Fabregas Ungkap Alasan Menolak Inter, Pilih Bangun Proyek di Como

Cesc Fabregas kembali berbicara mengenai keputusannya menolak Inter Milan setelah kepergian Simone Inzaghi.

Pelatih Como itu menegaskan bahwa pilihannya bukan karena takut menghadapi tantangan besar, melainkan karena ingin membangun sesuatu yang lebih berarti di klubnya saat ini.

Nama Cesc Fabregas sempat dikaitkan dengan Inter setelah Simone Inzaghi meninggalkan Nerazzurri. Namun, kesempatan tersebut akhirnya tidak berujung pada kerja sama.

Dua tahun kemudian, Fabregas kembali menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut saat menghadiri Festival dello Sport di Trento.

Ketika ditanya apakah penolakannya terhadap Inter merupakan keputusan berani atau justru karena takut menerima tanggung jawab di klub sebesar Inter, Fabregas memberikan jawaban yang cukup menarik.

Fabregas Tidak Menilai Kesuksesan Hanya dari Trofi

Fabregas mengakui dirinya merupakan sosok yang banyak berpikir dan menganalisis setiap keputusan.

Ia sadar bahwa pada akhirnya karier seorang pelatih sering kali dinilai berdasarkan jumlah trofi yang berhasil diraih. Namun, bagi mantan gelandang Barcelona, Chelsea, dan Arsenal tersebut, ukuran kesuksesan tidak selalu sesederhana itu.

Menurut Fabregas, membantu pemain muda berkembang juga merupakan sebuah kemenangan besar.

Ia mencontohkan Da Cunha yang kini mendapat panggilan ke tim nasional. Perkembangan pemain tersebut, menurut Fabregas memiliki nilai yang bahkan lebih besar daripada sekadar mengangkat trofi.

“Saya adalah orang yang banyak berpikir dan banyak menganalisis. Saya tahu bahwa pada akhirnya, ketika menilai seorang pelatih di akhir kariernya, trofi yang diraih akan menjadi salah satu ukurannya, dan memang seharusnya begitu,” ujar Fabregas.

“Namun bagi saya, yang sedang kita bicarakan adalah perkembangan Da Cunha yang sekarang sudah masuk tim nasional. Bagi saya, itu adalah sebuah kemenangan yang nilainya lebih besar daripada sebuah trofi,”

“Dan saya tidak mengatakan ini karena kesombongan. Saya tahu bahwa banyak pemain muda datang ke Como karena saya. Nico Paz sekarang bisa kita lihat sendiri perkembangannya, tetapi ketika dia datang dua tahun lalu, dia berasal dari Real Castilla dan ayahnya memberikan kepercayaan penuh kepada saya,”

“Saya juga berbicara tentang Valle, Perrone, Da Cunha, dan banyak pemain lainnya. Bagi saya, merekalah Scudetto saya,”

Fabregas Belajar dari Perjalanan Arteta

Fabregas kemudian memberikan contoh perjalanan Mikel Arteta bersama Arsenal.

Menurutnya, seorang pelatih membutuhkan waktu untuk membangun tim. Arteta sempat finis di posisi kedelapan sebanyak tiga kali sebelum membawa Arsenal meraih posisi yang lebih tinggi dan akhirnya memenangkan Premier League setelah tujuh tahun.

Fabregas ingin menerapkan pendekatan serupa di Como.

Masalahnya, dalam sepak bola modern, pelatih sering kali tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk membangun proyek jangka panjang.

“Hal yang paling penting adalah waktu, tetapi bagi seorang pelatih, tidak pernah ada waktu yang cukup. Contoh yang paling jelas adalah Arteta, yang tiga kali finis di posisi kedelapan, kemudian berada di posisi kelima. Sekarang, setelah tujuh tahun, dia berhasil memenangkan Premier League dan mencapai final Liga Champions,”

“Di Como, kami memiliki visi yang jelas dan saling percaya satu sama lain. Saya lebih memilih untuk berkembang di sini sekaligus membangun identitas klub ini,”

“Jika suatu hari nanti saya meninggalkan Como, kami semua berharap siapa pun yang datang setelah saya dapat melanjutkan proyek ini.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*