
Kekalahan 3-0 Feyenoord dari Inter Milan pada matchday 4 Liga Champions 2026-27 memicu sorotan tajam dari analis sepak bola Belanda.
Duo pundit ESPN Olanda, Karim El Ahmadi dan Kees Kwakman, secara terbuka menyebut pertandingan tersebut menunjukkan kesenjangan kualitas yang masif antara skuad asuhan Cristian Chivu dan wakil Eredivisie, terutama dalam aspek kedisiplinan pertahanan dan keunggulan duel fisik.
Dominasi Duel Fisik dan Kesalahan Fatal Feyenoord
Bagi mantan gelandang Feyenoord, Karim El Ahmadi, Inter Milan menunjukkan efisiensi dan kekejaman di lini belakang. Skuad Nerazzurri memenangkan hampir seluruh duel krusial yang menentukan arah pertandingan.
“Mereka terlihat seperti pria dewasa yang bermain melawan anak-anak,” ungkap El Ahmadi.
“Semua duel yang benar-benar penting dimenangkan oleh para pemain Inter. Mereka melakukannya dengan sangat baik dan sangat konkret. Di lini belakang, mereka tampil tanpa ampun,”
El Ahmadi membedah secara spesifik proses terciptanya gol pertama Inter yang mengekspos rentetan kesalahan para pemain Feyenoord:
- Kekalahan Duel Awal: Proses bermula ketika Hadj Moussa yang menerima umpan dari Read gagal memenangkan duel perebutan bola.
- Kegagalan Antisipasi Lanjutan: Valente turut kalah dalam tekel krusial di area permainan.
- Hilangnya Konsentrasi Taktikal: Marcos López terlalu fokus mengikuti pergerakan bek sayap Inter tanpa memperhatikan sekelilingnya, sehingga memberi ruang tembak terbuka yang berujung pada gol indah Inter.
Statistik Menipu dan Pelajaran Bertahan untuk Klub Belanda
Kees Kwakman menyoroti bahwa penguasaan bola dan angka statistik dalam pertandingan ini tidak menceritakan dominasi Inter yang sebenarnya.
“Jika Anda melihat statistik, seolah-olah Inter tidak terlalu superior. Namun jika Anda benar-benar menonton pertandingannya, satu-satunya momen Feyenoord menciptakan ancaman adalah sesaat sebelum gol kedua (2-0). Selebihnya, Anda tidak pernah merasa Inter benar-benar berada dalam kesulitan,” jelas Kwakman.
Gaya bermain khas Italia yang diterapkan Inter menjadi bahan pembelajaran penting. El Ahmadi menekankan bahwa membiarkan lawan menguasai bola adalah bagian dari taktik jebakan.
Klub-klub Belanda dinilai harus belajar dari cara Inter Milan menerapkan sistem pertahanan zona.
Ketika Inter turun bertahan dengan lima pemain belakang, mereka menjaga posisi secara presisi. Begitu momen duel tiba, pemain Inter langsung mengeksekusi dan memenangkan perebutan bola tersebut.
Kesenjangan Kualitas Tanpa Kehadiran Pilar Utama
Feyenoord kehilangan identitas permainannya dalam laga ini. Kecepatan eksekusi dan umpan satu-dua sentuhan yang biasanya menjadi andalan serangan mereka tidak berjalan karena terus-menerus kehilangan penguasaan bola.
Kwakman menyimpulkan bahwa hasil ini murni karena perbedaan kualitas mutlak antara kedua tim.
Agar Feyenoord memiliki peluang, mereka harus bermain di level puncak sekaligus berharap Inter tampil sangat buruk. Kenyataannya, Inter tampil solid dan Feyenoord berada di bawah standar.
Tidak ada hal yang perlu membuat Feyenoord merasa malu atas kekalahan ini. Status Inter Milan memang berada satu level di atas mereka. Superioritas Nerazzurri ini bahkan diraih saat mereka tampil pincang tanpa kehadiran pilar-pilar utama di skuad, seperti Alessandro Bastoni dan Lautaro Martinez.

Leave a Reply