Adani Kritik Derby Milan: “Handball Ricci Jelas Penalti, Tapi Pertandingannya Sangat Buruk”

Mantan bek Inter Milan, Daniele Adani melontarkan kritik tajam setelah Derby panas pekan ke-28 Serie A 2025-26 antara AC Milan vs Inter Milan yang berakhir dengan kemenangan Rossoneri 1-0.

Berbicara dalam program televisi olahraga terkenal La Domenica Sportiva, Adani tidak hanya menyoroti kualitas pertandingan yang menurutnya jauh dari kata menarik, tetapi juga membahas kontroversi dugaan handball yang melibatkan gelandang Milan, Samuele Ricci.

Menurut Adani, keputusan tidak memberikan penalti kepada Inter dalam situasi tersebut merupakan kesalahan yang sangat jelas.

Adani: Inter Tetap Tim Terkuat di Italia

Dalam analisanya, Adani terlebih dahulu menyoroti dinamika sepak bola Italia. Ia menilai bahwa sering kali tim yang menang bukan selalu tim terkuat, melainkan tim yang tampil lebih efektif pada saat tertentu.

Ia mencontohkan bagaimana Stefano Pioli pernah membawa Milan meraih gelar, serta keberhasilan Luciano Spalletti bersama Napoli.

“Penggemar sepak bola memiliki ingatan yang pendek: sering kali yang menang adalah mereka yang memang pantas menang, dan tidak selalu tim yang paling kuat, seperti AC Milan asuhan Pioli dan Napoli asuhan Spalletti,” ujar Adani.

Namun menurutnya, dalam konteks kualitas permainan secara keseluruhan, Inter masih merupakan tim paling kuat di Italia saat ini.

“Inter adalah tim yang paling kuat dan telah membuktikannya di Italia berkat kualitas permainan yang mereka tampilkan,”

Meski demikian, Adani menilai derby kali ini justru jauh dari kualitas yang diharapkan.

“Tapi derby ini sangat buruk, dan saya punya alasan untuk mengatakan itu,”

Kontroversi Handball Ricci

Salah satu momen yang paling diperdebatkan dalam pertandingan tersebut adalah insiden handball yang melibatkan Samuele Ricci di area penalti.

Adani menilai situasi tersebut seharusnya menghasilkan penalti bagi Inter.

Menurutnya, insiden itu bahkan lebih jelas dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi dalam pertandingan Genoa sebelumnya.

“Handball Ricci? Insiden ini bahkan lebih jelas dibandingkan yang terjadi di Genoa. Itu adalah tembakan keras ke arah gawang dari jarak dua meter, di sini juga kira-kira dua meter, tetapi bahkan jika Anda mencoba menarik tangan, gerakannya tetap menuju bola,”

Ia menegaskan bahwa keputusan penalti seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

“Penalti itu tidak perlu didiskusikan. Itu jelas,”

Kritik terhadap Kerja Sama Wasit dan VAR

Selain insiden tersebut, Adani juga menyoroti masalah komunikasi antara wasit dan teknologi VAR.

Menurutnya, masalah utama bukan hanya pada keputusan akhir, tetapi pada kurangnya koordinasi antara wasit di lapangan dan tim VAR.

Adani menggambarkan situasi tersebut sebagai tidak konsisten: kadang terlalu banyak intervensi, kadang justru tidak ada sama sekali.

“Tidak ada kolaborasi yang tepat antara wasit dan VAR. Kadang terlalu banyak campur tangan, kadang malah diam. Padahal ini adalah keputusan yang bisa mengubah jalannya musim,”

Dalam pandangan Adani, VAR seharusnya menjadi alat untuk membantu wasit mengambil keputusan yang lebih akurat, bukan menciptakan kebingungan baru.

Ia menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak harus selalu digunakan untuk membatalkan keputusan, tetapi setidaknya memberi kesempatan bagi wasit untuk meninjau ulang momen penting.

“VAR adalah sahabat terbaik wasit. Tidak harus selalu memanggil untuk membalikkan keputusan, tetapi memberi waktu untuk melihat ulang situasi.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*