
Kekalahan menyakitkan 3-1 harus ditelan oleh Inter Milan saat menghadapi rival sekota, AC Milan.
Hasil minor ini memperpanjang catatan buruk sang pelatih, Cristian Chivu, yang kini harus menelan tiga kekalahan dari tiga laga Derby della Madonnina selama menukangi Nerazzurri.
Berbicara seusai pertandingan kepada Sky Sport, Chivu dengan terbuka melakukan evaluasi mendalam mengenai performa timnya, mengakui adanya masalah pada pendekatan taktik darurat, serta menyoroti hilangnya ketajaman dan rasa lapar skuadnya musim ini.
Taktik Darurat dan Masalah Pendekatan Laga
Ketika ditanya mengenai apa yang paling menyakitkan dari kekalahan di laga sarat gengsi ini, Chivu tidak menutup-nutupi kekecewaannya terhadap pendekatan awal tim di atas lapangan.
“Sakit rasanya kalah di derby di mana ekspektasi begitu tinggi… Kami memberikan pendekatan yang salah di awal,” ungkap Chivu.
Pelatih asal Rumania itu juga memberikan penjelasan transparan mengenai keputusannya menurunkan formasi dengan satu penyerang murni, sebuah keputusan taktis yang sempat dipertanyakan banyak pihak.
Keputusan tersebut terpaksa diambil akibat badai virus dan demam yang melanda lini depan Inter menjelang pertandingan.
Situasi Darurat Pemain
“Kami terpaksa melakukan perubahan. [Pio] Esposito tidak merasa sehat dalam beberapa hari terakhir. Bonny bahkan mengalami demam hingga pukul setengah empat pagi dan muntah semalaman,” beber Chivu.
“Kami terpaksa harus berimprovisasi dengan keyakinan bahwa itu adalah hal yang benar. Dua pemain di antara lini dengan dua pemain sayap yang cepat, serta Diouf yang bergerak di sekitar mereka dan bertugas menyerang ruang kosong, tampaknya menjadi solusi terbaik. Kami harus beradaptasi dengan situasi darurat. Sayangnya, hasilnya tidak berjalan dengan baik,”
Meskipun demikian, Chivu mencatat bahwa timnya sempat bangkit dan memberikan ancaman nyata melalui peluang-peluang emas, termasuk penyelamatan gemilang Mike Maignan, sebelum akhirnya kembali kecolongan gol ketiga menjelang turun minum akibat kelengahan dalam bertahan.
“Namun, saya tidak akan membuang semuanya begitu saja. Kami sempat merepotkan Milan di babak pertama ketika kami meningkatkan tempo dan melakukan kombinasi permainan yang tepat. Kesalahannya ada pada sikap kami, atas kelengahan saat bertahan: kita harus menemukan kembali ketajaman dan kegigihan yang lebih kita miliki musim lalu,”
Kehilangan Dominasi: Menghidupkan Kembali Kerendahan Hati
Menanggapi tren dalam beberapa laga terakhir (termasuk saat melawan Venezia) di mana Inter terlihat mulai kehilangan dominasi permainan seperti musim-musim sebelumnya, Chivu memberikan analisis yang tajam mengenai mentalitas skuadnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bagi tim juara adalah menjaga rasa lapar dan determinasi tinggi setelah meraih kesuksesan:
“Tidak pernah mudah bermain setiap tiga hari sekali. Atau menjalani musim dengan rasa lapar dan determinasi yang tepat setelah Anda menang. Kita harus menemukan kembali kerendahan hati dan membumi,”
Chivu dengan tegas mengingatkan para pemainnya agar tidak terjebak dalam bayang-bayang kesuksesan masa lalu:
“Terkadang kita terlalu berkaca pada masa lalu, pada apa yang telah kita lakukan dan siapa diri kita. Kita menganggap remeh situasi tertentu, dan kita harus meningkatkan konsentrasi serta memperbaiki sikap.”
Menatap ke Depan: Waktunya Segera Bangkit
Kendati mengakui adanya kelemahan dalam hal sikap bertahan dan kurangnya cattiveria (sifat spartan/kejam di depan gawang) dibandingkan musim lalu, Chivu menolak untuk membuang seluruh aspek positif dari timnya.
Ia menekankan pentingnya untuk segera melupakan kekalahan ini karena jadwal padat sudah menanti di depan mata, di mana Inter harus kembali fokus menghadapi pertandingan penting berikutnya dalam hitungan hari.

Leave a Reply