Legenda hidup Inter Milan, Christian Vieri, kembali mengenang perjalanan kariernya dalam program DAZN Legends Road.
Dalam wawancara tersebut, mantan striker Nerazzurri membahas banyak hal: dari final Liga Champions bersama Juventus, tragedi 5 Mei, hubungan emosional dengan Massimo Moratti, hingga pandangannya soal talenta muda Pio Esposito.
Pernyataan Vieri bukan sekadar nostalgia, melainkan gambaran mendalam tentang tekanan, ambisi, dan mentalitas dalam sepak bola level tertinggi.
Inter vs Juventus: “Itulah Pertandingan Sebenarnya”
Bagi Vieri, duel Inter kontra Juventus sebagai laga paling bergengsi musim ini:
“Itu adalah pertandingan tahun ini. Ada begitu banyak perhatian dan adrenalin. Semua pemain ingin memainkannya,” ujar Vieri.
Ia juga menegaskan betapa spesialnya bermain di San Siro — stadion yang ia sebut sebagai mimpi setiap striker.
“Lalu dimainkan di San Siro, yang merupakan tempat di mana seorang penyerang ingin mencetak gol. San Siro itu seperti lautan tekanan yang bergemuruh, dan bermain di sana adalah mimpi terbesar saya,”
Derby d’Italia memang selalu menghadirkan tensi tinggi, dan bagi pemain seperti Vieri, laga itu adalah panggung utama untuk membuktikan diri.
Luka Final Liga Champions dan Cedera yang Lebih Menyakitkan
Vieri mengakui pernah kehilangan final Liga Champions bersama Juventus, kekalahan yang membuatnya menangis selama tiga pekan.
Namun menurutnya, ada hal yang jauh lebih menyakitkan: cedera lutut yang membuatnya gagal tampil di Piala Dunia ketiga.
“Menang dan kalah adalah bagian dari permainan. Saya pernah kalah di final Liga Champions bersama Juve dan pertandingan itu tidak pernah saya tonton lagi karena saya sangat terpukul, saya menangis selama tiga minggu, tetapi itu memang bagian dari permainan. Masalahnya bukan itu, saat saya benar-benar menderita adalah ketika saya mengalami cedera lutut dan tidak bisa pergi ke Piala Dunia ketiga,”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa bagi seorang atlet, kehilangan kesempatan bermain sering kali lebih berat daripada sekadar kalah di lapangan.
Tragedi 5 Mei dan Pengakuan Recoba
Tanggal 5 Mei 2002 menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Inter, saat Scudetto lepas di pekan terakhir.
Vieri mengungkap percakapannya dengan Alvaro Recoba:
“Mereka masih memikirkannya bahkan setelah 30 tahun. Beberapa hari lalu Recoba berkata kepada saya: ‘Jika bisa kembali ke masa itu, dia akan mengatakan kepada Cuper agar tidak memainkannya sejak awal, tetapi memasukkannya di babak kedua karena kami terlalu terbuka.’ Bayangkan betapa besar kepeduliannya. Kami begitu peduli… mungkin bahkan terlalu peduli,”
Hubungan dengan Moratti
Vieri juga menyoroti hubungannya dengan Massimo Moratti, presiden Inter saat era kejayaannya.
“Hubungan kami dengan Moratti itu tidak normal. Setiap hari saya sering bersama Bedy di Milan. Ketika kami kalah dalam laga persahabatan di pemusatan latihan, dia sampai menangis. Bukan hanya soal memenangkan scudetto, setiap pertandingan terasa sangat berat. Kami kalah di Bologna dan rasanya seperti terjadi sesuatu yang luar biasa. Padahal itu pertandingan yang memang bisa saja kalah. Menurut saya, kami sudah melakukan segalanya dengan benar,”
Ia bahkan menceritakan momen saat membantu membuat kejutan ulang tahun ke-80 Moratti dengan menghadirkan Recoba dan Ronaldo.
“Ketika dia berusia 80 tahun, saya berbicara dengan putranya dan dia berkata kepada saya: ‘Saya ingin membuat pesta ulang tahun kejutan untuk ayah.’ Saya menjawab: ‘Biar saya yang urus.’ Lalu saya mendatangkan Recoba, karena dia sangat menyukai El Chino. Setelah itu saya menelepon Ronaldo dan dia datang, dan di situ sudah terlihat betapa besar rasa sayangnya kepada Moratti,”
“Ronaldo? Pada hari Minggu kamu hanya melihat 10% dari apa yang dia lakukan sepanjang minggu, dia terlalu, terlalu hebat. Orang-orang tidak menyadarinya, yang benar-benar paham hanyalah mereka yang pernah bermain bersamanya. Selain itu, dia juga pribadi yang menyenangkan, selalu tertawa,”
Pio Esposito dan Tekanan di Inter
Vieri juga memberikan pandangan tentang talenta muda Francesco Pio Esposito.
Menurutnya, loncatan dari klub seperti Spezia ke Inter adalah tantangan besar.
“Dia bagus, masih muda. Lompatan dari Spezia ke San Siro, bermain untuk Inter, adalah lompatan yang sangat besar. Kamu harus mencetak gol karena bagaimanapun kamu adalah penyerang ketiga atau keempat. Suatu hari Lautaro dan Thuram tidak bermain, maka kamu yang harus tampil,”
“Usiamu 21 tahun, tetapi kamu tetap harus mencetak gol karena Inter harus memenangkan semua pertandingan. Saat kamu masuk, kamu harus membuat perbedaan. Itu indah, tetapi pada saat yang sama juga membuat stres, tekanannya sangat besar. Kamu tetap harus mencetak gol.”

Leave a Reply