Keputusan Beppe Marotta menunjuk Cristian Chivu sebagai pelatih utama Inter Milan sempat menuai keraguan. Minim pengalaman di level senior membuat banyak pihak mempertanyakan arah proyek Nerazzurri.
Namun kini, semua keraguan itu perlahan sirna. Chivu justru menjelma menjadi salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Eropa, bahkan berpeluang mempersembahkan gelar Scudetto di musim debutnya.
Dari Diragukan Jadi Andalan
Saat menggantikan Simone Inzaghi, Chivu dianggap sebagai pilihan berisiko. Namun, pelatih asal Rumania itu berhasil menjawab tantangan dengan performa luar biasa.
Dengan Enam laga tersisa di Serie A musim ini, Inter kini unggul sembilan poin atas pesaing terdekat, Napoli. Situasi ini membuat gelar Scudetto ke-21 semakin dekat ke genggaman.
Tak hanya itu, Inter juga masih berpeluang meraih double domestik, dengan memainkan laga Semifinal Coppa Italia menghadapi Como.
Marotta: Chivu Sudah Membuktikan Segalanya
Dalam wawancara terbarunya, Marotta menegaskan bahwa klub sangat puas dengan kinerja Chivu.
“Chivu sudah memiliki kontrak, jadi kelanjutannya otomatis. Dia adalah sosok yang sesuai dengan profil yang kami cari dan kini menjadi referensi penting bagi tim,” ujar Marotta.
Ia juga menyoroti perkembangan sang pelatih:
“Satu-satunya kekurangan mungkin pengalaman, tapi itu terus bertambah setiap pekan. Selebihnya, semuanya sangat positif. Dia sudah membayar kepercayaan kami dan kini menjadi salah satu pelatih muda terbaik,”
Luka Final Liga Champions dan Fokus Baru
Marotta juga menyinggung kegagalan Inter di final Liga Champions 2024-2025. Meski menyakitkan, ia menilai pencapaian mencapai final tetap luar biasa.
“Kekecewaan itu masih terasa, terutama malam di Munich. Tapi kami harus melangkah maju dan mengejar mimpi baru,”
Kini, fokus utama Inter adalah mengunci Scudetto dan mengakhiri musim dengan prestasi maksimal.
Wacana Serie A Dipangkas Jadi 18 Tim
Selain membahas tim, Marotta juga menyoroti kondisi sepak bola Italia secara keseluruhan. Ia mendukung pengurangan jumlah klub di Serie A dari 20 menjadi 18 tim.
Menurutnya, sistem saat ini tidak berkelanjutan:
- Lebih dari 100 klub bangkrut dalam 25 tahun terakhir
- Jadwal kompetisi terlalu padat
- Sulit mencari waktu jika terjadi penundaan pertandingan
“Kita butuh sistem yang lebih seimbang. Klub besar seperti Inter dan klub kecil harus bisa hidup berdampingan secara sehat.”

Leave a Reply