Derby d’Italia kembali menyajikan drama penuh emosi. Juventus sukses mengalahkan Inter Milan 4-3 lewat gol telat Vasilije Adzic pada Sabtu malam (13/9/25) di Allianz Stadium.
Namun, sorotan tajam justru tertuju pada pelatih Inter, Cristian Chivu, yang mendapat kritik pedas dari jurnalis Italia, Alfredo Pedullà.
Menurut Pedullà, kekalahan ini bukan sekadar masalah di lapangan, tetapi juga terkait keputusan taktis dan manajemen skuad yang dinilainya “sulit dipahami”.
Ia bahkan memperingatkan Chivu bisa berakhir seperti Thiago Motta jika tidak segera berbenah.
Inter Milan Kehilangan Fokus di Akhir Laga
Pertandingan berjalan sengit. Inter sempat unggul 3-2 hingga menit ke-80 lewat brace Hakan Calhanoglu dan gol Marcus Thuram.
Namun, dalam sepuluh menit terakhir, Nerazzurri kehilangan konsentrasi. Khephren Thuram menyamakan kedudukan, sebelum Adzic mencetak gol kemenangan di masa injury time.
Bagi Pedullà, situasi ini menegaskan masalah klasik Inter: dominasi penguasaan bola tanpa efektivitas dan lemahnya manajemen momentum.
Kritik Pedullà: Chivu Kalah di Dalam dan di Luar Lapangan
Lewat kanal YouTube miliknya, Pedullà menegaskan bahwa Chivu gagal di dua aspek sekaligus.
“Chivu kalah di dalam dan luar lapangan kemarin. Saya tidak bisa mengatakan di mana letak kesalahannya,” ujar Pedullà.
Ia menyoroti keputusan Chivu menurunkan Manuel Akanji yang baru bergabung, sementara lini tengah yang membutuhkan tenaga segar tidak mendapat prioritas. Pedullà juga menyindir pergantian pemain yang dianggap “terlalu dasar dan tak kreatif”.
“Jika Anda menempatkan Akanji, yang baru saja tiba di lapangan dan kemudian tidak mengandalkan gelandang baru, Anda sudah tidak bisa dipertahankan,”
“Luis Henrique tidak dimainkan, Sucic dimasukkan setelah Zielinski yang kebingungan. Pergantian pemain yang sangat dasar, yang bahkan saya pun bisa lakukan, hanya sekadar tukar peran,”
Ancaman Bernasib Sama dengan Thiago Motta
Pedullà kemudian membandingkan kondisi Chivu dengan Thiago Motta saat melatih Juventus. Kala itu, Bianconeri mengambil risiko menunjuk mantan pemain dengan pengalaman minim, dan hasilnya mengecewakan.
“Inter adalah Inter, dan Chivu harus ingat itu. Jika tidak, dia bisa berakhir seperti Thiago Motta,” tegas Pedullà.
Menurutnya, ekspektasi di klub sebesar Inter jauh lebih tinggi, dan kesalahan elementer bisa berakibat fatal bagi masa depan seorang pelatih muda.
Penguasaan Bola Steril Tak Akan Menangkan Laga
Pedullà menutup analisanya dengan menyebut permainan Inter terlalu pasif meski unggul dalam penguasaan bola.
“Itu hanya penguasaan bola yang steril. Kekalahan ini bukan skandal, tapi Anda menang dengan fokus. Performa bagus tak ada artinya jika hasilnya tetap kalah.”

Leave a Reply