Inter Tuntaskan Transfer Keluar, Semua Pemain di Luar Proyek Sudah Hengkang

Inter Milan nyaris menutup sempurna aktivitas transfer keluar pada bursa musim panas 2026. Yanis Massolin menjadi kepingan terakhir yang meninggalkan klub, sementara satu tempat di daftar UEFA kemungkinan sengaja dibiarkan kosong hingga Januari mendatang.

Inter Milan menunjukkan bahwa pekerjaan di bursa transfer bukan hanya tentang mendatangkan pemain baru. Di balik sejumlah perekrutan penting pada musim panas ini, manajemen Nerazzurri juga berhasil merapikan skuad dengan melepas hampir seluruh pemain yang tidak masuk dalam rencana utama Cristian Chivu.

Dengan Yanis Massolin yang telah bergabung ke Cagliari, praktis seluruh pemain tim utama yang berada di luar proyek telah mendapatkan klub baru. Massolin akan menuju Sardinia dengan status pinjaman berbayar, disertai hak pembelian senilai €7 juta dan klausul counter-repurchase sebesar €8,5 juta.

Transfer tersebut menjadi salah satu langkah terakhir Inter dalam merapikan skuad sebelum kompetisi berjalan semakin padat.

Massolin Jadi Kepingan Terakhir Puzzle Inter

Massolin sebelumnya menjadi salah satu pemain yang masih harus dicarikan solusi oleh manajemen setelah menjalani periode persiapan bersama skuad utama.

Kini, jalan keluar telah ditemukan. Kepindahannya ke Cagliari memberikan kesempatan bagi gelandang asal Prancis tersebut untuk mendapatkan menit bermain yang lebih konsisten sekaligus tetap membuka kemungkinan bagi Inter untuk mempertahankan kendali atas masa depannya.

Skema transfer yang disepakati juga cukup menarik. Cagliari memiliki hak untuk mempermanenkan Massolin dengan nilai €7 juta, tetapi Inter memasukkan klausul counter-riscatto sebesar €8,5 juta. Artinya, Nerazzurri masih memiliki opsi untuk membawa sang pemain kembali apabila perkembangannya berjalan sesuai harapan.

Dengan kesepakatan tersebut, hampir tidak ada lagi pemain dalam skuad senior Inter yang berstatus sebagai esubero atau surplus.

Asllani dan Frattesi, Dua Kasus yang Berhasil Diselesaikan

Sebelum Massolin, nama Kristjan Asllani menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Inter.

Gelandang Albania tersebut akhirnya meninggalkan klub menuju Al Jazira dengan skema pinjaman berbayar yang disertai kewajiban membeli berdasarkan sejumlah persyaratan. Kepindahan ini secara efektif mengakhiri salah satu saga yang cukup panjang terkait masa depan Asllani di Giuseppe Meazza.

Yang tidak kalah penting adalah keberhasilan Inter menemukan solusi untuk Davide Frattesi.

Mantan pemain Sassuolo itu sempat menjadi salah satu kasus paling rumit di bursa transfer.

Pada akhirnya, Frattesi bergabung dengan Lazio melalui skema pinjaman berbayar senilai €5 juta, dengan hak pembelian yang ditetapkan sebesar €10 juta.

Bagi Inter, menemukan jalan keluar untuk Frattesi merupakan keberhasilan tersendiri. Bukan hanya karena sang pemain memiliki nilai pasar tinggi, tetapi juga karena situasi transfernya sempat terlihat sulit untuk diselesaikan.

Manajemen Nerazzurri pada akhirnya mampu mengubah situasi tersebut menjadi solusi yang menguntungkan secara olahraga maupun finansial.

Inter Buktikan Kualitas Manajemen di Bursa Transfer Keluar

Salah satu kesimpulan menarik dari mercato Inter musim panas ini adalah kemampuan klub menyelesaikan persoalan pemain yang tidak lagi menjadi bagian dari rencana utama.

Dalam beberapa bursa transfer sebelumnya, Inter terkadang harus menghadapi situasi ketika pemain surplus sulit mendapatkan klub baru karena faktor gaji, nilai transfer, atau keinginan pemain untuk bertahan.

Kali ini kondisinya berbeda.

Satu demi satu, pemain yang tidak masuk proyek Chivu berhasil mendapatkan tujuan baru. Proses tersebut tidak selalu berlangsung cepat, tetapi manajemen mampu menemukan formula yang dianggap masuk akal bagi semua pihak.

Dari perspektif pengelolaan skuad, hal ini sangat penting.

Inter bukan sekadar mengurangi jumlah pemain. Mereka juga berhasil menciptakan ruang untuk struktur skuad yang lebih jelas, terutama setelah kedatangan sejumlah pemain baru yang memang diproyeksikan menjadi bagian dari tim Chivu.

Kamate Masih Tunggu Kepindahan

Meski sebagian besar pekerjaan sudah selesai, masih ada satu operasi keluar yang belum sepenuhnya tuntas, yakni Issiaka Kamate.

Winger muda tersebut sebelumnya dikaitkan dengan Espanyol, tetapi transfer tersebut tidak terealisasi. Kini Atletico Madrid menjadi tujuan yang paling memungkinkan.

