Ambrosini: “Pio Esposito Pemain Terbaik di Laga Inter vs Bodo”

Legenda AC Milan, Massimo Ambrosini, melontarkan analisis tajam terkait performa Inter Milan usai tersingkir dari Liga Champions di babak play-off.

Dalam program Cronache di Spogliatoio, ia menyoroti penurunan performa Nicolò Barella dan memuji Francesco Pio Esposito saat menghadapi Bodo/Glimt di San Siro.

Barella Dinilai Kehilangan Ritme

Ambrosini menilai Barella sedang berada di fase sulit. Gelandang yang biasanya menjadi motor permainan Inter justru terlihat “keluar jalur”.

“Dia tidak dalam performa terbaiknya dalam segala hal. Sepertinya dia ingin melakukan terlalu banyak hal, dan itu justru membatasinya,” ujar Ambrosini.

Penurunan intensitas, akurasi, hingga ketajaman keputusan membuat Barella tampak jauh dari standar biasanya. Padahal, dalam beberapa musim terakhir ia adalah simbol determinasi dan keseimbangan lini tengah Inter.

Secara statistik, kontribusi gol dan assist Barella memang menurun. Lebih dari itu, dampak emosionalnya di lapangan juga terlihat berkurang. Inter kehilangan sosok penggerak yang biasanya menjadi jembatan antara lini tengah dan serangan.

Pio Esposito Jadi Sinar Terang

Di tengah kekecewaan akibat eliminasi Liga Champions, Ambrosini justru melihat satu nama yang menonjol: Francesco Pio Esposito.

Menurutnya, Pio Esposito adalah pemain terbaik Inter dalam dua leg melawan Bodo/Glimt.

“Kabar baik datang dari Federico Dimarco dan Pio Esposito, yang menjadi pemain terbaik Inter,”

Penyerang muda itu menunjukkan keberanian, pergerakan cerdas, dan determinasi tinggi. Ironisnya, ia justru menjadi satu-satunya striker yang tampil konsisten.

Lini Depan Tumpul, Kombinasi Tak Terjadi

Masalah utama Inter, menurut Ambrosini, ada pada duet lini depan. Biasanya kekuatan Inter terletak pada kombinasi dua penyerangnya. Namun melawan Bodo/Glimt, chemistry itu tidak terlihat sama sekali.

“Masalah bagi Nerazzurri adalah dia satu-satunya penyerang yang tampil bagus: Lautaro Martinez pada leg pertama tampil minim kontribusi, Marcus Thuram bermain sangat sedikit tadi malam dan saya juga tidak menyukainya saat di Norwegia. Yoan Bonny tidak saya perhitungkan karena dia masuk sebagai pemain pengganti,”

Ambrosini menyoroti fakta mencolok:

“Dalam dua pertandingan, mereka bahkan tidak pernah saling memberikan umpan karena tidak pernah benar-benar menemukan satu sama lain.”

Ini adalah alarm serius. Inter selama ini dikenal dengan koordinasi duet penyerang yang cair dan efektif. Ketika koneksi itu terputus, produktivitas langsung anjlok.

Masalah Datang dari Leg Pertama

Ambrosini juga menekankan bahwa masalah Inter sebenarnya sudah dimulai sejak leg pertama.

“Jika Anda bermain normal di laga tandang, Anda tidak perlu mengejar dua gol di leg kedua.”

Kekalahan awal membuat beban psikologis meningkat di San Siro. Tekanan untuk mencetak dua gol membuat Inter terburu-buru dan kehilangan keseimbangan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*