
Alessandro Romano baru menjalani Lima pertandingan di Serie A bersama Cagliari, tetapi performanya sudah menarik perhatian Inter Milan.
Meski melakukan kesalahan dalam debut bersama timnas Italia, penilaian pemandu bakat Nerazzurri terhadap gelandang kelahiran 2006 itu disebut tidak berubah, dan mereka akan terus memantau perkembangannya.
Baru lima pertandingan di kasta tertinggi Italia sudah cukup bagi pemain kelahiran 2006 tersebut untuk mendapatkan panggilan ke tim nasional Italia sekaligus masuk radar sejumlah klub besar.
Inter menjadi salah satu klub yang memberikan perhatian khusus.
Menurut laporan yang dikutip dari La Gazzetta dello Sport, kesalahan Romano dalam debutnya bersama Gli Azzurri ketika menghadapi Belgia tidak mengubah penilaian tim pencari bakat Nerazzurri.
Inter tetap melihat Romano sebagai salah satu talenta muda paling menarik di sepak bola Italia.
Salah satu kesalahannya berujung pada gol Belgia. Namun, momen tersebut tidak membuat Inter mengubah pandangan terhadap sang pemain.
Hal ini penting karena Inter disebut sudah mengikuti perkembangan Romano sebelum dirinya mendapatkan panggilan ke tim nasional.
Bagi klub seperti Inter, penilaian terhadap pemain muda tidak hanya ditentukan oleh satu pertandingan.
Konsistensi, karakter bermain, kemampuan beradaptasi dengan tekanan, dan perkembangan dari waktu ke waktu menjadi faktor yang lebih penting.
Romano sendiri sudah memberikan sejumlah alasan mengapa namanya mulai diperhitungkan.
Mampu Menghadapi Tekanan Lawan
Salah satu kemampuan Romano yang paling menarik perhatian adalah kemampuannya bermain ketika mendapatkan tekanan dari lawan.
La Gazzetta dello Sport mencatat bahwa Romano berada di peringkat ke-10 Serie A dalam jumlah operan sukses saat berada di bawah tekanan.
Yang menarik, daftar tersebut juga diisi sejumlah pemain yang jauh lebih berpengalaman, termasuk Nicolo Barella dan Luka Modric.
Statistik tersebut memberikan gambaran mengenai keberanian Romano dalam menerima bola dan mengambil keputusan ketika ruang geraknya terbatas.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting bagi seorang gelandang yang beroperasi di area tengah. Pemain tidak hanya dituntut mampu menguasai bola, tetapi juga harus bisa menentukan pilihan dengan cepat ketika lawan memberikan pressing.
Operan Satu Sentuhan Jadi Salah Satu Kelebihan
Romano juga memiliki karakter permainan yang cukup modern.
Menurut data dari Gradient Sports, rata-rata operan satu sentuhan Romano termasuk yang tertinggi di antara para gelandang bertahan atau pemain tengah di Serie A.
Kemampuan bermain cepat melalui operan satu sentuhan membuat Romano dapat membantu tim keluar dari tekanan lawan sekaligus mempercepat sirkulasi bola.
Karakter tersebut juga menjelaskan mengapa dirinya tidak sekadar dipandang sebagai seorang gelandang yang bertugas mengatur permainan dari belakang.
Romano memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam berbagai fase permainan.
Bukan Sekadar Regista
Salah satu hal yang membuat Romano menarik adalah statistik defensifnya.
Ia disebut berada di peringkat keempat dalam jumlah duel defensif dan menempati posisi ke-10 dalam total duel yang dimenangkan di antara para gelandang.
Selain itu, Romano mencatat rata-rata sekitar lima intersep per pertandingan.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa kontribusinya tidak berhenti pada distribusi bola.
Romano juga aktif membantu tim ketika kehilangan penguasaan bola. Ia mampu membaca permainan, melakukan intersep, dan terlibat dalam duel.
Memang, Romano masih kehilangan sejumlah bola dalam pertandingan. Namun, di sisi lain, ia juga mampu merebut kembali penguasaan bola dengan jumlah yang tinggi.
Rata-rata bola yang berhasil direbutnya mencapai 8,2 kali per pertandingan.
Karena itu, Romano dinilai lebih dari sekadar seorang regista.
Pisacane Melihat Kemampuannya dalam Dua Fase
Perkembangan Romano di Cagliari juga tidak terlepas dari kepercayaan yang diberikan pelatih.
Davide Pisacane melihat kemampuan sang gelandang untuk menjalankan tugas dalam dua fase permainan, baik ketika tim menguasai bola maupun ketika harus bertahan.
Karakter tersebut menjadi salah satu alasan Romano mampu mendapatkan tempat dan berkembang meski usianya masih sangat muda.
Selain kemampuan mengatur permainan dan membantu pertahanan, Romano juga memiliki kualitas bola mati.
Ia dipercaya mengambil tendangan bebas dan memiliki keberanian untuk melepaskan tembakan ke gawang setidaknya sekali dalam sebuah pertandingan. Bahkan, beberapa peluang tersebut lahir setelah Romano menciptakan situasinya sendiri.
Dengan kata lain, ia tidak hanya menunggu permainan datang kepadanya.
Inter Melihatnya sebagai Calon Penerus Calhanoglu
Dalam perspektif Inter, kualitas Romano menjadi semakin menarik karena karakter permainannya memiliki sejumlah kemiripan dengan kebutuhan posisi yang ditempati Hakan Calhanoglu.
Laporan tersebut menyebut Inter melihat Romano sebagai salah satu kandidat yang dapat mengisi peran Calhanoglu di masa depan, setidaknya dari perspektif posisi.
Gelandang kelahiran 2006 tersebut memiliki kemampuan mengatur bola, bermain di bawah tekanan, memenangkan duel, melakukan intersep, sekaligus memberikan ancaman melalui bola mati dan tembakan dari luar kotak penalti.

Leave a Reply