Kamate diperkirakan akan bergabung dengan Atletico Madrid B terlebih dahulu. Namun, kepindahan tersebut masih menunggu kesepakatan final mengenai aspek ekonomi antara Inter dan klub Spanyol tersebut.

Jika seluruh detail dapat diselesaikan, Kamate juga akan meninggalkan daftar pemain yang tersedia untuk Chivu.

Dengan demikian, Massolin bukan satu-satunya operasi terakhir, tetapi kepindahannya ke Cagliari menjadi salah satu transaksi penutup paling penting dalam proses perampingan skuad Inter.

Luis Henrique Bukan Pemain yang Dianggap “Di Luar Proyek”

Berbeda dengan nama-nama di atas, Luis Henrique memiliki situasi yang cukup berbeda.

Pemain asal Brasil itu memang sempat sangat dekat dengan pintu keluar Inter. AS Roma menjadi tujuan yang paling sering dikaitkan dengannya, dan Inter pada dasarnya tidak menutup kemungkinan menjual sang pemain apabila mendapatkan tawaran dengan kondisi ekonomi yang sesuai.

Namun, Luis Henrique sejak awal tidak pernah benar-benar dimasukkan ke dalam kategori esubero alias pemain yang tidak masuk dalam rencana.

Statusnya lebih tepat disebut sebagai pemain yang dapat dijual.

Perbedaan ini penting karena Inter masih melihat Luis Henrique sebagai bagian yang bisa berguna dalam struktur tim. Ketika transfer ke Roma tidak terwujud, tidak ada masalah besar bagi Nerazzurri untuk mempertahankannya.

Kini, Luis Henrique berpeluang menjalankan peran sebagai pelapis Federico Dimarco.

Situasi tersebut justru membuka babak baru bagi mantan pemain Marseille itu. Ia mendapatkan kesempatan kedua untuk menunjukkan kepada Chivu bahwa dirinya layak menjadi bagian penting dari skuad.

Jika mampu memberikan performa konsisten, Luis Henrique bisa mengubah statusnya dari pemain yang sempat masuk radar transfer menjadi bagian permanen dari proyek Inter.

Satu Slot UEFA Sengaja Dibiarkan Kosong?

Menariknya, keberhasilan Inter merapikan skuad justru berpotensi menghasilkan satu ruang kosong dalam daftar UEFA.

Jika tidak ada kejutan pada tahap akhir, Inter kemungkinan hanya mendaftarkan 24 pemain, bukan 25 pemain.

Sekilas, keputusan tersebut dapat dianggap sebagai kesempatan yang terbuang. Satu slot tambahan sebenarnya bisa digunakan untuk menambahkan pemain dengan karakteristik berbeda atau memperbesar kedalaman skuad.

Namun, dari sudut pandang manajemen, ruang kosong tersebut juga dapat menjadi sebuah opsi strategis.

Inter tidak harus terburu-buru mengisi seluruh slot hanya demi memenuhi jumlah maksimal pemain. Jika pada paruh pertama musim muncul kebutuhan tertentu, misalnya akibat cedera panjang atau masalah di posisi tertentu, klub masih dapat mengevaluasi situasi pada bursa Januari.

U-23 Bisa Menjadi “Cadangan” Inter

Selain itu, Inter memiliki sumber daya internal yang dapat dimanfaatkan.

Tim U-23 yang ditangani Stefano Vecchi memiliki sejumlah pemain muda yang sudah mendapatkan pengalaman bersama tim utama.

Artinya, apabila Chivu membutuhkan tambahan tenaga dalam situasi tertentu, tidak selalu harus ada pemain baru yang didatangkan dari pasar transfer.

Strategi ini juga sejalan dengan gagasan untuk memberikan jalur yang lebih jelas kepada pemain muda.

Chivu sendiri telah memberikan indikasi bahwa opsi dari U-23 dapat digunakan apabila diperlukan. Bahkan, pemain yang saat ini berada di bawah struktur tim Vecchi dapat menjadi alternatif untuk mengisi kebutuhan skuad utama.

Dengan kata lain, Inter tidak benar-benar kehilangan satu pemain hanya karena tidak mengisi slot UEFA tersebut.

Mereka memilih menyimpan fleksibilitas.

Januari Bisa Jadi Waktu untuk Bergerak

Keputusan membiarkan satu tempat kosong juga memberikan Inter ruang untuk melakukan evaluasi selama beberapa bulan pertama musim berjalan.

Jika skuad yang ada terbukti cukup, tidak ada alasan untuk melakukan perubahan.

Namun apabila Chivu menemukan masalah spesifik, aik karena cedera, kebutuhan taktis, maupun performa pemain—Inter dapat menggunakan bursa Januari untuk mencari solusi.

Ini membuat satu slot kosong tersebut bukan sekadar kekurangan jumlah pemain, melainkan semacam roda cadangan.

Inter memiliki skuad utama, pemain U-23 sebagai sumber internal, dan kemungkinan kembali bergerak di pasar transfer jika kebutuhan benar-benar muncul.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*