Akanji Unkap Perubahan Taktis Inter Milan: “Kami Tidak Bisa Selalu Pressing Tinggi”

Kemenangan tipis 1-0 Inter Milan atas Shakhtar Donetsk di San Siro tidak hanya ditentukan oleh gol tunggal Carlos Augusto, melainkan juga kedewasaan taktis di lini pertahanan.

Bek internasional Swiss, Manuel Akanji, yang kembali tampil gemilang di posisi aslinya sebagai braccetto kanan, membeberkan alasan di balik keputusan tim untuk mengubah gaya bermain dan tampil lebih sabar.

Berbicara kepada Prime Video seusai pertandingan matchday ke-3 fase liga Champions League tersebut, Akanji memberikan pandangan mendalam mengenai strategi bertahan tim, reaksipilihan taktis Cristian Chivu, hingga kejanggalan di balik kartu kuning pertama yang diterima Alessandro Bastoni.

Fleksibilitas Taktis: Menunggu dan Membiarkan Lawan Memegang Bola

Usai menelan hasil kurang memuaskan akibat terlalu terbuka di dua laga awal panggung Liga Champions, Inter Milan menunjukkan pendekatan yang jauh lebih pragmatis dan matang saat menghadapi Shakhtar.

“Hari ini tidaklah mudah. Kami memutuskan untuk tidak melakukan pressing tinggi agar tidak memberikan celah dan kesempatan mudah bagi lawan,” ungkap Akanji secara jujur.

“Kami membuktikan bahwa kami memiliki kepribadian yang kuat. Kami harus bangkit setelah pertandingan-pertandingan awal, dan saya pikir seluruh tim telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Sangat penting untuk menang hari ini, dan kami harus terus melangkah ke depan,”

Akanji juga menekankan bahwa Inter Milan tidak harus selalu mendominasi penguasaan bola atau memaksakan garis pertahanan tinggi sepanjang 90 menit.

“Kami tidak boleh memberikan kesempatan mudah kepada lawan. Terkadang, kami bisa memberikan bola kepada lawan dan melihat apa yang bisa mereka lakukan dengannya. Kami tidak bisa selalu melakukan pressing tinggi,” tegasnya.

Soroti Kartu Dua Kuning Bastoni dan Karakter Pantang Menyerah

Laga sempat berada dalam situasi kritis ketika bek tengah Alessandro Bastoni diganjar dua kartu kuning cepat dalam kurun waktu dua menit, yang memaksa Nerazzurri bertarung dengan 10 orang sejak menit ke-68.

Akanji secara khusus menyoroti keputusan wasit yang memberikan kartu kuning pertama bagi rekannya tersebut:

“Saya bertanya-tanya bagaimana wasit memutuskan kartu kuning pertama itu… Bisakah saya melihatnya kembali? Ah, tidak apa-apa..,” seloroh Akanji.

“Meskipun begitu, kami bertarung sangat keras di lapangan. Kami tidak pernah berhenti percaya hingga peluit akhir dibunyikan.”

Pernyataan Manuel Akanji menegaskan proses pendewasaan taktis yang sedang dibangun oleh Cristian Chivu di Inter Milan.

Kemampuan untuk meredam ego, bermain lebih pragmatis, serta menyerap tekanan lawan menjadi kunci utama resiliensi Nerazzurri di panggung internasional musim ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*