Biasin: Thuram “Transfer Emas”, Chivu Disalahpahami, dan Kontroversi Kasus Rocchi

Jurnalis ternama Fabrizio Biasin menyita perhatian lewat editorial tajamnya di Tuttomercatoweb. Dalam tulisannya, ia membahas sejumlah isu panas di Serie A, mulai dari performa luar biasa Marcus Thuram, kritik terhadap pelatih seperti Cristian Chivu, hingga polemik yang dikenal sebagai “kasus Rocchi”.

Thuram: Dari “Overrated” Jadi Transfer Paling Menguntungkan

Biasin menyoroti bagaimana Marcus Thuram sempat dianggap sebagai pemain yang “terlalu dibesar-besarkan”. Namun, statistik justru berbicara sebaliknya:

  • 2023/24: 46 laga, 15 gol, 14 assist
  • 2024/25: 50 laga, 18 gol, 9 assist
  • 2025/26: 41 laga, 17 gol, 7 assist

Konsistensi ini menjadikan Thuram sebagai salah satu striker paling efektif di Eropa.

Lebih menarik lagi, Inter Milan mendapatkan sang pemain secara gratis (free transfer), hanya membayar komisi sekitar €8 juta.

Dalam pandangan Biasin: Ini adalah “affare enorme” — transfer super menguntungkan dengan dampak maksimal.

“Sebuah konsistensi yang luar biasa, sebuah kesepakatan yang sangat menguntungkan (0 euro untuk biaya transfer + 8 juta euro komisi),” tulis Biasin.

Chivu dan Fabregas: Korban Salah Persepsi?

Biasin juga menyinggung kritik terhadap pelatih seperti Cristian Chivu dan Cesc Fabregas.

Keduanya sempat dianggap:

  • Terlalu arogan
  • Tidak menghormati pelatih lain

Namun menurut Biasin, anggapan itu berlebihan.

Ketika Chivu mengatakan bahwa “pertahanan terbaik tidak selalu menang”, atau Fabregas berbicara tentang ide sepak bolanya, itu bukan serangan, melainkan refleksi perubahan filosofi sepak bola modern

Biasin menilai kritik tersebut muncul dari:

  • Ketidakmampuan menerima perubahan
  • Pola pikir lama yang sulit beradaptasi

“Kritik terhadap Cesc Fabregas atau Cristian Chivu justru terasa menggelikan, karena oleh beberapa komentator mereka dianggap ‘arogan’ dan ‘tidak sopan’. Itu adalah reaksi biasa dari mereka yang tidak mampu menerima ‘perubahan’,” tegas Biasin.

“Jika Chivu mengatakan ‘mungkin sudah saatnya menyadari bahwa yang terbaik dalam bertahan tidak selalu menang’ dan Fabregas berbicara dengan antusias tentang ide sepak bolanya, bukan berarti mereka – seperti yang ingin diyakinkan banyak orang – sedang menjelekkan kolega lain. Bisa jadi mereka hanya mencoba menunjukkan arah,”

Serie A 2025/26: Filosofi Lebih Penting dari Hasil?

Dalam analisisnya, Biasin menyebut bahwa musim ini akan dikenang bukan hanya karena hasil, tetapi karena ide permainan.

Ia menyoroti:

  • Pendekatan taktik modern
  • Evolusi gaya bermain
  • Peran pelatih seperti Luciano Spalletti

Menurutnya, warisan terbesar musim ini adalah perubahan cara berpikir dalam sepak bola Italia.

“Apa yang akan tersisa dari Serie A 2025/26? Sepak bola mereka, sepak bolanya Luciano Spalletti (yang bahkan datang di tengah jalan),”

“Kasus Rocchi”: Kritik Keras untuk Media dan Publik

Salah satu bagian paling tajam dari editorial Biasin adalah soal “kasus Rocchi”, yang melibatkan isu sensitif di dunia perwasitan.

Biasin mengkritik keras:

  • Media yang terburu-buru menyimpulkan
  • Publik yang menjadikan kasus ini sebagai “perang antar fans”
  • Narasi yang belum berdasarkan fakta lengkap

Ia menegaskan: Investigasi masih berjalan, dan banyak hal belum terungkap

Mengubah kasus hukum menjadi ajang debat emosional dianggapnya tidak dapat diterima, terutama jika dilakukan oleh jurnalis atau komunikator publik.

“Lalu ada kekacauan yang disebut ‘kasus Rocchi’. Semua orang membicarakannya dengan berbagai cara,”

“Hormat untuk para profesional yang terus memberi pembaruan soal penyelidikan, tetapi kurang pantas bagi mereka yang memanfaatkan setiap perkembangan untuk menyimpulkan bahwa suatu tim pasti bersalah atau sebaliknya sama sekali tidak terlibat.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*