Bisseck Cerita Masa Sulit di Era Inzaghi: “Dia Tidak Tahu Harus Mainkan Saya di Mana”

Bek andalan Inter Milan, Yann Bisseck membuka cerita menarik mengenai perjalanan kariernya di klub Nerazzurri, termasuk hubungannya dengan mantan pelatih Inter, Simone Inzaghi.

Dalam wawancara terbaru bersama media Jerman Kicker, bek asal Jerman itu mengaku sempat mengalami masa sulit ketika pertama kali bergabung dengan klub raksasa Italia tersebut.

Meski demikian, Bisseck kini justru menjadi salah satu pilar penting di lini belakang Inter dan menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan di San Siro.

Awal Sulit Setelah Datang dari Aarhus

Bisseck didatangkan Inter dari klub Denmark, Aarhus GF, pada musim panas 2023 dengan nilai transfer sekitar 7 juta euro. Saat itu, banyak yang memandangnya hanya sebagai pemain pelapis di skuad yang dipenuhi bintang.

Bek asal Jerman tersebut mengakui bahwa adaptasi awalnya tidak mudah, terutama karena ia datang dari liga yang levelnya berbeda.

“Saat itu baru saja selesai Kejuaraan Eropa U-21 di Georgia dan Rumania. Klub sebenarnya memberi saya waktu libur lebih lama, tetapi ketika datang ke lingkungan baru, Anda harus memanfaatkan setiap hari,” ujar Bisseck.

Ia juga menyadari bahwa status transfernya yang relatif murah membuatnya harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kualitasnya.

“Sebagai pemain yang hanya berharga tujuh juta euro, Anda harus membuktikan diri agar tidak hanya dianggap sebagai ‘boneka latihan’ di antara para superstar,”

Komunikasi Sulit dengan Simone Inzaghi

Salah satu tantangan terbesar Bisseck pada awal kariernya di Inter adalah komunikasi dengan pelatih saat itu, Simone Inzaghi.

Menurutnya, keterbatasan bahasa membuat hubungan profesional mereka tidak berjalan lancar.

“Saya dan Simone Inzaghi sebenarnya tidak bisa berkomunikasi dengan baik, selain beberapa kata dalam bahasa Prancis. Saya merasa dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa dengan saya,”

Situasi tersebut sempat terasa aneh sekaligus sulit bagi Bisseck, terutama sebagai seorang bek yang membutuhkan komunikasi intens dengan rekan setim di lapangan.

“Awalnya terasa lucu, tapi tidak mudah. Jika Anda seorang bek dan tidak bisa berkomunikasi dengan rekan tim, itu menjadi sangat sulit,”

Belajar Bahasa Italia Demi Karier

Menyadari hambatan tersebut, Bisseck akhirnya mengambil langkah cepat: belajar bahasa Italia secepat mungkin.

Ia bahkan menggunakan cara unik untuk melatih kemampuan bahasanya dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya sering duduk di bar dan mencoba memesan semuanya dalam bahasa Italia. Saya mencoba menyerap kehidupan di sana, orang-orangnya, dan cara mereka berinteraksi,”

Usaha itu membuahkan hasil. Kini Bisseck mengaku sudah hampir fasih berbahasa Italia, sesuatu yang sangat membantu dalam kehidupan di ruang ganti.

“Itu berhasil dengan sangat baik. Sekarang saya berbicara bahasa Italia hampir fasih,”

Selain bahasa Italia, ia juga menguasai beberapa bahasa lain seperti Jerman, Inggris, dan Prancis.

“Itu sangat penting di ruang ganti, dalam hubungan, dan dalam kehidupan sehari-hari dengan rekan satu tim. Dalam hal itu, sangat berguna,”

Bangkit di Era Cristian Chivu

Setelah melalui masa adaptasi yang panjang, Bisseck kini justru menjadi pemain penting di era pelatih baru, Cristian Chivu.

Meskipun sempat memulai musim dengan lambat, ia perlahan mengamankan tempat di tim utama. Bahkan, Bisseck berhasil melompati dua bek senior, yaitu Francesco Acerbi dan Stefan de Vrij, dalam urutan pilihan bek tengah.

Statistiknya juga cukup impresif. Dalam 15 pertandingan liga terakhir, Bisseck tampil sebagai starter dalam 13 laga dan membantu Inter mencatat tujuh clean sheet.

Diminati Klub Premier League

Performa konsisten tersebut membuat Bisseck mulai menarik perhatian sejumlah klub besar Inggris. Beberapa tim yang disebut tertarik adalah West Ham United, Tottenham Hotspur, dan Crystal Palace.

Meski begitu, Inter tidak memiliki niat besar untuk melepasnya dalam waktu dekat. Nerazzurri kabarnya hanya akan mempertimbangkan tawaran yang mendekati 40 juta euro.

Bisseck Tegaskan Loyalitas untuk Inter

Di tengah rumor transfer tersebut, Bisseck menegaskan bahwa dirinya bahagia di Inter dan tidak memikirkan kemungkinan hengkang.

“Saya sedang menjalani mimpi saya di Inter. Klub ini yang membentuk saya menjadi pemain seperti sekarang, dan saya sangat berterima kasih,”

Ia juga menegaskan rasa bangganya mengenakan seragam hitam-biru Inter, baik di dalam maupun di luar lapangan.

“Saya membela warna hitam dan biru ini di dalam maupun di luar lapangan. Segala hal lain adalah bagian dari bisnis, tapi itu tidak membuat saya khawatir. Saya bahagia di Milan, dan ini adalah tempat yang tepat bagi saya.”

Dengan performa yang terus meningkat dan kepercayaan yang diberikan pelatih, masa depan Yann Bisseck di Inter Milan tampaknya masih akan panjang, meskipun godaan dari klub-klub besar Eropa terus berdatangan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*