Mitos Keunggulan 7 Poin di 7 Laga Sisa: Sejarah Serie A Berpihak pada Inter Milan

Kemenangan meyakinkan Inter Milan atas Roma akhir pekan lalu meniupkan angin segar dari sisi histori dan kalkulasi peluang memenangkan Scudetto musim ini.

Dengan sisa Tujuh pertandingan, Inter Milan asuhan Cristian Chivu kini memimpin klasemen dengan keunggulan +7 poin atas Napoli asuhan Antonio Conte.

Dalam sejarah panjang Serie A, situasi ini hampir selalu berakhir dengan pesta juara bagi tim pemuncak klasemen. Namun, di Appiano Gentile, kata “santai” adalah tabu.

Antara Cabala dan Trauma Masa Lalu

Jika kita menengok catatan sejarah (cabala), statistik sangat berpihak pada Nerazzurri. Hanya ada satu preseden buruk di Serie A di mana sebuah tim gagal juara meski unggul 7 poin di sisa 7 laga, yakni Lazio era Sven-Goran Eriksson pada musim 1998-99, yang secara dramatis disalip oleh AC Milan.

Selain statistik itu, sejarah mencatat bahwa keunggulan sejauh ini biasanya menjadi jaminan trofi.

Namun, Inter memiliki luka segar dari musim lalu. Saat itu, mereka harus merelakan gelar jatuh ke tangan Napoli setelah drama di pekan-pekan terakhir. Itulah mengapa Chivu dan manajemen terus menyerukan kewaspadaan penuh.

Skenario Juara: Pesta di Olimpico?

Ada aspek menarik yang mulai dibahas oleh para pendukung dan media Italia seperti La Gazzetta dello Sport. Jika Inter Milan mampu menyapu bersih kemenangan di laga-laga mendatang, mereka bisa merayakan gelar juara justru di markas lawan.

  • Target Poin: Inter membutuhkan 15 poin lagi untuk mengunci gelar secara matematis.
  • Waktu Krusial: 10 Mei 2026.
  • Lawan Penentu: Lazio di Stadion Olimpico.

Skenarionya cukup sederhana namun menantang: Jika Inter dan Napoli sama-sama memenangkan semua laga hingga pekan ke-34, Inter akan tetap unggul +7 poin dengan tiga laga tersisa. Kemenangan atas Lazio di Roma pada pekan ke-35 akan memastikan Chivu meraih Scudetto pertamanya sebagai pelatih, sekaligus trofi liga keempatnya bersama Inter (setelah tiga gelar sebagai pemain).

Memori Pahit Musim Lalu dan “Hantu” Parma

Publik Inter tentu belum lupa bagaimana gelar musim lalu lepas dari genggaman. Ironisnya, saat itu Maurizio Sarri bersama Lazio menjadi “hakim” yang mematikan harapan Inter lewat gol penalti Pedro di menit-menit akhir yang memaksa hasil imbang 2-2 di San Siro.

Di saat yang sama, Napoli asuhan Conte juga sempat tertahan 0-0 oleh Parma, tim yang saat itu justru dilatih oleh Cristian Chivu.

Kini, roda nasib berputar. Chivu tidak lagi membantu Napoli dengan menahan rival mereka; ia kini memimpin kapal Inter untuk menuntaskan dendam musim lalu.

Rival Mulai “Menyerah”

Sinyal juara Inter makin kuat setelah pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, secara terbuka menyatakan mundur dari persaingan gelar. Ia menyebut bahwa timnya “sudah memberikan segalanya” dan mengisyaratkan bahwa jalur juara kini hanya milik Inter dan Napoli.

Meskipun demikian, Chivu harus menjaga fokus pemainnya. Dengan keunggulan +7 atas Napoli dan +9 atas AC Milan, konsistensi adalah kunci.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*