Bek andalan Inter Milan, Alessandro Bastoni, akhirnya memecah kebisuan terkait kontroversi dalam laga panas Derby d’Italia kontra Juventus yang berakhir 3-2 untuk kemenangan Nerazzurri.
Dalam konferensi pers yang dikutip FCInterNews, Bastoni secara terbuka mengakui kesalahannya dalam insiden yang berujung kartu merah bagi Pierre Kalulu.
Namun di saat bersamaan, ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai “kemunafikan dan moralitas palsu” yang muncul pasca pertandingan.
Kronologi Kontroversi: Kartu Merah yang Mengubah Laga
Pertandingan di San Siro itu menjadi momen penting bagi pelatih Cristian Chivu, yang akhirnya mematahkan kutukan laga besar di Serie A. Inter menang dramatis 3-2 berkat gol telat Piotr Zielinski.
Namun sorotan utama justru tertuju pada insiden menjelang turun minum. Bastoni terjatuh di kotak penalti setelah kontak dengan Pierre Kalulu. Wasit Federico La Penna langsung mengeluarkan kartu merah untuk Kalulu, membuat Juventus bermain dengan 10 orang sepanjang babak kedua.
Belakangan, Bastoni mengakui bahwa ia melebih-lebihkan jatuhnya untuk mendapatkan keuntungan.
“Saya ingin berada di sini untuk mengklarifikasi versi kejadian saya,” Bastoni menegaskan.
“Saya telah menjadi orang yang paling banyak dibicarakan selama 48 jam terakhir. Sudah sepatutnya saya berada di sini,”
“Saya merasakan kontak dari Kalulu, dan saya jelas melebih-lebihkan jatuhnya untuk mencoba mendapatkan keuntungan. Saya bisa mengatakan itu tanpa masalah,” ujar Bastoni jujur.
Keputusan tersebut terbukti krusial dalam hasil akhir laga.
Pengakuan Terbuka
Dalam pernyataannya, Bastoni tidak mencari pembenaran. Ia mengakui kesalahan secara gamblang.
“Saya sangat menyesal atas reaksi setelahnya, reaksi yang sangat buruk dari saya, tetapi sangat manusiawi. Dan saya menyesal telah bertindak seperti itu; sudah sepatutnya saya berada di sini hari ini untuk bertanggung jawab,”
Bek berusia 26 tahun itu menegaskan bahwa satu insiden tidak seharusnya mendefinisikan seluruh kariernya yang telah mencatat lebih dari 300 pertandingan profesional.
Namun, ia juga menyayangkan gelombang kritik berlebihan yang muncul.
“Tetapi sama benarnya bahwa karakter saya tidak ditentukan oleh satu insiden saja. Saya sudah memimpin lebih dari 300 pertandingan, dan ini pertama kalinya ada yang membicarakan saya setelah kejadian seperti ini,”
“Saya melihat banyak kebohongan, banyak kemunafikan, dan moralitas palsu. Banyak orang berbicara tanpa dasar yang jelas.”
Teror dan Ancaman: Dampak di Luar Lapangan
Kontroversi ini ternyata berbuntut serius di luar lapangan. Bastoni mengungkapkan bahwa istrinya menerima ancaman pembunuhan serta pesan kebencian di media sosial.
Ia juga menyampaikan simpati kepada wasit La Penna yang turut menjadi sasaran amarah publik.
“Saya bisa menghadapinya. Tapi istri dan anak saya tidak. Mereka menerima ancaman yang benar-benar di luar batas,”
“Dan saya turut berduka cita untuk La Penna, yang menderita hal yang sama,”
Fenomena ini kembali menyoroti sisi gelap sepak bola modern, di mana tekanan media sosial bisa melampaui batas kewajaran.
Mental Tetap Kuat, Siap Kembali Bertarung
Meski diterpa badai kritik, Bastoni menegaskan kondisi mentalnya tetap stabil.
“Secara mental saya baik-baik saja. Saya siap bermain. Saya tidak melemah secara mental maupun fisik,”
Ia bahkan membandingkan situasi ini dengan insiden lain di kompetisi Eropa yang menurutnya tidak mendapatkan sorotan sebesar yang ia alami.
“Hal yang sama terjadi sebaliknya ketika penalti diberikan kepada Liverpool tetapi Wirtz tidak mengalami tuduhan yang saya alami,”
“Chivu konsisten, saya mengatakan ini karena dia telah dikritik karena mengatakan hal-hal ini. Sekarang saya benar-benar ingin turun ke lapangan,”
Bastoni kini ingin fokus kembali ke lapangan dan membantu Inter menjaga momentum dalam perburuan gelar.
“Saya tidak lemah secara mental maupun fisik, jadi saya siap bermain. Karena itu, saya siap bermain.”

Leave a Reply