skuad Inter saat ini.
  • Hilangnya Identitas: Melepas pakem 3-5-2 yang telah matang selama bertahun-tahun membuat Inter kehilangan jati diri permainan.
  • Tekanan untuk Chivu: Kekalahan di derby memperketat sorotan manajemen dan suporter terhadap masa depan sang allenatore.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*